Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801073
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 12 pengunjung online
Hari ini 3969 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Jumat, 1 Juli 2005 00:03:04
Catatan Perjalanan - Bidang Aktifitas Iptek

Hari ini, Senin jam 9 pagi, mungkin orang Jerman termasuk golongan tell me why I don't like Monday, sepanjang perjalanan menuju Insehalle, terlihat jalanan masih sepi sekali. Begitu sampai di Insehalle acara sudah dimulai. Kegiatan yang akan saya ikuti kali ini adalah:

1. Ceramah umum oleh Prof. Aaron Ciechanover (Kimia 2004) dari Haifa Israel selama 30 menit.

2. Diskusi Panel topik Evolusi selama 2 jam dengan panelis yang terdiri dari;

a. Prof. Werner Arber (Kedokteran 1978).
b. Prof. Christian de Duve (Kedokteran 1974).
c. Prof. Manfred Eigen (Kimia 1967).
d. Prof. John B. Fenn (Kimia 2002).
e. Prof. Masatoshi Kosiba (Fisika 202).
f. Prof. Rudolph Marcus (Kimia 1992).
g. Prof. Martinus Veltman (Fisika 1999).

3. Ceramah umum Prof. Robert Richardson (Fisika 1996) selama 30 menit

4. Ceramah umum Prof. Kurt Wuthrich (Kimia 2002) selama 30 menit.

5. Istirahat siang

6. Pilihan 7 ceramah khusus dan saya memilih yang sesuai dengan bidang saya (rekayasa protein) yaitu: Ceramah oleh Prof. Aaron Klug (Kimia 1982) selama 2 jam.

Secara umum, hari ini saya merasa sangat puas karena 3 pembicara yg saya ikuti adalah para suhu atau pakar bidang studi protein yang saya geluti selama ini.

Yang pertama, Prof. Aaron, memaparkan penemuannya tentang proses ubiquitinasi untuk menandai protein rusak yang harus dihancurkan. Pernah saya membuat tulisan populer ketika diumumkan jadi penerima Hadiah Nobel. Tapi memang beda sekali kalau penemunya sendiri yang bercerita. Relatif masih muda dibanding penerima yang lain, ceritanya bersemangat, hampir tanpa istirahat tarik nafas (mungkin waktu 30 menit cukup singkat) dan sangat memikat. Sayangnya beliau tidak banyak bercerita tentang arah penelitian ini untuk masa yang akan datang.

Diskusi panel kali ini dipandu dengan sangat menarik sekaligus humoris oleh Prof. Anders Barany. Memang, penemuan Hadiah Nobel banyak menyingkap rahasia besar ilmu pengetahuan. Tapi rahasia terbesar tidak lain adalah evolusi. Sehingga panitia kelihatannya berusaha memancing diskusi para peneliti muda dengan memberikan pandangan para senior-senior ilmuwan dari berbagai bidang Biologi dan Kimia (4 pembicara utama) dan Fisika (3 terakhir). Walau demikian nampaknya tidak semua sepakat bahwa aspek evolusi bisa dilihat dari kacamata 3 bidang ilmu besar ini, yang paling menonjol adalah pendapat biologi-kimia.

Prof. Koshiba yang ahli neutrino mengatakan panitia salah alamat, menunjuk beliau berbicara tentang evolusi. Walau masih juga memberikan informasi bahwa perkembangan iptek telah mungkin menyingkap kejadian detik-detik awal big bang. Yang menarik selama diskusi tentang evolusi adalah komentar-komentar, atau mungkin lebih tepatnya disebut celotehan para sesepuh ini. Misalnya Prof. Koshiba yang diawal pembicaraannya memulai dengan mengatakan, saya berpesan untuk generasi peneliti muda jangan ada yang meneliti neutrino, nanti tidak akan kaya dan tidak akan terkenal. Pernyataan beliau langsung mendapat cecaran pertanyaan dari peserta. Apakah anda cemburu? Yang disambut riuh rendah peserta. Termasuk juga pertanyaan terakhir, apakah evolusi ada batasnya, termasuk masalah usia? Prof. Arber dengan menjawab singkat, kalau mau panjang umur, makan sedikit saja.

