Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2800997
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 9 pengunjung online
Hari ini 3893 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Sabtu, 23 Juli 2005 02:07:10
Catatan Perjalanan - Bidang Kebijakan Iptek

Ketika kembali dari toko kamera dan masuk ke ruangan lagi, di belakang saya memergoki Prof. Richard Roberts sedang asyik dengan notebooknya. Setelah diperhatikan, ternyata beliau sedang asyik main tetris. Kalau Prof. Wilczek dan Prof. MacKinnon selalu asyik dengan notebooknya untuk menulis paper dan bahan presentasi, Prof. yang satu ini memang berbeda. Rupanya bukan hanya rocker yang manusia, ilmuwan paling canggih pun, juga manusia, demikian komentar saya.

Setelah istirahat sejenak, selanjutnya ceramah keempat yaitu Prof. MacKinnon. Beliau yang sejak hari Senin duduknya selalu di depan saya ini, tidak mau mau diganggu sedikit pun. Rajin hadir, selalu membawa komputer dan kelihatan menyiapkan presentasinya dari Senin sampai Kamis, pokoknya tipe yang perfeksionis. Beberapa kali ada peserta yang mau bertanya, mengobrol dan foto bersama, atau hanya sekedar minta tanda tangan, ditolaknya. Pantas jika slide dan presentasinya juga mengasikkan sekali.

Untuk menggambarkan bagaimana pentingnya protein ion channel (saluran ion), yang diteliti strukturnya 15 tahun lalu, beliau gambarkan dengan sangat menarik. Seandainya pergerakan ion, termasuk air sebagai molekul-molekul kecil hanya lewat osmosis melalui membran sel, bergerak 1 cm perlu berhari-hari, maka jika bergerak dengan jarak 1 m bisa bertahun-tahun lamanya. Padahal ketika otak memberikan pesan agar jari bergerak, dalam hitungan milidetik, pesan sudah diterima. Itulah pentingnya protein saluran tersebut untuk membantu proses transfer ion-ion yang banyak berperan sebagai sinyal.

Tidak ada kata mustahil, itulah wejangan beliau yang diberikan pertama kali belajar dari pengalamannya. Ketika dari ahli patch-clamp (teknik mengukur perpindahan ion melewati membran berdasar voltase) ingin mengungkap struktur atom protein saluran yang bersifat protein membran ini, orang mengatakan tidak mungkin dan sulit apalagi bagi orang baru belajar kristalografi seperti itu. Tapi dasar keras kepala, berhasil juga walau perlu waktu. Seperti Prof. Peter, setelah satu tembok tinggi terlewati, berikutnya akan gampang untuk melewati tembok-tembok berikutnya, demikian komentar saya setelah ceramah beliau yang sangat menarik.

Terakhir dengan simpatik Prof. MacKinnon yang selama beberapa hari ini sibuk sendiri untuk mempersiapkan presentasi, memberikan topik masa depan yang bakal bisa mendapat hadiah Nobel kalau peneliti generasi muda mau mendalaminya, yaitu berkaitan dengan membran sel. Teori bahwa membran adalah dinamis belum dibuktikan dan belum tertata dengan utuh sebagai satu kesatuan seperti informasi protein saluran, protein reseptor, dan sebagainya. Memang tekniknya tidak mudah, hal itu juga yang menjadi tantangan.

Presentasi terakhir sebelum rehat kali ini diisi oleh jagoan Jerman, orang yang memang jenius dan namanya terabadikan sebagai salah satu konstanta (tapi saya sendiri belum pernah pakai) seperti diperlihatkannya dari website NIST (mungkin bisa dicek). Kelihatannya beliau bergerak di bidang aplikasi quantum dynamics yang telah dikembangkan oleh para ahli fisika besar dunia. Sekarang beliau menekuni dunia nano, nano teknologi tepatnya. Penelitian Prof. Klitzing ini lebih kearah ke nano elektronik, seperti membuat divais-divais elektronik berukuran nano dengan metode top down yaitu dengan cara-cara nanolitography. Kalau bidang biotek disebutnya bottom up yaitu molekuler biologi sebagai cetakan nano material.

Sebelum presentasi Prof. Klitzing ini ada ceramah lain yaitu oleh Prof. Walter Kohn. Pada jamuan makan malam kemarin bersama delegasi India, Indonesia dan China, Prof. Kohn termasuk satu dari lima penerima Nobel yg bersedia datang. Sempat berdiskusi dengan beliau, seputar bagaimana peneliti di negara berkembang. Apa mungkin membuat sesuatu yang besar atau good science? Beliau sangat terbuka dan asyik dalam obrolan. Tapi ceramah yang dibawakan, agak sedikit mengecewakan, karena Prof. Kohn hanya menggunakan transparansi yang ditulis tangan dan sudah tidak jelas. Saya dengar, bahwa orang Jerman yang ada di belakang saya juga ikutan kecewa dengan persiapan beliau yang seadanya. Mungkin karena sudah pensiun, tidak ada beban seperti pembicara sebelumnya yang masih muda-muda. Mengenai isinya, karena bidang fisika, tidak banyak yang dapat saya pahami.

Ceramah pilihan terakhir, saya memilih Prof. Brian. Kelihatan sekali beliau ini seorang jenius, sampai bicaranya juga tidak jelas. Ini juga yg waktu jamuan makan malam kemarin, sempat semeja dan disertai istrinya yang bercerita tentang kisah-kisah fantastiknya. Ruang tempat ceramahnya, dipenuhi oleh peserta termasuk para penerima Nobel yang ingin mendengar beliau berbicara, termasuk Prof. Klitzing. Karena terlambat saya harus rela duduk paling belakang. Nama Prof. Josephson termasuk yang diabadikan sebagai konstanta seperti diperkenalkan dalam ceramah Prof. Klitzing sebelumnya (silakan cek web NIST). Menerima hadiah Nobel pada usia 33 tahun sudah menunjukkan kualitasnya. Dari judul ceramahnya yang sangat luas, beliau banyak bicara tentang teknologi fusi, tapi tentu saja dari aspek teori karena itulah spesialisasinya.

Terakhir, ini saya sertakan satu foto suasana peserta pertemuan Lindau. Nampak gedung tetap penuh walau hari terakhir. Nampak Prof. Wilczek yang tidak pernah lepas dari notebooknya dan jejeran penerima hadiah Nobel dan seorang bukan penerima hadiah Nobel yang membuat catatan ini.



Gambar. Suasana pertemuan di kota Lindau Jerman (Arief B. Witarto)

Semoga ada manfaatnya semua cerita ini dan sampai ketemu lagi di Indonesia.

Lindau-Jerman, Kamis 30 Juni 2005, 21:00 (bagian 2)

  Diskusi (percobaan)
dibaca 1870 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy