Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801001
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 8 pengunjung online
Hari ini 3897 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Jumat, 13 Januari 2006 06:56:06
Artikel Iptek - Bidang Kebijakan Iptek

Pernah mendengar nama Lakshmi Mittal? Tidak perlu risau bila jawabannya tidak. Pertama walau berawalan Lakshmi dia adalah seorang pria, bukan wanita. Kedua Lakshmi Mittal bukanlah bintang film Bollywood seperti Shakrukh Khan, walau tidak diragukan lagi dia adalah seorang bintang dalam bidangnya.

Majalah Forbes dari Amerika Serikat tahun 2005 menobatkannya sebagai salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan 25 milyar dolar (250 trilyun rupiah atau lebih dari separuh dari anggaran belanja tahunan RI), menyusul di belakang nama yang sudah lebih terkenal yaitu Warren Buffet di tempat ke dua dan Bill Gates di urutan pertama. Cerita tentang Lakshmi Mittal ini (pemilik jaringan pabrik baja terbesar di planet bumi) menandai naik daunnya pengusaha India setelah sebelumnya banyak profesional India yang sukses berkiprah di berbagai perusahaan kelas dunia.

Ambil contoh Ajay Banja. Dia memulai karir di Nestle India di mana salah satu tugasnya adalah setiap hari bangun jam 4 pagi untuk mengambil susu dari peternakan-peternakan di dekat pabrik. Lalu dia pindah ke jaringan restoran PepsiCo sebelum akhirnya bergabung dengan Citigroup (induk dari Citibank) di tahun 1996. Ajay lalu dipindahkan ke Amerika Serikat tahun 2000 dan menjadi Presiden divisi retail banking Amerika Utara hanya dalam waktu dua tahun setelahnya. Baru-baru ini dia dipromosi menjadi Co-director untuk global retail banking group bersama dengan Steven Freiberg; posisi ini adalah posisi nomor dua di Citigroup (perusahaan dengan asset 1,5 trilyun dolar).

Kita semakin terbiasa menyaksikan wajah-wajah India menduduki posisi penting di luar negaranya. Entah sebagai bankir, eksekutif, ilmuwan, penulis, wartawan atau reporter, pemikir, dokter termasuk para bintang film dan sutradaranya terus menerus memperoleh pengakuan dari dunia. Belum terhitung banyaknya orang yang bekerja di industri IT (Information Technology) yang sudah menjadi trademark (merk dagang yang terkenal). Lulusan India Institute of Technology (IIT) yang tersebar di tujuh kota di India dan juga India Institute of Management (IIM) tak pernah risau dengan prospek sebagai penganggur dan malah lebih asyik berkutat memilih pekerjaan mana yang akan mereka ambil setelah lulus nantinya.

Deret kesuksesan ini dapat terus diperpanjang namun pertanyaan yang harus segera kita ajukan kepada diri sendiri adalah apakah yang membuat mereka berhasil dan mengapa Indonesia tidak dapat melakukan hal yang sama? Mengapa? Apakah orang Indonesia tidak cukup pintar?

Sungguh sebuah pertanyaan yang menggoda. Namun sayangnya pertanyaan ini tidaklah relevan dan bahkan menyesatkan. Alasan utama di belakang kesuksesan pengusaha dan professional India adalah mereka lebih berani (assertive), atau lebih pandai bicara, daripada orang-orang Asia lainnya. Hal ini mungkin dikarenakan karena kemampuan mereka dalam berbahasa Inggris yang secara langsung maupun tidak langsung menumbuhkan kepercayaan diri yang kuat. Kebanyakan orang mengabaikan pentingya watak percaya diri dan berani (self confident and assertiveness) namun dua kepribadian ini memainkan peranan penting di dunia internasional.

Di kampung-kampung di Jawa masih banyak orang yang memanggil semua orang asing yang berkulit putih "Londo" (yang secara harfiah berarti "orang Belanda") karena tidak mampu membedakan orang asing berkulit putih ada yang dari Amerika atau Eropa (Inggris, Jerman, Perancis, dsb) dan bahwa sebenarnya orang asing itu dapat berasal dari tempat yang berbeda dengan ciri yang berbeda pula. Demikian pula sebaliknya orang di luar Asia akan sulit membedakan orang Jepang dengan orang Cina secara fisik.

Kata "orang asing" tidak hanya berlaku bagi pendatang yang datang ke Indonesia tapi bangsa kita juga merupakan "orang asing" bagi bangsa lain. Karena itu kita sendiri yang harus mampu membawa diri dan menunjukkan kemampuan dan prestasi kepada mereka. Low profile-low profit dan high profile-high profit (penghargaan dari orang bertambah seiring bertambahnya kemampuan menunjukkan kelebihan) merupakan aturan main di dunia internasional.

