Memperingati 60 tahun kemerdekaan RI, Rektor kehormatan Universitas Paramadina, Prof. Dr. Nurcholis Madjid bersama Pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama, menggagas penyelenggaraan peringatan 60 Tahun Indonesia Merdeka dengan topik "Menyelamatkan Komitmen Nasional". Acara ini diselenggarakan pada tanggal 15 Agustus 2005 pukul 18:30-21:00 di Gedung Arsip Nasional, Jalan Gadjah Mada, Jakarta.
Tujuan utama dari acara ini adalah untuk menggugah semangat kebersamaan di kalangan pemimpin-pemimpin bangsa dengan kesediaan untuk saling memaafkan, menginsyafi kekhilafan dan menyatukan potensi demi kemajuan bangsa.
Dalam kaitan itu pulalah diberikan Penghargaan Paramadina atau Paramadina Award kepada tokoh-tokoh masyarakat yang telah mengharumkan nama bangsa di Tanah Air dan juga di Dunia Internasional. Selain itu juga telah memberikan inspirasi pada masanya dan memberikan teladan prestasi bagi generasi baru Indonesia. Mereka yang mendapatkan Paramadina Award 2005 bersama sitasinya adalah sebagai berikut.
SUSI SUSANTI yang membawa harum nama bangsa Indonesia dengan prestasinya di cabang olahraga bulutangkis. Pada masa keemasannya ia berhasil meraih juara tunggal putri di Olimpiade Barcelona Spanyol pada tahun 1992 yang merupakan emas pertama Indonesia di kancah Olimpiade.
RADAR PANCA DAHANA. Debutnya dimulai sejak usia 10 tahun lewat cerpennya di harian Kompas, "Tamu Tak Diundang". Ia menapak karya jurnalistiknya sampai ke jenjang pemimpin redaksi di berbagai media massa. Berbagai penghargaan diraihnya di tingkat Nasional maupun Internasional.
DAUZAN FAROUKH, mantan pejuang 45. Mengisi masa pensiunnya dengan membuat perpustakaan keliling di daerah Yogyakarta. Beliaulah potret teladan yang bisa menjadi panutan bagi kaum muda untuk menunjukkan semangat yang tak pernah padam.
DR. ARIEF BUDI WITARTO, peneliti bidang biologi molekuler, Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Seorang ahli di bidang rekayasa protein, bioinformatika dan bioteknologi yang telah meraih sejumlah penghargaan baik di tingkat Nasional maupun Internasional seperti pemenang peneliti muda, penerima penghargaan Toray, PII Engineering Award, menjadi delegasi Lindau Nobel Meeting.
ANDIKA PUTRA. Pelajar SMA 1 Sutomo Medan ini mengharumkan nama bangsa Indonesia dengan meraih Gold Medal atau Medali Emas pada International Physics Olympiad ke-36 di Salamanca, Spanyol. Sejumlah prestasi lainnya pun telah ia raih di tingkat Asia dan Dunia.
GRUP BAND SLANK yang telah memasuki usia 22 tahun. Selain menjadi legenda dan ikon kawula muda dengan pesan-pesan yang disampaikan melalui lantunan lagu-lagu mereka.
BAMBANG ENDRO PRAMUDITO, mahasiswa Universitas Paramadina, Fakultas Disain Produk penerima penghargaan Best Design Otomotif Style Competition pada Gaikindo Auto Expo tahun 2005.
Setelah penyerahan Paramadina Award ini, para pemimpin bangsa yang hadir diminta memberikan pikirannya masing-masing. Yang tampil pertama adalah Mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid. Selanjutnya 4 tokoh yaitu Jakoeb Oetama sebagai wakil dari penggagas karena Prof. Dr. Nurcholis Madjid urung datang oleh alasan kesehatan, disusul oleh 3 tokoh yang mewakili masing-masing pemerintahan yaitu Prof. Dr Jimly Assiddiqie, mewakili industri yaitu Sofyan Wanandi dan mewakili LSM yaitu Dr Todung Mulya Lubis. (bdm)
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya
Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance. Arsip lalu