Kelompok peneliti dari University of Texas Medical Branch (UTMB) menemukan metode deteksi adanya protein abnormal atau prion penyebab "mad cow disease" (penyakit sapi gila) di dalam darah. Penemuan ini diharapkan dapat menjadi metode yang efektif untuk mendeteksi adanya gejala penyakit yang menyerang otak, seperti Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) pada sapi dan Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD) pada manusia, demikian kata peneliti seniornya Prof. Claudio Sato.
Menurut tim ini, konsentrasi infeksi prion di dalam darah terlalu kecil untuk dideteksi menggunakan metode yang telah dikembangkan pada otak. Sehingga kunci sukses penemuan mereka adalah pengembangan teknik amplifikasi (perbanyakan) jumlah protein prion menjadi 10 juta kali lebih tinggi dari level deteksi biasa. Penelitian ini telah dipublikasikan di Nature Medicine (publikasi online 28 Agustus 2005).
Prof. Claudio Soto yang dibantu oleh Associate Prof. Joaquin Castilla dan asisten peneliti Paula Saa mengembangkan metode yang mereka namakan Protein Misfolding Cyclic Amplification (PMCA), dimana sampel darahnya diambil dari hamster yang secara sengaja diinfeksi dengan prion. Mereka juga menyebutkan bahwa selama penelitian hamster yang diinfeksi tersebut menunjukkan gejala-gejala penyakit prion yang umum menyerang pada sapi dan manusia.
PMCA mampu mendeteksi prion pada darah 16 ekor hamster dari 18 hamster ekor yang diinfeksi, tidak ditemukan prion pada sampel darah dari 12 ekor hamster kontrol (tanpa infeksi prion). Penemuan ini merupakan penemuan pertama kalinya yang mampu mendeteksi prion di dalam darah secara biokimia.
Adanya pengembangan metode sensitif yang mampu mendeteksi prion di darah diharapkan dapat meminimalkan penyebaran penyakit ini, dan kelompok peneliti dari Departemen Neurologi UTMB telah berhasil mengembangkan metode tersebut. (IFT/am)
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya
Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance. Arsip lalu