Sesi ke-3 diisi Prof. dari Cornell University dengan topik Examples of Multi-disciplinary Research yang ternyata (hanya) bercerita tentang aktivitis di kampusnya yang mendorong supaya terjadi kerjasama multidisplin yang erat. Jadi strateginya Cornell University merangsang hal-hal tersebut dengan mendirikan banyak fasilitas yang dapat digunakan bersama untuk riset-riset lintas bidang. Beliau mencontohkan synchotron untuk partikel fisik sekaligus untuk kristalografi sinar X (diketahui MacKinnon mendapat struktur tiga dimensi ion channel di sini).

Setelah itu, ada satu sesi yang saya tunggu-tunggu. Mengapa ? Karena ketika diminta mengisi motivasi apa dalam mengikuti pertemuan ini, yang menjadi salah satu bahan seleksi, saya menulis seperti ini.

I want to discuss specifically about my specialization on protein engineering. Brain-related diseases such as Parkinson, vCJD or BSE, Alzheimer etc are caused by proteins, which naturally occur in our brain. Interestingly many of those proteins are belongs to newly emerged class of proteins called natively unfolded protein such as alfa-synuclein, prion, beta-amyloid etc. Their native functions still unclear. On the other hand, we learned that proteins have hierarchical structures from primary to quaternary. Then, these important proteins may not follow classical concept of protein structure. What will be the future of protein structure determination in relation to this phenomenon? I want to discuss this problem with DR. Koichi Tanaka and DR. Kurt Wuthrich whom received Nobel Prize in Chemistry 2002 for the development of methods for identification and structure analyses of proteins.

Ceramahnya sih, biasa-biasa saja. Cenderung kurang menarik dibanding yang lain karena menggunakan slide film bukan powerpoint, jadi gambarnya agak kusam. Tapi cara menjelaskan seperti apa protein dengan ikat pinggangnya, yang sebelumnya juga digunakan untuk menjelaskan seperti apa genom (seperti pesulap saja), memberikan inspirasi bagaimana menjelaskan hal sulit dengan barang yg ada di sekeliling kita.

Yang paling menggembirakan, pada istirahat siang, saya mendapat kesempatan bertemu langsung. Beberapa peserta dari India (yang juga penelitian tentang protein), sudah mengelilinginya tapi ternyata cuma mau ngajak foto bareng! Saya bersyukur sempat menanyakan persis seperti hal diatas.

Setelah makan siang yang kali ini kami berlima di traktir ibu staf KBRI Berlin yang hadir sebagai undangan, makan nasi goreng di restoran China.

Selanjutnya, saya mengikuti ceramah terakhir. Ceramah ini dilakukan bukan lagi di gedung Insehalle tapi di gedung Balai Kota. Lumayan juga karena biasanya turis tidak boleh sightseeing di tempat ini. Pilihan saya ternyata banyak yang mengikuti karena dari dua pembicara di tempat yg sama, hampir dua kali lipat jumlah peserta memilih mbah guru Aaron Klug yang sudah sepuh.

Walau demikian, jangankan pikun, masih berapi-api berbicara selama dua jam tanpa berhenti tentang topik riset barunya, yang dimulai setelah mendapat Nobel. Jadi banting setir, sebelumnya riset tentang kristalografi dua dimensi dan penentuan struktur protein dengan cryo-electron microscopy, sekarang ke zinc-finger sampai aplikasinya. Walau masih berenergi besar, mungkin karena turunan ningrat (bergelar Sir) dan sudah sepuh, berbicaranya agak pelan, kurang se-atraktif seperti yang muda-muda (Prof. Ciechanover dan Prof. Wuthrich). Kalau bicara yang teknis, pikir saya baca paper juga bisa. Mungkin malah lebih jelas. Apalagi beberapa kolega saya di Jepang ada yang meneliti mengenai protein ini juga. Sayang waktunya mepet, mudah-mudahan besok ada waktu untuk bertanya, kenapa banting setir penelitian?

Lindau-Jerman, Senin 27 Juni 2005, 17:30


  Diskusi (percobaan)
dibaca 1017 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy