Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801039
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 9 pengunjung online
Hari ini 3935 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Kamis, 14 Juli 2005 12:32:59
Catatan Perjalanan - Bidang Kebijakan Iptek

Masih seperti catatan-catatan sebelumnya, sebelum memulai catatan hari ini (Rabu 29 Juni), saya akan berkisah pengalaman hari Selasa malam setelah mengirim email. Malam itu DFG mengundang secara khusus 3 delegasi yang diundang resmi oleh Pemerintah Jerman dari Asia yaitu India, China, dan Indonesia untuk makan malam bersama dengan beberapa penerima Nobel. Dibanding makan malam sebelumnya, kali ini jumlahnya lebih sedikit, sedangkan penerima Nobel yang hadir ada 5 orang.

Catatan penting dan menarik dari pertemuan ini adalah: tidak sedikit mereka yang simpati dengan bencana Tsunami Aceh akhir Desember 2004. Bahkan ada yang berkunjung, meskipun hanya di Thailand, misalnya Prof. Ricardo Giacconi (Fisika 2002). Ada pula yang sebenarnya sudah pernah ke Bali dan menyempatkan mampir di Jakarta seperti Prof. Richard Roberts (Kedokteran 1993). Dalam pikiran saya, sebenarnya banyak cara dan kemungkinan untuk mendatangkan para pakar tersebut ke Indonesia. Bencana tsunami tempo hari, selain musibah dapat juga dimanfaatkan untuk perkembangan sains, bila kita bisa menangkap peluangnya. Sayang, hanya para artis seperti Jacky Chen atau pemain sepakbola saja yang diberitakan besar, mengapa para penerima Nobel tidak terliput oleh media ?

Omong-omong, Prof. Richard Roberts yang sekarang bekerja di New England Biolabs dan penemu intron, sudah bersedia ke Indonesia diundang bicara meskipun bersama-sama dengan istrinya. Apakah ada yang bersedia untuk menyelenggarakan acara tersebut, bukan acara seremonial tapi justru acara sederhana dan ditujukan untuk generasi muda, misalnya anak-anak SMA karena buku pelajaran biologinya juga sudah ada istilah intron. Tak luput juga bisa disertakan para mahasiswa dan para peneliti kita. Saya membayangkan acara tersebut dilaksanakan di ruang besar dengan kapasitas 1000 orang, dipersilakan bagi yang ingin bertanya dan belajar, bisa tidak ya? Kalau gratis dan undangan disebar luas, sepertinya ada kemungkinan untuk dilaksanakan ya.

Selain itu, bisa juga dimanfaatkan kepopuleran Bali sebagai tempat wisata untuk mendirikan salah satu laboratorium riset tercanggih kita. Memang saya juga dengar baru-baru ini pusat riset kelautan internasional baru didirikan di Bali. Bagaimana kalau pusat riset bioteknologi/biologi molekuler yang paling canggih juga dibuat di Bali. Pasti akan banyak yang mau datang dan mampir sambil piknik menikmati keindahan alam. Karena seperti yang disampaikan oleh Prof. Richard, mereka suka piknik dan sekalian untuk tujuan ilmiah.

Kesan kedua, bukan dengan para penerima Nobel tapi dengan peserta lainnya. Sebelumnya saya sempat membaca CV peserta dari China dan India yang ada di buku tebal dari Panitia. Wah, khususnya India, daftar publikasinya hebat. Walau riset di negara sendiri, orientasi publikasi di jurnal internasional sangat tinggi.

Masuk hari ke-4 atau hari ke-3 rangkaian ceramah para penerima Nobel adalah sebagai berikut:

09:00-09:30 ceramah umum Prof. Wilczek (Fisika 2004) berjudul, The universe is a strange place

09:30-11:30 diskusi panel topik Energy shortfall and global warming dengan para panelis:

a.Prof. Nicolas Bloembergen (Fisika 1981)
b.Prof. Paul Crutzen (Kimia 1995)
c.Prof. David Gross (Fisika 2004)
d.Prof. Harold Kroto (Kimia 1996)
e.Prof. Sherwood Rowland (Kimia 1995)

11:30-12:00 ceramah umum Prof. Gunter Blobel (Kedokteran 1999) berjudul Transport into nucleus

12:00-12:30 ceramah umum Prof. Harold Kroto (Kimia 1996) berjudul 2010 a nanospace odyssey

15:00-17:00 ceramah pilihan, yang saya pilih adalah Prof. Richard Roberts (Kedokteran 1993) berjudul The genomics of restriction and modification.

Ceramah pertama, bukan saja judulnya yang strange tapi orangnya lebih strange lagi. Tipe pemikir kelihatan sekali dari wajah penerima Nobel Fisika tahun lalu atas penemuan quark ini. Mengenai isi ceramah, sulit untuk saya pahami, karena bidangnya fisika. Tapi lebih seru mengamati tingkah laku, dedngan tipikal pemikir, dan cara pembawaan Prof. Frank Wilczek ini. Di tangannya, rumus terkenal Einstein bisa jadi versi kedua yaitu m=E/c2. Alias sebenarnya cuman dibalik saja tapi menurutnya dalam fisika, rumus walau sama bisa menghasilkan persepsi berbeda. Dunia rumus kelihatannya sangat menjiwai bahkan membadani diri Prof. MIT itu karena kaosnya pun penuh dengan tulisan rumus.

Diskusi panel kali ini adalah yang terakhir dari rangkaian acara mulai dari hari Senin sampai hari Kamis. Topiknya tidak kalah seru yaitu tentang pemanasan global. Penerima Nobel yang berkaitan dengan topik penelitian ini sebenarnya hanya dua orang yaitu Prof. Crutzen dan Rowland, sedangkan yang lainnya, juga tidak kalah semangatnya memberikan komentar karena topik ini merupakan masalah bersama. Ada dua topik yang menjadi bahan diskusi utama yang bisa saya catat. Apakah pemanasan global benar atau tidak? Atau cuma khayalan belaka? Ini menjadi pembenaran karena pemerintah Amerika menganggap tidak serius sehingga menolak Protokol Kyoto.

Rupanya para ilmuwan cukup keras beropini terhadap kebijakan negara adidaya ini termasuk ilmuwan dari negara itu sendiri. Dalam ceramah pilihan hari sebelumnya (saya dapatkan informasi dari rekan lain yang hadir), Prof. Douglas Osheroff (Fisika 1996) berbicara tentang global warning and the energy prospects of the future. Banyak sekali yang hadir, penuh sesak termasuk ada 5 orang penerima Nobel yang juga ikut dalam ceramah tersebut. Menarik, di awal pembicaraan Prof. Osheroff yang berkebangsaan Amerika ini bercanda dengan mengatakan is there any spy here?. Rupanya para peserta menjadi maklum adanya, karena banyak staf US Department of Energy yang juga hadir dalam diskusi tersebut.

Saya jadi teringat film The Day After Tomorrow. Sudah beberapa kali saya menonton film fiksi ilmiah ini karena isinya menjelaskan dengan gamblang tentang bahaya pemanasan global dengan sangat menarik. Dalam film tersebut ada episode menarik bahwa ilmuwan yang memperingatkan Wapres Amerika, awalnya justru dikecam sampai akhirnya ilmuwan tersebut mengatakan Anda harus percaya ilmuwan, kalau tidak bahaya yang lebih besar akan terjadi. Cerita yang mirip terjadi di negara kita ketika tsunami menerjang Aceh, pandangan ilmuwan kurang diperhatikan oleh pengambil kebijakan.

Lalu, mengenai energi alternatif selain fossil fuel, apakah nuklir yang memang paling mungkin untuk dijadikan pilihan, meskipun mengandung bahaya karena bisa menjadi bom nuklir, dibolehkan? Cukup dilematis kelihatannya. Di ceramah pilihan, masih menurut cerita teman saya yang hadir, ada partisipan yang berkomentar diluar topik diskusi, seperti bahaya terorisme. Prof. Rowland menunjukkan data-data bagaimana pemanasan global itu terjadi trendnya (dari pemantauan stasiun di Antartika dan di Hawaii). Menarik sekali, dengan kesimpulan sudah sampai tingkat kebijakan, berupa kebijakan politik. Beliau menambahkan ilmuwan cuma bisa berperan sebagai advisor saja. Makanya kita harus memilih pemimpin yg baik, kira-kira begitu ujarnya.

Lindau-Jerman, Rabu 29 Juni 2005, 19:15 (bagian ke-1)

  Diskusi (percobaan)
dibaca 1690 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy