Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801044
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 9 pengunjung online
Hari ini 3940 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Selasa, 15 November 2005 21:11:54
Artikel Iptek - Bidang Teknologi Informasi dan Telekomunikasi

Berbeda dengan negara kita, biaya komunikasi di Jepang saat ini dari tahun ke tahun semakin rendah. Kalau pada era tahun 90-an, biaya telepon lokal per 3 menitnya adalah 10 yen, maka saat ini untuk biaya interlokal hanya 7.5 yen per 3 menit. Biaya telepon internasional pun demkian. Sampai tahun 2001 untuk telpon ke Indonesia dari Jepang selama kurang lebih 7 menit biayanya sekitar 1000 yen. Namun kini dengan 1000 yen kita dapat melakukan percakapan Jepang - Indonesia selama 120 menit.

Banyak faktor yang menyebabkan biaya komunikasi di Jepang kian hari kian murah. Khususnya peran pemerintah sendiri yang memerintahkan kepada perusahaan raksasa telekomunikasi yang dimilikinya NTT agar tidak memonopoli cooper line yang dimilikinya. Perintah ini dikeluarkan setelah Jepang mengalami kemacetan dalam pengembangan teknologi broadband ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) sampai tahun 2001. Teknologi broadband Jepang saat itu tertinggal jauh oleh Negara tetangganya, Korea Selatan. Pada tahun 2001 jumlah pemakai ADSL di negeri gingseng itu telah mencapai 1.5 juta user. Sementara di Jepang hanya 8000 user saja. Hal ini disebabkan karena NTT tidak memberikan kesempatan kepada provider-provider pengada ADSL untuk menggunakan cooper line-nya untuk mempertahankan bisnis sambungan internet dengan ISDN saat itu. Dengan dibukanya fasilitas cooper line NTT ini, bagaikan jamur tumbuh bermunculan ISP-ISP yang memberikan layanan sambungan internet broadband ADSL dengan harga yang sangat murah dengan kecepatan minimal 1.5Mbps (saat ini sambungan ADSL sudah mencapai kecepatan maksimal, yaitu 50Mbps).

Pesatnya perkembangan teknologi ADSL ini menjadikan efek perkembangan IT di Jepang begitu sangat cepat. Berbagai macam layanan-layanan berbasis jaringan broadband ADSL ini bermunculan. Khususnya layanan VoIP (Voice over IP) yang akhirnya melahirkan teknologi IP phone suatu layanan komunikasi berbasis internet protocol. Sama halnya dengan perkembangan ADSL sebelumnya, perkembangan IP phone ini pun tidak selancar yang diharapkan. Karena mendapat tantangan dari NTT. Jelas dengan diberlakukan layanan komunikasi berbasis IP ini akan menekan bisnis NTT selama ini. Akhirnya pada sekitar bulan Maret 2003 IP phone menjadi layanan komunikasi suara resmi di Jepang dengan memberikan nomor khusus pada nomor IP phone pelanggan dengan prefix 050. Adalah raksasa broadband Yahoo Broad Band (Yahoo BB) dan Fusion yang pertama kali menerapkan IP phone di Jepang pada tahun 2002. Dengan menggunakan layanan Yahoo BB ini, biaya komunikasi lokal maupun interlokal menjadi flate rate 7.5 yen/3 menit.

Berbeda dengan komunikasi suara selama ini yang menggunakan copper line (saluran telepon pada umumnya), IP Phone menggunakan jaringan internet sebagai media untuk komunikasi. Komunikasi suara dari satu lokasi dengan lokasi yang lainnya yang menggunakan cooper line memelukan negosiasi antar operator asal, operator penghubung dan berakhir di operator tujuan. Semakin jauh jarak komunikasi yang dilakukan, maka semakin banyak operator-operator yang berhubungan satu sama lainnya. Ini yang menyebabkan biaya komunikasi menjadi mahal. Bila operator yang digunakan sedikit (komunikasi lokal) maka biayanya murah. Sebaliknya, bila operator-operator yang digunakan banyak (komunikasi interlokal dan internasional) maka biayanya akan semakin tinggi. Di satu sisi yang lain, komunikasi suara dengan IP phone sama sekali tidak tergantung oleh operator-operator tadi. Karena media yang digunakan adalah jaringan internet. Selama kita tersambung dengan internet maka kita dapat dengan mudah berkomunikasi tanpa harus khawatir terbebani biaya komunikasi yang kita lakukan.

Dalam IP Phone terdapat dua istilah komunikasi, yaitu Internet Phone dan IP Phone itu sendiri. Bila data yang berupa suara dalam bentuk paket dikirim melalui jaringan internet umum maka disebut Internet Phone. Bila paket suara tadi dikirim melalui jaringan internet khusus milik ISP (penyedia jasa internet,red.), maka inilah yang disebut IP Phone yang sesungguhnya.

Hal yang harus diperhatikan oleh ISP-ISP pengada IP Phone adalah masalah kualitas suara. Karena baik Internet phone maupun IP Phone sama-sama menggunakan jaringan internet, maka keduanya sangat dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas (traffic) internet saat itu. Bila traffic internet pada saat itu sedang kosong, maka suara yang kita terima akan bagus. Namun sebaliknya, kualitas suara akan terputus-putus, ada delay dan sebagainya. Kualitas suara untuk IP Phone yang dizinkan oleh ITU (International Telecommunication Union) harus memiliki nilai MOS (Mean Opinion Score) minimal 4.0 dan waktu tunda (delay time) tidak lebih dari 100 ms.

Candra Dermawan, kandidat doktor di Toyohashi University of Technology, Jepang, Presiden PMC, dan aktif sebagai Peneliti ISTECS. Email: cd@pmc.gs


  Diskusi (percobaan)
dibaca 2453 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy