Pada bagian ketiga (atau terakhir) dari tulisan tentang pertanyaan-pertanyaan sekitar flu burung ini, berisi tentang pengendalian penyebaran penyakit ini pada manusia :
Dapatkah pandemik dicegah ?
Tidak ada orang yang dapat memastikannya. Virus influenza sangat tidak stabil dan perilakunya bertentangan dengan perkiraan. Meskipun demikian Badan Kesehatan Dunia (WHO) meyakinkan bahwa jika tindakan yang tepat segera dilakukan, pandemik influenza bisa dicegah.
Prioritas pertama dan tugas utama pencegahan, yaitu mengurangi kesempatan mendekatnya manusia ke sumber virus terbesar: ternak yang terinfeksi. Hal ini dapat dicapai dengan deteksi dini berjangkitnya penyakit ternak dan pengenalan darurat cara mengendalikannya, termasuk pemusnahan seluruh ternak yang terinfeksi atau yang stok ternak yang diduga terinfeksi, penanganan bangkai secara baik.
Seluruh bukti yang memungkinkan peningkatan resiko transmisi kepada manusia saat berjangkitnya Avian Influenza patogenik tinggi H5N1, semakin bertambah di peternakan. Dengan bertambahnya jumlah manusia yang terinfeksi, hal ini meningkatkan resiko berkembangnya virus subtipe baru, dan memicu pandemik influenza. Hubungan antara meningkatnya meningkatnya infeksi pada ternak dan meningkatnya resiko infeksi pada manusia terlihat saat ini di Asia. Vietnam, Thailand dan kini Indonesia, dengan berjangkitnya penyakit di peternakan yang makin meluas.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa mendesaknya situasi dan perlunya tindakan dini pada hewan dan sektor pertanian. Sebagai contoh, pada tahun 1997 pada seluruh populasi burung di Hongkong, dilakukan pemusnahan sekitar 1,5 juta ekor ayam dan jenis burung lainnya dilakukan dalam 3 hari. Dan pada tahun 2003 dilakukan kembali pemusnahan 30 juta ekor burung (dari populasi sekitar 100 juta ekor) di Belanda dilakukan dalam waktu satu minggu. Tindakan dini pada situasi ini dipikirkan oleh banyak ahli influenza untuk mencegah pandemik influenza pada manusia.
Apakah bisa dipastikan bahwa hanya sedikit kasus yang terjadi pada manusia ?
Ya. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mempunyai beberapa bukti bahwa strain H5N1 mulai tersebar pada burung sejak April 2003. Deteksi hingga saat ini, hanya sedikit kasus yang terjadi pada manusia membuktikan bahwa virus ini tidak mudah ditransmisikan dari burung kepada manusia pada saat ini. Meskipun demikian, situasi dapat berubah dengan cepat, sebagaimana diketahui strain H5N1 dapat bermutasi secara cepat dan telah terdokumentasikan mempunyai kemampuan bertukar gen dengan virus influenza dari spesies lainnya.
Pada situasi tersebut dapat memungkinkan pertumbuhan pandemik strain virus influenza baru, setiap kasus infeksi yang terjadi pada manusia, satu kali pun dianggap terlalu banyak. Tambahan dari pemusnahan secara dini hewan terinfeksi, peluang lain untuk mencegah kasus yang terjadi pada manusia adalah melalui perlindungan pekerja yang terlibat dalam pemusnahan hewan terinfeksi.
Apakah ada cara pengendalian terbaik yang dapat dilakukan ?
Pada beberapa kasus, ya. Jepang dan Republik Korea tampaknya telah mengontrol berjangkitnya penyakit secara baik di peternakan, cepat dan aman. Pemantauan para pekerja yang terlibat dalam pemusnahan hewan terinfeksi telah dilakukan dan tidak terdapat kasus infeksi yang terdeteksi pada manusia. Situasi pada negara lain tampaknya sangat problematis.
Pemerintahan di beberapa negara di dunia menghadapi berjangkitnya penyakit di peternakan secara serius, dan tidak mempunyai sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan pedoman perlindungan pekerja pemusnahan ternak unggas yang terinfeksi sesuai yang direkomendasikan. Di beberapa negara semacam ini, praktek pemeliharaan ternak di daerah pedesaan dilaksanakan di lingkungan terbuka, yang seringkali tidak terdaftar oleh otoritas pertanian setempat, yang lebih jauh mempersulit pemusnahan dini dan sistematis dari hewan sumber penyakit.
