Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801107
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 12 pengunjung online
Hari ini 4003 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Sabtu, 9 Juli 2005 00:02:32
Catatan Perjalanan - Bidang Kebijakan Iptek

Pertama-tama, saya ingin menceritakan pengalaman hari sebelumnya menjelang malam (walau masih terang benderang) pada hari Senin, 27 Juni 2005, beberapa saat setelah mengirim email cerita sebelumnya. Acara malam itu diisi oleh jamuan makan malam di gedung Inselhalle. Panitia dari awal sudah mengumumkan untuk memakai pakaian wajib non-formal, kaget juga, biasanya orang malah senang memamai pakaian yang rapi, kata-kata spontan keluar dari saya. Walau demikian, karena sebagai duta Indonesia (berat sekali beban sebagai duta itu), kami berlima, akhirnya memakai baju resmi ala Indonesia yaitu batik. Terlihat rekan-rekan dari Malaysia kelihatannya hanya memakai baju bebas saja.

Meja-meja sudah ditata dan diberikan nama penerima Hadiah Nobel siapa yang akan duduk di situ. Selanjutnya peserta bebas dipersilakan duduk di mana saja, mencari posisi dekat dengan penerima Hadiah Nobel. Saya duduk di meja Prof. Brian Josephson (Fisika 1973), agar sesuai dengan tema pertemuan kali ini yaitu Interdisiplin. Walau demikian, kenyataannya banyak peserta lainnya yang kelihatan seenaknya saja berpindah-pindah posisi setelah dirasa cukup mengobrol dengan tokohnya. Asyiknya pada acara ini, suasana sangat non-formal dan terkesan sangat akrab, obrolan-obrolan yang tidak pernah muncul di paper, media dan sebagainya, bisa didengar dari para penerima Nobel.

Selanjutnya, ini adalah catatan hari ke-3, Selasa.

Kali ini acara yang saya ikuti adalah:

09:00-09:30, Ceramah umum Prof. David Gross (Fisika 2004) judul The Future of Physics.

09:30-11:30, Diskusi panel judul Biology in the post-genome era dengan panelis yang terdiri dari :

a. Prof. Gunter Blobel (Kedokteran 1999).
b. Prof. Aaron Klug (Kimia 1982).
c. Prof. Christiane Nusslein-Volhard (Kedokteran 1995).
d. Prof. Hamilton Smith (Kedokteran 1978).
e. Prof. Kurt Wuthrich (Kimia 2002).

11:30-12:00 Ceramah umum Prof. Riccardo Giacconi (Fisika 2002) dengan judul Interaction between Basic and Applied Research.

12:00-12:30 Ceramah umum Prof. Peter Mansfield(Kedokteran 2003) judul Real Time MRI: Echo-Planar Imaging.

12:30-13:00 Ceramah umum Prof. Manfred Eigen (Kimia 1967) judul What is Life-now.

Sedangkan untuk ceramah pilihan, saya menghadiri ceramah oleh Prof. Kary Mullis (Kimia 1993) dengan judul Altermune: Chemically Programmable immunity.

Ceramah pertama ini agak sulit dipahami karena tidak tersedia absrak oleh Prof Gross, yang seharusnya dibuat oleh masing-masing presenter. Yang saya tangkap, menurut beliau ada 25 topik besar fisika masa depan, disarikan menjadi 20-an topik, terbatasnya waktu presentasi yang seharusnya 60-90 menit, diringkas hanya menjadi 30 menit. Dari 20-an topik tersebut, cuma pada bagian-bagian akhir saja yang dapat saya tangkap, antara lain menyebut theoretical biology seperti astrophysics, dan sebagainya. Mohon maaf saya kehilangan waktu 30 menit karena tidak paham apa yang disampaikan. Para pakar fisika mungkin akan tertarik kalau mendengar rekamanannya nanti.

Diskusi panel kali ini membahas topik-topik yang sedang trend buat penggiat biotek. Fotonya saya lampirkan agar ada bayangan seperti apa pelaksanaannya.



Gambar. Diskusi panel para penerima Hadiah Nobel (by Arief B. Witarto)

Diskusi yang menarik tidak ditunjang oleh kepiawaian moderator dalam memimpin diskusi. Diskusi dimoderatori oleh Prof. Hans Jornvall dan Prof. Helmut Sies. Beberapa , pertanyaan menarik yang disampaikan oleh peserta hanya dikelompokkan, kemudian dimintakan pendapat dari panelis, tanpa terlebih dahulu diarahkan agar sesuai dengan topik. Sepertinya diskusi yang berkembang, agak kurang sesuai dengan topiknya. Sebagai contoh, pertanyaan yang paling banyak adalah masalah etika.

Secara umum tidak terlalu istimewa karena sudah banyak dibahas di tempat-tempat tersendiri. Cuma ada hal yang menjadi menarik karena di sini panelisnya kebetulan mayoritas berasal dari Eropa dengan latar belakang aturan etika berbeda-beda. Prof. Christine misalnya menyampaikan keluhannya tentang aturan-aturan di negaranya Jerman yang ketat mengenai eksperimen kloning, misalnya adanya penangkapan bila ada peneliti yang mencoba mengadakan penelitian tentang topik tersebut. Lain negara lain aturan, di Jerman dilarang, sedangkan di Inggris sampai umur 14 hari atau 12 hari (maaf agak lupa), embrio masih bisa digunakan untuk eksperimen.

Prof. Wuthrich yang berasal Swiss menimpali dengan menceritakan pengalaman sama di negaranya yaitu adanya referendum tentang aturan-aturan penelitian seputar kloning dan rekayasa genetik dibolehkan atau tidak. Hampir saja lolos referendum untuk tidak membolehkan riset, untungnya riset itu akhirnya diperbolehkan. Terakhir, Prof. Blobel dari Amerika seperti mau menghibur para koleganya dengan bercerita bahwa di Amerika pun, antara negara bagian satu dengan negara bagian lain-nya juga terdapat perbedaan. Kalau riset yang dananya dari pemerintah, tidak diperbolehkan tapi jika dari swasta boleh. Jadi orang-orang hebat sekelas mereka pun masih bisa mengeluh hemat saya. Akhir diskusi para presenter sepakat akan pentingnya promosi dan sosialisasi hasil penelitian bukan hanya kepada masyakarat umum, tetapi juga kepada para politisi. Apalagi kita di Indonesia, bukan?

Lindau-Jerman, Selasa 28 Juni 2005, 17:15 (bagian ke-1)

  Diskusi (percobaan)
dibaca 1182 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy