Kekuatan sebuah negara ditentukan oleh kekuatan ekonomi. Kekuatan ekonomi ditentukan, salah satunya oleh kekuatan sektor industri. Kekuatan sektor industri ini tidak hanya menjadi modal dalam posisi tawar di tataran lokal (otonomi daerah) dan nasional, tetapi juga di tingkat regional dan global.
Dari statistik BPS, sampai tahun 2000 industri manufaktur Indonesia berjumlah 22,174 buah, 81% di antaranya ada di pulau Jawa. Industri tersebut sanggup menyerap tenaga kerja 4.47 juta orang. Jumlah itu setara dengan 10% total industri di Jepang. Data METI Jepang, tahun 2003 tercatat total 293,911 industri yang menyerap 8.23 juta pekerja.
Indonesia juga negara senior di ASEAN dalam mengembangkan industriannya. Tetapi mengapa, kegiatan industri nasional megap-megap? Nilai ekspor produk industri tidak seberapa dan itupun bukan berasal dari ekspor produk industri primer. (Data BPS 2001: sektor makanan 20.7%, pakaian dan tekstil 19%, furniture 9%, permesinan 2.6%) Sementara negara-negara tetangga begitu cepat maju teknologinya? Tantangan inilah yang harus segera ditemukan jawabannya.
Teknologi Spesifik
Apakah yang menjadikan Jepang maju industrinya? Adalah machi kouba, yaitu pabrik-pabrik kecil di pinggiran kota yang menjadi cikal bakal kekuatan industri tersebut. Machi kouba ini bisa disetarakan dengan industri kecil menengah (IKM), tetapi yang memproduksi alat-alat mekanik dan manufaktur, peralatan industri dan penopang industri.
Keberhasilan machi kouba ini adalah menciptakan teknologi spesifik (tokushuu gijutsu). Machi kouba memiliki SDM dengan ketrampilan khusus pada bidang tertentu (ichinin-mae) dan ditekuni selama bertahun-tahun. Kepemilikan atas teknologi dan SDM ini yang memberi andil kemenangan dalam perang teknologi modern (gijutu sensou). Machi kouba inilah techno-preunuer dalam kemajuan teknologi dan industri di Jepang.
Mega industri Jepang terbentuk dengan dua cara. Pertama, peralihan spesifikasi industri setelah perang dunia ke-2. Industri berat untuk peralatan militer adopsi teknologi German (paska restorasi Meiji) dialihkan ke industri sipil. Pusat-pusat industri yang telah dialihkan itu ada di beberapa pesisir pantai, seperti Hiroshima, Hamamatsu, Nagasaki, dll. Cara yang kedua adalah suksesnya machi kouba menjadi industri besar. Mereka mengantongi ratusan paten dan melahirkan produk-produk dengan sentuhan kas teknologi yang tidak bisa ditiru oleh produsen lain.
Terobosan Industrialisasi, bisakah?
Tantangan bagi Indonesia adalah bagaimana menaikkan peringkat kekuatan industri nasional ke level internasional. Di sini, penulis mengajukan dua alternatif, sebagai langkah terobosan industrialisasi Indonesia. Alternatif ini adalah buah dari interaksi penulis dengan berbagai IKM (chuu-shou-kigyou) yang terdistribusi di berbagai cluster industy di beberapa propinsi di Jepang.
Pertama, restrukturisasi industri nasional yang ada dari sisi varitas dan spasial distribusinya. Harus ditentukan varitas industri unggulan, yang akan menjadi andalan produk Indonesia di pasar global. Pemilihan varitas industri ini akan mendorong penciptaan teknologi spesifik. Juga, distribusi spasial industri harus diatur sedemikian, sehingga dalam satu distrik (cluster industry) tidak terjadi persaingan "mematikan" antar industri berproduk sama.
Persaingan antar IKM hanya boleh terjadi apabila berbeda spasial distribusinya, yang berarti secara geografis posisi industri berjauhan. Sama dengan di eko-sistem, sebuah habitat mempertahankan spasial distribusinya agar tidak musnah ketika ada serangan dari habitat lain.
Belajar dari Jepang, ketika ada industri besar pada suatu wilayah geografis, pasti dikelilingi oleh dua atau lebih IKM yang terdistribusi secara spasial dengan radius tertentu. Adanya permintaan pasar, jumlah IKM meningkat dan jenis spesialisasinya pun bertambah. IKM-IKM tersebut berperan mendukung kebutuhan industri besar yang menjadi pusatnya. IKM satu dengan IKM lainnya berbeda spesialisasi sehingga tidak bersaing, atau sharing pasar bila produknya sama, atau bekerja sama dalam proses R&D.
Kedua, adalah melakukan kloning industri. Ini sebagai alternatif ketika sudah kentara bahwa capaian penelitian dasar (basic research) masih jauh dari aplikasi industri. Sebagai contoh, ketika terjadi krisis BBM maka alternatifnya adalah diversifikasi energi. Diversifikasi energi ini akan menghidupkan lembaga penelitian, tetapi end product masih perlu waktu. Sementara krisis tidak bisa menunggu.
Pada kondisi seperti itu, langkah tercepat adalah membeli industri sekaligus teknologinya (kloning industri) dari established country. Misal, segera beli instalasi dan teknologi gasohol dari Brazil, sekiranya dengan itu mendukung tannas energi. Dari perhitungan beaya, tidak lebih mahal dari bantuan tunai langsung (BLT) pemerintah yang 18 trilun per tahun. Brazil adalah pencipta teknologi dan produsen gasohol terbesar di dunia.
Tantangan dan Harapan
Malaysia telah menandatangi pasar bebas dengan Jepang pertengahan Desember 2005 ini. Apa maknanya? Jepang adalah pemilik teknologi (soft ware), dan Malaysia akan menyediakan lahan industri dan sarana (hard ware). Kemana Malaysia akan memasarkan produknya? Tentunya ke Indonesia, karena Indonesia adalah pemilik pasar berciri konsumtif aktif terbesar ke empat di dunia.
Dengan tantangan di atas, harapan bersama adalah segera kita bangun industri nasional yang solid, pertahankan pasar nasional, dan ekspansi pasart internasional. Di sinilah peran pemerintah dan swasta industri bekerja sama untuk mewujudkan kekuatan industri demi keadilan dan kesejahtaraan rakyat.
Bukan saatnya lagi pat-gulipat untuk kepentingan ekonomi jangka pendek, pribadi, atau golongan. Tahun 2010 sudah di depan mata, perlu kita mengaca, akankah kita terjajah lagi untuk kesekian kalinya? Bangsa ini harus segera dibenahi!
Dr. Marsudi Budi Utomo, Senior Staf Shindengen Electric Japan, Peneliti ISTECS Jepang, dan Ketua PIP PKS Jepang.
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya
Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance. Arsip lalu