Pengantar Redaksi: Pembaca yang budiman, sebuah kehormatan bagi Berita Iptek.com dapat menyajikan catatan perjalanan Dr. Arief B. Witarto, salah seorang peserta delegasi Indonesia, yang hadir dalam Lindau Meeting. Pertemuan ilmiah para peneliti muda seluruh dunia dengan para penerima Hadiah Nobel yang diadakan di kota Lindau, berlangsung sejak 26 Juni hingga 1 Juli 2005. Berita Iptek.com mendapat izin untuk mempublikasikan ulang catatan perjalanan tersebut secara berseri. Naskah diambil dari forum Jaringan Peneliti Bioteknologi Indonesia dan telah mengalami proses pengeditan seperlunya. Selamat menikmati.**
Hari Ahad tepat jam 11 pagi, kami berlima datang di kota Lindau setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam, ditambah beda waktu 5 jam dengan Jakarta. Suasana kota yang indah dan penuh kegairahan, menjadi penghibur kami yang kelelahan dan mengantuk.
Berjalan kaki 400 meter dari stasiun Lindau ke Insehalle atau pusat kongres tempat panitia berada untuk pendaftaran, selanjutnya kami masuk ke hotel yang telah disediakan juga oleh panitia dengan jarak tak jauh dari stasiun. Jadi sempat olahraga dulu jalan kaki pulang-pergi antara stasiun dan Insehalle, lumayan.
Setelah mandi, melihat-lihat, dan membaca orientasi, kami makan siang dengan voucher makan yg disediakan panitia. Rupanya tidak semua orang Jerman bisa berbicara bahasa Inggris, sehingga pemilik restoran harus dibantu resepsionis hotel untuk minta dijelaskan kegunaan voucher tersebut.
Acara pertama hari ini adalah pembukaan di Inter Insehalle. Ruangan pertemuan sangat besar, mampu menampung peserta dengan total jumlah kira-kira 700 orang yang terdiri dari peneliti muda dan mahasiswa, bahkan ruangan masih terlihat kosong. Rupanya acara di Jerman ada kemiripan dengan acara di Indonesia dengan acara pembukaaan yang panjang. Ada perbedaannya antara lain, sangat efisien dan tidak ada pembawa acara. Acara langsung dibuka oleh ketua panitia yang berbicara panjang lebar dan akhirnya ditutup juga oleh dirinya sendiri. Ketua panitianya adalah Pangeran Bernadotte, yang tak lain adalah putra dari Raja Bernadotte yang 55 tahun lalu memulai pertemuan Penerima Hadiah Nobel ini.
Setelah pembukaan dari ketua panitia, pembukaan oleh wakil walikota Lindau, menteri ristek, dan seterusnya sampai sambutan perwakilan dari International Council for Science yaitu Prof. Dr. Thomas Rosswall. Ada yang menarik bagi saya, satu kalimat penutup yang disampaikan beliau diakhir ceramahnya Follow your curiosity with passion and learn from your senior scientists with enthusiasm (Ikuti keingintahuan anda dengan kuat dan belajarlah dari ilmuan senior dengan penuh antusias). Dalam pikiran saya, asyik juga rasanya kalau bisa seperti itu mulai besok.
Rupanya dari 55 tahun perjalanan pertemuan ini, pertemuan tahun ini adalah pertemuan kedua setelah tahun 2000, diadakan dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu (interdisipliner). Jadi kami merasa sangat beruntung bisa hadir dan berkumpul dengan sejumlah penerima hadiah Nobel dari bidang Kimia, Fisika, dan Kedokteran. Selanjutnya Prof. Thomas juga menambahkan contoh penemuan besar dalam sejarah Nobel yang melahirkan bidang interdispliner tersebut adalah yaitu Hadiah Nobel tahun 1964 untuk bidang kimia dan kedokteran. Penelitiannya ahli kimia dan menggunakan teori fisika, sehingga bisa membuka dunia baru Biologi Kedokteran seperti Perutz dan Watson et al. Jadi kunci ilmu masa depan adalah interdisipliner, maka sering dan perbanyaklah berinteraksi dan berdiskusi dengan para ilmuwan dari bidang lain, demikian ujarnya.
Sore hari, ada undangan dari National Science Foundation Oak Ridge untuk menghadiri acara silaturahim dengan peserta dari negara-negara lain. Kebetulan saya dan Dr. Anto duduk satu meja dengan seorang Doktor bidang high performance computing dari Amerika, dua orang mahasiswi Doktor kimia dan kriptologi dari Israel dan satu orang mahasiswi Doktor kimia dari Jerman. Setelah acara perkenalan tentang masing-masing negara, dan sebagainya, mulailah pembicaraan mengarah seputar pekerjaan/penelitian. Saya yang selama ini bekerja dengan rekayasa protein enzim glukosa dehidrogenase untuk alat ukur gula darah, baru pertama kali ini melihat secara langsung pasien diabetes menggunakannya di depan mata sendiri. Rupanya Doktor Amerika itu penderita diabetes dan minta ijin menyuntikkan insulin di perutnya, sambil kita makan bersama. Senang juga melihat ada manfaat dari penelitian saya digunakan oleh orang secara langsung, tidak sekedar di atas paper saja.
Sepertinya tidak hanya di Indonesia saja jika ada acara pertemuan/silaturahmi yang dihadiri oleh para ilmuan, pembicaraan bisa melebar kemana-mana. Hal itu juga yang saya alami pada pertemuan kali ini. Berhubung sudah jam 21:00 waktu setempat jadi sudah lebih dari 24 jam kami tidak istirahat sejak berangkat dari Jakarta, akhirnya kami pamit duluan sebelum acara silaturahmi selesai.
Demikian laporan perjalanan di hari pertama. Terakhir, keyboard komputer Jerman, huruf y-nya dibawah, sehingga sering tertukar dengan dengan huruf z. Mudah-mudahan bisa disambung pada hari berikutnya dari warnet dekat hotel.
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya
Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance. Arsip lalu