Kamis, 28 Juli 2005 19:20:05 Catatan Perjalanan - Bidang Biologi, Pangan, dan Kesehatan
 Bila pekan lalu, kami mengikuti program pertemuan dengan para Penerima Hadiah Nobel di Lindau Nobel Meeting, maka pekan ini DFG mengatur program lain buat kami. Undangan resmi oleh pemerintah Jerman ditujukan kepada rombongan dari India (25 orang), China (25 orang), dan Indonesia (5 orang), untuk mengunjungi lembaga-lembaga riset di Jerman. Kegiatan ini adalah yang ke-5 kalinya dirancang oleh DFG sejak tahun 2001 dengan akomodasi dan transportasi sepenuhnya dibiayai oleh DFG. Kami dibagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok Biologi, Fisika dan Kimia. Kelompok Biologi diikuti oleh peserta terbanyak dengan jumlah 22 orang termasuk saya sendiri, sedangkan kelompok lainnya berjumlah sekitar 17.
Hari pertama, kami mengunjungi Universitas Konstanz/Constance yang dipilih oleh DFG karena merupakan universitas termuda di negara federal ini (berusia 40 tahun). Walaupun muda, namun menurut Rektornya, universitas ini menempati ranking tinggi di Jerman karena berusaha spesifik dalam bidang riset yang digarap. Dalam penjelasan oleh staf bidang internasional disampaikan juga bahwa banyak mahasiswa dan staf berasal dari China dan India, sedangkan Indonesia masih sangat sedikit jumlahnya.
Dalam tur per-bidang, saya memilih untuk melihat Laboratorium/Institut Limnologi. Padahal ada juga tur ke lab protein, karena peserta sangat banyak yang ikut, akhirnya saya mencoba melihat bidang yang agak sedikit berbeda. Kebetulan di kampus Cibinong Science Center, tetangga kantor saya adalah Pusat Penelitian Limnologi-LIPI. Rupanya Institut Limnologi universitas ini adalah yang terdepan dan (mungkin) juga satu-satunya di Jerman. Sebagai tambahan institut ini terletak di pinggir danau Bodensee yang merupakan danau terbesar di Jerman.
Saya melihat, gedung institut ini cuma satu, kolam percobaannya pun tidak besar, memiliki satu dermaga kecil sendiri, sebuah kapal agak besar dan 7 perahu (boat). Kelihatannya tidak terlalu besar bila dilihat dari segi fasilitas, tapi hasil penelitian yang dihasilkan oleh institut ini nampak sangat mendalam seperti yang dipaparkan dengan bidang; makrobiologi seperti protist, mikrobiologi, dan fisik seperti gelombang dengan citra satelit, dan lain sebagainya.
Satu hal yang menarik, setelah selesai tur, kami diajak berkumpul untuk mendapatkan penjelasan tentang usaha universitas ini mendukung riset peneliti muda. Sejak 4 tahun yang lalu, univeritas ini mendirikan Center for Young Scientist (nama lengkapnya saya lupa). Biasanya lulusan Doktor, bekerja sebagai postdoc di bawah Prof. senior di lab-nya. Dengan demikian, sering kali tidak bisa merdeka dalam bekerja, kalau ada penemuan besar, hasilnya pun tidak lepas dari pengaruh Prof. senior tersebut, termasuk bila mendapat Hadiah Nobel.
Nah di univeritas ini, menyediakan fasilitas (gedung dan peralatan), sehingga lulusan-lulusan Doktor baru ini, tinggal mencari dana riset sendiri, dan bisa secara independen mencari dan menggaji staf bekerja di Pusat ini. Setelah berjalan 4 tahun, rupanya hasil yang diperoleh memuaskan, sehingga oleh rapat Senat, pusat ini pun diperpanjang 4 tahun lagi keberadaannya. Menurut staf DFG, Dr. Gad yg menjadi pimpinan rombongan, usaha seperti ini sekarang menjamur di lembaga riset/universitas Jerman untuk memberikan dukungan kepada peneliti muda mengingat banyak hasil penelitian penting, menurut statistik, lahir di usia 30-40 tahun.
Hari berikutnya, kami diajak melihat lembaga riset terdepan di Jerman yaitu Max-Planck Institute for Psychiatry. Selama di Indonesia, dari teman-teman yang studi di Jerman, seringkali saya mendengar nama Max-Planck Society yang merupakan lembaga riset non-pemerintah dan (mungkin) paling canggih di Jerman. Saat ini, impian untuk melihat langsung salah satu institut Max-Planck pun menjadi kenyataan.
Gedung MPI ini terletak di tengah pemukiman dan tidak kelihatan eksklusif, namun demikian di dalamnya hebat sekali, baik dari isi maupun aktivitas. Bila di pertemuan Lindau, kami mendapatkan banyak wejangan pentingnya multidisiplinary research, maka di MPI ini kami melihat langsung bukti tersebut. Penyakit psikiatri diteliti secara mendalam dari berbagai bidang, seperti biologi molekuler, bioinformatika, kristalografi, proteomics, dan lain-lain. Seperti dijelaskan salah seorang staf Prof.nya, supaya hasil riset tidak lepas dari konteks, maka MPI ini terdiri dari 2 divisi yaitu divisi riset dan divisi klinik yang berada dalam satu komplek. Sehingga antara para peneliti dan klinisi bisa terjalin komunikasi yg erat lewat diskusi rutin, termasuk kemudahan mendapat sampel langsung. Saya lihat hal seperti ini juga sudah mulai ada di Indonesia, seperti di Lembaga Biologi Molekul Eijkman yg menyatu dengan kampus FK-UI dan RSCM. Di Indonesia mudah-mudahan tidak sekedar lokasinya saja yang menyatu tapi aktivitasnya juga saling menunjang.
Memory is proteomics itulah kira-kira presentasi yang disampaikan oleh si Prof yang menurut saya sesuatu yang sangat berani. Tentu ini bukan basa-basi, karena dalam tur melihat laboratorium-laboratorium yang ada, ada satu lab khusus yang disiapkan untuk riset tentang proteomics. Kalau di Kuba, saya melihat hanya ada satu mass spectrometry yang memang harganya tak kepalang tanggung disimpan dalam ruang besar, di sini ada tiga buah mass spectrometry, belum lagi ditambah dengan MALDI-TOFF yang tercanggih berdesakan di dalam ruangan yang tidak lebih besar dari kamar hotel yang kami tempati. Secara fasilitas alat di MPI kelihatannya seperti surga buat para peneliti, segalanya tersedia lengkap, tinggal menanti orang untuk mengoperasikannya. Nah, siapakah orang-orangnya itu ?
MPI memang sangat internasional. Staf lab yang mengantar kami adalah seorang postdoc perempuan berasal dari Italia dengan spesialis mass spectrometry. Dia sebenarnya tidak secara sengaja menjadi staf di sini, karena ikut suami yang pindah kerja ke Munich, kota tempat institut MPI ini berada. Kebetulan MPI buka lowongan dan akhirnya dia diterima. Kepala lab-nya sendiri orang Amerika dari California. Ada pula mantan mahasiswa PhD di MPI ini yang karena mencintai kota terbesar populasinya ke-3 di Jerman, sudah lebih 7 tahun bekerja, menjadi spesialis patch-clamp, teknik yang rupanya dikembangkan di institut ini dan telah menghasilkan penerima Hadiah Nobel. Jadi setiap orang punya latar belakang sendiri-sendiri, tapi yang jelas mereka berkumpul dari berbagai bidang, dan merupakan orang-orang terpilih. ,i>To do brain research, you need the best brain, demikian kira-kira pepatah buat mereka yang bekerja di sini.
MPI ini juga sangat terbuka, kami diperbolehkan mengambil foto-foto ruangan lab, cara-cara eksperimen yang dilakukan, dan lain-lain. Ada satu poster menarik di lab ,i>behaviour yang banyak menggunakan tikus sebagai model hewan penelitian. Gambar seorang ibu-bapak tikus yang sedang memarahi anak tikusnya, quit going to school? You wanna end up like your parents? A career lab rat! Ternyata dalam keseriusan bekerja, tetap ada rasa humor di antara peneliti ini.
Selain melihat langsung dan mendengarkan penelitian-penelitian tercanggih yang dilakukan, publikasi yang disitir juga tidak tangung-tanggung, seperti jurnal Nature, Science, dan jurnal-jurnal lainnya. Kami juga mendapat penjelasan tentang adanya International Max-Planck Research Schoo (IMPRS). Wah, takjub sekali mendengarkan penjelasannya. Jadi MPI memberikan fasilitas riset untuk mahasiswa S2 dan S3, lalu universitas-univeritas yang berasosiasi dengannya, terutama yg berada satu kota dengan institut riset MPI yg ada, memberikan degree-nya. Karena berlabel internasional, syaratnya 50 persen mahasiswa harus orang asing, diantaranya India 60 persen lebih, disusul China, lalu negara-negara lain. Bagaimana dengan mahasiswa Indoensia ?
Apakah memang manusia Indonesia kurang berkualitas? Karena satu bus terus, jadi banyak ngobrol dengan peserta dari China dan India, hampir semuanya adalah mahasiswa S-2 dan S-3, sedikit yg sudah Doktor atau telah bekerja. Seperti saya pernah ketahui dari teman kerja waktu di Jepang, tentang mahasiswa-mahasiswa dari India dan China, sepertinya mahasiswa India ini modalnya ngotot, sedangkan mahasiswa China bekerja dengan tidak banyak bicara tapi rajin dan ulet. Keduanya sama-sama memiliki keberanian dalam mengungkapkan pendapat (kemampuan artikulasi), selain tentu saja bekal intelektualitas yg terlatih.
Hal-hal tersebut yang saya kira kurang dari manusia Indonesia. Termasuk kemampuan berbahasa, termasuk latihan-latihan lainnya, life-skill untuk berkarir dalam bidang sains, berdebat ilmiah, filosofi dalam bekerja, sampai kepada cara berkomunikasi dengan baik. Saya menemukan mahasiswa kita, kurang memiliki tatakrama dalam berkomunikasi, misalnya dalam berkomunikasi menggunakan email. Kepada para kolega yang bergelut dengan dunia mahasiswa, untuk memberikan latihan-latihan seperti ini dalam pembimbingan, karena kita yakin secara potensi, Indonesia tidak kalah dengan China dan India, kesempatan juga terbuka lebar dalam jaman teknologi informasi ini, semoga akan semakin banyak orang Indonesia yang bisa meraih kesempatan.
Karlsruhe-Jerman, Rabu 6 Juli 2005, 19:25
|