Selain H5N1, adakah virus Avian Influenza jenis lain yang pernah menginfeksi manusia ?
Ya. Dua jenis strain avian telah menyebabkan penyakit pada manusia, akan tetapi berjangkitnya penyakit ini tidak seserius yang disebabkan oleh strain H5N1.
Strain H9N2, yang bukan merupakan patogenik tinggi pada burung, menyebabkan gejala penyakit yang sedang, pada dua anak kecil di Hongkong pada tahun 1999 dan satu anak lainnya pada pertengahan Desember tahun 2003, juga di Hongkong.
Berjangkitnya penyakit Avian Influenza patogenik tinggi H7N7 pada burung, dimulai di Belanda pada bulan Februari tahun 2003, menyebabkan kematian seorang dokter hewan (dengan gejala gangguan pernapasan akut) dua bulan kemudian, dan menyebabkan gejala penyakit sedang, terhadap 83 peternak dan anggota keluarga mereka.
Apakah ada vaksin yang efektif melawan H5N1 pada manusia ?
Tidak. Vaksin yang ada sekarang tidak akan melindungi manusia dari penyakit yang disebabkan oleh strain H5N1. Pada saat ini baru WHO masih mengembangkan prototipe H5N1 untuk digunakan memproduksi vaksin oleh produsen vaksin terkemuka.
Vaksin dari virus prototipe yang ada, dikembangkan dari strain H5N1 tahun 2003 (yang menyebabkan dua kasus infeksi pada manusia), tidak dapat dikembangkan menjadi vaksin. Analisis virus pada tahun 2004, yang dilakukan oleh jaringan laboratorium Badan Kesehatan Dunia (WHO), menunjukkan bahwa virus telah mengalami mutasi yang sangat signifikan.
Apakah ada obat yang dapat digunakan untuk pencegahan dan pengobatan ?
Ya. Dua kelompok obat telah tersedia. Mereka adalah "M2 inhibitor" (amantadine dan rimantadine), dan "neuraminidase inhibitor" (oseltamivir dan zanimivir). Obat-obat ini telah diberikan lisensi untuk mencegah dan mengobati influenza pada manusia di beberapa negara, dan diperkirakan cukup efektif tanpa memperhatikan strain virus penyebab.
Meskipun demikian, analisis awal isolat virus dari berbagai kasus fatal di Vietnam menunjukkan bahwa virus secara beragam resisten terhadap M2 inhibitor. Pengujian lebih jauh yang sedang berjalan yaitu konfirmasi resistensi dari amantadine. Jaringan laboratorium juga sedang melakukan pengujian keefektifan neuraminidase inhibitor melawan strain H5N1 yang ada saat ini.
Apakah saat ini ada vaksin yang berguna untuk mencegah pandemik influenza ?
Ya, namun dengan jalan menetapkan sasaran. Vaksin yang ada saat ini, yang dimasukkan ke dalam kelompok beresiko tinggi, seperti pemusnah hewan terinfeksi, melindungi dari strain virus influenza yang beredar pada manusia dan hal ini mengurangi resiko lebih buruk bagi manusia beresiko tinggi dari virus flu burung, yang kemungkinan terinfeksi oleh virus flu manusia dan flu burung secara bersamaan. Dua infeksi sekaligus dari virus flu manusia dan virus flu burung membuat peluang pertukaran gen, memungkinkan terbentuknya virus influenza subtipe baru yang berpotensi menyebabkan pandemik.
Vaksin musiman diproduksi secara rutin untuk melindungi manusia dari epidemik influenza musiman. Vaksin ini tidak memberikan perlindungan dari infeksi avian virus H5N1.
Untuk tujuan ini, telah terdapat pedoman vaksinasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), menggunakan vaksin influenza trivalen yang ada saat ini, bagi kelompok beresiko tinggi di negara-negara yang mengalami berjangkitnya penyakit Avian Influenza patogenik tinggi H5N1 di peternakannya. (tsn)
Reproduced from FAQ "Frequently Asked Question" of Bird Flu in WHO website, within permission. Any further reproduction of this material should be requested directly to WHO.
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya
Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance. Arsip lalu