Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801078
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 11 pengunjung online
Hari ini 3974 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Jumat, 22 Juli 2005 01:32:40
Catatan Perjalanan - Bidang Kebijakan Iptek

Hari ini adalah hari terakhir ceramah dari seluruh rangkaian acara para Penerima Hadiah Nobel. Diskusi panel sudah tidak diadakan lagi. Besok Jumat pagi (1 Juli 2005) adalah acara penutupan dimana semua peserta diundang mengunjungi pulau milik keluarga bangsawan Bernadotte.

Ceramah umum hari ini seputar bidang life science, yang bagi saya sangat menggairahkan. Kegiatan yang saya ikuti adalah:

09:00-09:30 ceramah Prof. Peter Agre (Kimia 2003) berjudul Aquaporin water channels: From atomic structure to clinical medicine.

09:30-10:00 ceramah Prof. Paul Lauterbur (Kedokteran 2003) berjudul How to Win a Nobel Prize Don't Ask.

10:00-10:30 ceramah Prof. Marshall Nirenberg (Kedokteran 1968) berjudul The initial strategy for constructing part of the nervous system of Drosophila.

11:00-11:30 ceramah Prof. Roderick MackKinnon (Kimia 2003) berjudul Ion channels: Life's Electronic Hardware.

11:30-12:00 ceramah Prof. Walter Kohn (Kimia 1998) berjudul Nearsightedness of electronic structure.

12:00-12:30 ceramah Prof. Klaus von Klitzing (Fisika 1985) berjudul Einstens Nobel Prize and modern nano-electronics.

Istirahat siang

15:00-17:00 ceramah pilihan. Saya memilih Prof. Brian Josephson (Fisika 1973) dengan judul Relationship between physics and biology.

Wajah Prof. Peter saat tampil sempat mengecoh semua peserta, karena penampilannya berbeda dengan foto yang terdapat di Nobel e-museum, yang sudah kelihatan berumur dengan kumis panjangnya. Penampilan sekarang kelihatan tampak lebih muda. Beliau menemukan gen protein aquaporin, yaitu protein water channel (saluran air) karena serendipity (keberuntungan red.) ujarnya. Rupanya memang tidak sedikit penemuan besar justru karena ketidaksengajaan dan pentingnya prepared mind. Peneliti memang bekalnya teliti dan ulet, satu penemuan berupa adanya kesalahan adalah merupakan keberhasilan yang tertunda.

Setelah gen protein membran itu dibuktikan berupa water channel dengan mengekspresikannya pada sebuah sel, semuanya menjadi mudah. Ibaratnya jika sudah melewati bukit yang tinggi, selanjutnya adalah tinggal jalan landai atau malah kadang meluncur dengan cepat. Seperti diketahui setelah gen AQ1, berdasarkan kesamaan sekuen atau homologinya, kemudian seterusnya ditemukan AQ2, AQ3, dan lain lain. Tidak mengherankan, istilah moment of truth yaitu ketika diamati dibawah mikroskop akan terlihat bahwa sel yang direkayasa agar mengekspresikan AQ1 swallow, sementara yang tidak akan kelihatan biasa saja, demikian Prof. Peter mengisahkan, yang diikuti tepuk tangan dari peserta yang hadir. Sayangnya tidak sempat sempat membawa kamera, dimana kejadiannya diperagakan setelah 3 tahun oleh seorang postdoc dari China yang mengerjakan penelitian tersebut.

Ada satu pesan menarik dari Prof. Peter yaitu pentingnya kolaborasi. Jadi menurutnya, untuk mempercepat kemajuan riset, harus banyak melakukan kerjasama, tapi jangan dengan orang yang keahliannya sama, tapi dengan bidang-bidang lain sehingga bisa saling melengkapi. Misalnya penentuan struktur protein dapat dilakukan dengan tim dari Kyoto-Jepang dan Basel-Swiss, ekspresi pada sel syaraf dengan peneliti lain lagi, dan lain sebagainya. Sama dengan Prof. Kroto kemarin, pada presentasi terakhir peserta disuguhi foto anggota labnya, dimana terlihat wajah-wajah dengan berbagai negara. Mungkin itu juga kiat suksesnya, mendapat best brain dari berbagai kalangan dan pihak.

Ceramah kedua oleh Prof. Paul Lauterbur kurang mengasyikkan karena sudah berusia dan nampaknya sedang tidak enak badan, jadi menyampaikan ceramah sambil duduk dengan kertas transparansi/OHP. Judul ceramahnya pun tidak seperti yang tertulis diawal. Beliau hanya bercerita perjalanan hidupnya. Maksudnya jalan menuju Stockholm baginya seperti mimpi, tidak ada perencanaan dan strategi, tapi hanya mengalir saja seperti air. Karena tidak boleh mengajukan pertanyaan, para hadirin pun hanya mendengarkan dengan tenang saja wejangan-wejangan bapak sepuh ini.

Penceramah yang ketiga adalah penceramah saya tunggu-tunggu karena namanya sudah melegenda dalam biologi molekuler sebagai penemu tabel kode genetik bersama Gobind Khorana. Sekarang beliau banting setir melakukan penelitian ke arah sistem syaraf seperti dalam judul diatas. Sayangnya saya tidak bisa mengikuti seluruhnya karena harus keluar beli kaset yang habis.

Lindau-Jerman, Kamis 30 Juni 2005, 21:00 (bagian 1)

  Diskusi (percobaan)
dibaca 1538 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy