Adanya pertanyaan yang menggelitik (yang saya maksud adalah pertanyaan-pertanyaan yang mendapat sambutan tepuk tangan, tawa, dan respon lainnya dari peserta) adalah prediksi genetik. Jadi kabarnya genom dinosaurus T-rex sudah terbaca, lalu informasi apa yang kita dapatkan dari sini?
Kalau yang lainnya menjawab secara normatif, misalnya tinggal dibandingkan dengan genom reptil, maka Prof. Wuthrich mengeluarkan jurus proteinnya. Kalau sekarang ini saja, ilmuwan belum bisa memprediksi dengan tepat, perubahan struktur dan fungsi apa terhadap modifikasi pasca translasi pada protein (glikosilasi, fosforilasi,dan sebagainya), maka ada logika yg melompat kalau kita berharap bisa memprediksi fungsi, bentuk dan lainnya dari satu makhluk hidup hanya dari sekuen DNA-nya, ujarnya. Karena protein justru adalah molecular action, sementara DNA hanyalah molecular information.
Jadi beliau menyarankan kepada peneliti-peneliti muda untuk memperbanyak kesempatan mengerjakan riset prediksi protein dulu. Mungkin kalau struktur 3D sudah mulai established (ada olimpiade protein untuk itu), maka selanjutnya lebih meningkat sampai modifikasi pasca translasi. Nah, siapa mau jadi penerima Nobel berikutnya ?
Karena semua pembicara adalah eksperimentalis, bukan teoritis yg banyak di bidang fisika, nampaknya mereka kurang begitu percaya, kalau tidak mau disebut respek dengan teori. Prof. Christine sebagai satu-satunya penerima Nobel perempuan yang hadir di acara ini, mengatakan bahwa para teoritikawan tetap diperlukan pada tahapan akhir untuk mengecek kebenaran para eksperimentalis. Apakah sudah benar prediksi yang telah dibuat, demikian sambungnya. Prof. Wuthrich yang sangat eksperimentalis pun ikut berkomentar, bahwa teori-teori yang dikembangkan nampaknya sudah diprediksi oleh para eksperimentalis 10 tahun sebelumnya. Belum ada teori-teori yang 10 tahun mendahului prediksi para eksperimentalis.
Ceramah berikutnya, lagi-lagi dari bidang fisika oleh Prof. Ricardo Giacconi yang bicara tentang penelitian astronomi, pengembangan satelit, blackhole, dan lain-lain. Sulit rasanya untuk dipahami. Biar para fisikawan yg tertarik nanti yang mendengarkan langsung saja rekamannya.
Selanjutnya ceramah oleh Prof. Mansfield, yang mungkin menjadi great interest para dokter. Daripada bercerita tentang perkembangan terkini, Prof. Mansfield banyak bererita tentang sejarah pengembangan mesin MRI ini di Nottingham University. Jadi diperlihatkan di slide-nya mulai dari generasi pertama yang seperti mainan, kemudian yang model dari kayu, sampai teori-teori bagaimana dari proton air yang banyak terdapat pada organ manusia, diperoleh citra MRI. Bagi saya, kurang gregetnya dikit.
Ceramah umum terakhir, adalah dari Prof. Manfred Eigen, Prof. sepuh dengan judul ceramah yang sangat menarik yaitu what is life now dengan penekanan pada kata now. Maksudnya adalah dengan perkembangan banyak teknologi life science mulai dari genomik, protemoik, sampai bioinformatik apakah ada pemahaman baru kita tentang apa sebenarnya kehidupan. Sangat menggelitik, tapi penyampaiannya di luar harapan. Walau tetap bersemangat menyampaikan idenya, gambar-gambar yang ditampilkan kurang asyik. Jadi yang tidak sebidang dengan topik ini, seperti saya, meloncat dari apa yang ingin disampaikan. Jadi maaf lagi, saya kurang paham apa yang disampaikan. Tapi diakui bahwa beliau yang mendapat Nobel Kimia 1967 sangat energetik. Beliau juga menyampaikan baru-baru ini pulang lawatan dari China menyampaikan ceramah dengan judul yang sama. Terbersit dalam pikiran saya, apakah beliau mau diajak berkunjung ke Indonesia?
Sampai di sini, rupanya batterei saya habis, jadi terpaksa pulang ke hotel untuk men-charge supaya dapat merekam ceramah pilihan yang saya nanti-natikan yaitu dari Prof. Kary Banks Mullis yang menemukan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Untuk itu saya terpaksa merelakan tidak makan siang di restoran yang sudah disiapkan panitia.
Oh iya, sebelum mulai, sebenarnya ada pembicara pilihan yg menarik juga yaitu Prof. Robert Huber yang bersama dua peneliti lain menjelaskan struktur protein membran dan kali ini akan bicara tentang Immunoreceptors-Antibody interactions. Menarik sekali. Tapi saya memilih KBM (Kary Banks Mullis) saja karena hampir setiap minggu merasakan jasanya menggunakan PCR di lab.
Sekarang ide penelitian Karry Mullis kelihatannya, tidak sehebat penelitian terdahulu. Altermune yang sekarang sedang beliau geluti berdasar pada pengenalan molekul target menggunakan DNA aptamer yang dikonjugasikan dengan semacam karbohidrat yang ada di seluruh makhluk hidup kecuali manusia dan kera (maaf saya lupa namanya). Karena molekul karbohidrat ini tidak ada pada manusia maka dianggap molekul asing sehingga tubuh manusia senantiasa punya antibodi terhadapnya. Sementara keberadaan molekul asing dikenali oleh DNA aptamer yang diseleksi dari pustaka acak yang ada. Kenapa beliau tidak menggunakan pustaka peptida, mungkin ini sejarah Prof. Mullis karena jika menggunakan DNA bisa dengan mudah diperbanyak dengan PCR, sementara peptida, harus menggunakan virus phage yang sekuen peptidanya baru diketahui setelah di-sekuen genomnya. Jadi kerja dua kali.
Menurut hemat saya penelitian tersebut kurang brilian karena teknik seleksi DNA aptamer waktu di Jepang akhir-akhir ini sudah banyak digunakan. Termasuk di laboratorium saya dulu, aktif sekali memakai DNA aptamer. Walau demikian, kelihatan sekali kalau Prof.Mullis ini memang sangat unik. Persis seperti saya baca di jurnal Nature dan Science sewaktu dia diberitakan mendapat Nobel. Wartawannya kaget karena menemuinya di tepi pantai main selancar air. Mungkin juga pernah lihat fotonya memegang papan selancar itu. Sekarang saya menyaksikan sendiri keunikannya tersebut. Gerakan tangannya waktu menerangkan,lebih mirip wanita. Tapi tetap asyik bisa melihat langsung orang yang karyanya telah mengubah dunia, setidaknya dunia saya di lab yang rutin memakai PCR.
Lindau-Jerman, Selasa 28 Juni 2005, 17:15 (bagian ke-2)
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya
Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance. Arsip lalu