Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801095
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 13 pengunjung online
Hari ini 3991 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Rabu, 14 September 2005 10:55:04
Artikel Iptek - Bidang Biologi, Pangan, dan Kesehatan

Grup peneliti dari Tokyo University of Marine Science and Technology-Jepang telah menjadi pionir dibidang breeding yang memungkinkan ikan salmon menjadi "ayah" dari ikan trout. Metode ini berpotensi merevolusi teknik pemeliharaan ikan yang dikembangkan selama ini,sehingga dapat juga digunakan untuk mengembalikan kondisi populasi ikan langka.

Peneliti membuat salmon jantan yang bisa menghasilkan sperma ikan trout. Hal ini dimungkinkan dengan cara menyuntikkan sel bakal gonad atau primordial germ cell (PGC) yang diisolasi dari embrio ikan trout ke dalam perut burayak (juvenile) ikan salmon . Sel PGC ini merupakan cikal bakal untuk sel sperma atau telur.

Sel bakal gonad ikan trout ini akan berkembang dalam perut ikan salmon seperti halnya sel bakal gonad ikan salmon sendiri. Dan setelah ikan salmon tersebut matang gonad dan kemudian sperma yang dihasilkan digunakan untuk membuahi telur ikan trout, sekitar 0.4% keturunannya adalah ikan trout. Hal ini menunjukkan bahwa sel bakal gonad yang disuntikkan ke dalam perut ikan salmon tersebut telah berkembang menjadi sperma ikan trout. Sisa keturunan yang ayahnya dari salmon mati pada fase larva, yang menunjukkan bahwa hibridanya itu adalah telur trout yang dibuahi oleh sperma ikan salmon. Hasil penelitian ini telah dilaporkan dalam jurnal Nature.

Transplantasi sel PGC dari ikan dan berhasil memproduksi keturunan melalui "ayah" pengganti dari spesies yang berbeda ini adalah pertama kali dicapai. Keberhasilan telah dicapai meskipun pada kenyatannya ikan salmon dan trout adalah masing-masing merupakan ukan asli Asia Timur dan Amerika Utara, dan dipisahkan sekitar 8 juta tahun evolusi.

Baru-baru ini telah dilaporkan juga bahwa sel PGC yang disuntikkan bisa berkembang menjadi telur, dan menghasillkan keturunan yang sehat seperti trout normal. Dengan keberhasilan perkembangan PGC menjadi telur dan sperma tersebut, maka teknik ini membuka peluang untuk melindungi spesies yang akan punah atau menghidupkan ikan yang mati.

Teknik pengawetan sel PGC dalam nitrogen cair juga telah berhasil dilakukan. Sel PGC hasil awetan ini juga dapat aktif kembali dan berkembang menjadi sel sperma atau telur bila disuntikkan ke ikan donor. Dengan demikian secara teoritis, meskipun suatu jenis ikan akan punah, kita dapat melakukan transplantasi sel bakal gonad ke ikan kerabatnya.

Sel PGC ini mungkin akan menjadi bahan konservasi yang sangat bermanfaat. Meskipun demikian teknik transplantasi ini perlu diuji pada ikan yang memiliki fase perkembangan yang lebih kompleks. Bila teknik ini berhasil diterapkan pada spesies lain, hal ini mungkin akan membuat keuntungan besar kepada pecinta sushi.

Tuna (bluefin tuna) merupakan menu sushi utama, tetapi karena berat ikan tuna bisa mencapai 500 kg, pemeliharaan ikan dewasa akan sulit dan memerlukan biaya banyak. Bila ikan kerabat dekatnya yang berukuran lebih kecil, seperti mackerel, dapat digunakan untuk memproduksi telur dan sperma tuna, maka penanganan breeding akan lebih gampang dan murah. Tuna kecil yang dihasilkan mudah dipelihara dalam jumlah yang banyak dan kemudian dilepas ke laut yang akan ditangkap kembali oleh nelayan setempat setelah ikan-ikan tersebut menjadi besar. Meskipun tantangan ini tidak akan semudah pada ikan trout, tetapi teknik ini sangat menjanjikan.

Alimuddin, Staf Pengajar FPIK-IPB dan Kandidat Doktor dari Tokyo University of Marine Science and Technology-Japan. Email; alimuddin_alsani@yahoo.com

  Diskusi (percobaan)
dibaca 2913 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy