Pertama-tama, saya ingin menceritakan pengalaman hari sebelumnya menjelang malam (walau masih terang benderang) pada hari Senin, 27 Juni 2005, beberapa saat setelah mengirim email cerita sebelumnya. Acara malam itu diisi oleh jamuan makan malam di gedung
Inselhalle. Panitia dari awal sudah mengumumkan untuk memakai pakaian wajib non-formal, kaget juga, biasanya orang malah senang memamai pakaian yang rapi, kata-kata spontan keluar dari saya. Walau demikian, karena sebagai duta Indonesia (berat sekali beban sebagai duta itu), kami berlima, akhirnya memakai baju resmi ala Indonesia yaitu batik. Terlihat rekan-rekan dari Malaysia kelihatannya hanya memakai baju bebas saja.
Meja-meja sudah ditata dan diberikan nama penerima Hadiah Nobel siapa yang akan duduk di situ. Selanjutnya peserta bebas dipersilakan duduk di mana saja, mencari posisi dekat dengan penerima Hadiah Nobel. Saya duduk di meja Prof. Brian Josephson (Fisika 1973), agar sesuai dengan tema pertemuan kali ini yaitu Interdisiplin. Walau demikian, kenyataannya banyak peserta lainnya yang kelihatan seenaknya saja berpindah-pindah posisi setelah dirasa cukup mengobrol dengan tokohnya. Asyiknya pada acara ini, suasana sangat non-formal dan terkesan sangat akrab, obrolan-obrolan yang tidak pernah muncul di paper, media dan sebagainya, bisa didengar dari para penerima Nobel.
Selanjutnya, ini adalah catatan hari ke-3, Selasa.
Kali ini acara yang saya ikuti adalah:
09:00-09:30, Ceramah umum Prof. David Gross (Fisika 2004) judul The
Future of Physics.
09:30-11:30, Diskusi panel judul
Biology in the post-genome era dengan panelis yang terdiri dari :
a. Prof. Gunter Blobel (Kedokteran 1999).
b. Prof. Aaron Klug (Kimia 1982).
c. Prof. Christiane Nusslein-Volhard (Kedokteran 1995).
d. Prof. Hamilton Smith (Kedokteran 1978).
e. Prof. Kurt Wuthrich (Kimia 2002).
11:30-12:00 Ceramah umum Prof. Riccardo Giacconi (Fisika 2002) dengan judul
Interaction between Basic and Applied Research.
12:00-12:30 Ceramah umum Prof. Peter Mansfield(Kedokteran 2003) judul
Real Time MRI: Echo-Planar Imaging.
12:30-13:00 Ceramah umum Prof. Manfred Eigen (Kimia 1967) judul
What is Life-now.
Sedangkan untuk ceramah pilihan, saya menghadiri ceramah oleh Prof. Kary Mullis (Kimia 1993) dengan judul
Altermune: Chemically Programmable immunity.
Ceramah pertama ini agak sulit dipahami karena tidak tersedia absrak oleh Prof Gross, yang seharusnya dibuat oleh masing-masing presenter. Yang saya tangkap, menurut beliau ada 25 topik besar fisika masa depan, disarikan menjadi 20-an topik, terbatasnya waktu presentasi yang seharusnya 60-90 menit, diringkas hanya menjadi 30 menit. Dari 20-an topik tersebut, cuma pada bagian-bagian akhir saja yang dapat saya tangkap, antara lain menyebut theoretical biology seperti astrophysics, dan sebagainya. Mohon maaf saya kehilangan waktu 30 menit karena tidak paham apa yang disampaikan. Para pakar fisika mungkin akan tertarik kalau mendengar rekamanannya nanti.
Diskusi panel kali ini membahas topik-topik yang sedang trend buat penggiat biotek. Fotonya saya lampirkan agar ada bayangan seperti apa pelaksanaannya.
Gambar. Diskusi panel para penerima Hadiah Nobel (by Arief B. Witarto)
Diskusi yang menarik tidak ditunjang oleh kepiawaian moderator dalam memimpin diskusi. Diskusi dimoderatori oleh Prof. Hans Jornvall dan Prof. Helmut Sies. Beberapa , pertanyaan menarik yang disampaikan oleh peserta hanya dikelompokkan, kemudian dimintakan pendapat dari panelis, tanpa terlebih dahulu diarahkan agar sesuai dengan topik. Sepertinya diskusi yang berkembang, agak kurang sesuai dengan topiknya. Sebagai contoh, pertanyaan yang paling banyak adalah masalah etika.
Secara umum tidak terlalu istimewa karena sudah banyak dibahas di tempat-tempat tersendiri. Cuma ada hal yang menjadi menarik karena di sini panelisnya kebetulan mayoritas berasal dari Eropa dengan latar belakang aturan etika berbeda-beda. Prof. Christine misalnya menyampaikan keluhannya tentang aturan-aturan di negaranya Jerman yang ketat mengenai eksperimen kloning, misalnya adanya penangkapan bila ada peneliti yang mencoba mengadakan penelitian tentang topik tersebut. Lain negara lain aturan, di Jerman dilarang, sedangkan di Inggris sampai umur 14 hari atau 12 hari (maaf agak lupa), embrio masih bisa digunakan untuk eksperimen.
Prof. Wuthrich yang berasal Swiss menimpali dengan menceritakan pengalaman sama di negaranya yaitu adanya referendum tentang aturan-aturan penelitian seputar kloning dan rekayasa genetik dibolehkan atau tidak. Hampir saja lolos referendum untuk tidak membolehkan riset, untungnya riset itu akhirnya diperbolehkan. Terakhir, Prof. Blobel dari Amerika seperti mau menghibur para koleganya dengan bercerita bahwa di Amerika pun, antara negara bagian satu dengan negara bagian lain-nya juga terdapat perbedaan. Kalau riset yang dananya dari pemerintah, tidak diperbolehkan tapi jika dari swasta boleh. Jadi orang-orang hebat sekelas mereka pun masih bisa mengeluh hemat saya. Akhir diskusi para presenter sepakat akan pentingnya promosi dan sosialisasi hasil penelitian bukan hanya kepada masyakarat umum, tetapi juga kepada para politisi. Apalagi kita di Indonesia, bukan?
Lindau-Jerman, Selasa 28 Juni 2005, 17:15 (bagian ke-1)