Ini penting dikemukakan karena orang Indonesia sangat menjunjung tinggi sifat rendah hati. Tapi ada bedanya antara rendah hati, rendah diri, dan tidak mampu (humble, low esteem, dan incompetent), yang sayangnya terwakili dalam satu wadah yang sama yaitu sikap yang tidak asertif (cenderung diam, tidak mau menonjolkan prestasi, suka mengalah dan sejenisnya). Kegagalan memahami beda antara sifat-sifat tersebut di atas hanya akan membawa kepada kegagalan yang lebih besar.

Demikianlah kemampuan berbahasa Inggris merupakan faktor penunjang yang penting. Bila diperhatikan lebih seksama, negara-negara bekas jajahan Inggris mampu membangun negaranya ke tingkat penghasilan menengah atau tinggi seperti Singapura dan Malaysia. Negara bekas jajahan lain seperti Australia, Selandia Baru ataupun Irlandia (yang terakhir ini mencatat pertumbuhan tercepat di Uni Eropa selama dasawarsa terakhir) juga menunjukkan prestasi yang sama.

Dominasi bahasa Inggris sebagai bahasa internasional telah memberikan keuntungan kepada tenaga kerja di negara-negara tersebut. Dominasi ini dimungkinkan oleh "imperium Amerika" di bidang pendidikan, politik, ekonomi dan budaya (meneruskan imperium Inggris). Indonesia yang secara gegabah membuang bahasa Belanda segera setelah kemerdekaan, dan tidak menggantinya dengan bahasa Inggris atau bahkan bahasa Arab (mengingat sebagian besar penduduk muslim), harus membayar dengan harga mahal. Mampu menguasai satu atau lebih bahasa asing saat ini sudah menjadi kebutuhan dasar bila seseorang ingin berkompetisi dan tidak ada jalan lain untuk menyiasatinya.

Hal penting selanjutnya adalah kemampuan menjaga citra. Tatkala tiga hal utama yang berkelebat dalam pikiran orang mancanegara bila mendengar nama Indonesia adalah tsunami, terorisme dan korupsi, sungguh membutuhkan usaha dua kali lebih keras untuk memperbaikinya. Sebaliknya bila orang sudah mempunyai kesan yang baik terhadap sebuah bangsa maka memudahkan bagi sesama bangsanya untuk meneruskan dan menikmati. Contoh, tahun 2004 Indonesia menempati urutan ke empat penerima beasiswa Erasmus Mundus di Eropa (9 pelajar) sementara India di urutan ke enam (5 pelajar). Walau di tahun 2005 pelajar Indonesia yang menerima beasiswa meningkat menjadi 14 orang, India mampu melompat ke urutan teratas dengan 137 pelajar dan meninggalkan Indonesia jauh di urutan 14.

Mungkin ada yang bertanya bagaimana India "tega" menghasilkan orang ke tiga terkaya di dunia sementara ratusan juta dari semilyar penduduknya masih hidup dalam kemiskinan? Atau bagaimana mungkin di Bangalore yang merupakan pusat industri IT dan tenaga terdidik di India masih ada cerita orang miskin harus menyuap tujuh sampai dua belas dolar (penghasilan rata-rata seminggu bagi orang miskin di sana) kepada bidan atau perawat hanya supaya diperbolehkan melihat anaknya yang baru lahir? Bagaimana menjelaskan perbedaan yang sangat menyolok ini?

Mari kita letakkan masalahnya satu per satu. Pertama, Indonesia sendiri memiliki jutaan penduduk miskin (jadi tidak berhak mengomentari urusan dapur orang), lagipula mereka di India pasti tidak berpangku tangan mengatasi kemiskinan. Kedua, mana yang lebih baik: a) ada jutaan penduduk miskin dan tidak memiliki pengusaha dan profesional berkelas dunia, atau b) ada jutaan penduduk miskin tapi memiliki pengusaha dan professional berkelas dunia?

Sampai kapan bangsa Indonesia membiarkan dunia menertawakan negeri dengan penduduk terbanyak ke empat di dunia ini? Bagaimana mungkin ketika dunia membicarakan "adidaya baru" dari Asia melulu yang dimaksud adalah Cina dan India, negara terpadat pertama dan ke dua di Asia namun selalu mengabaikan Indonesia sebagai negara terpadat ke tiga? Nampaknya dua ratus dua puluh juta penduduk tak lebih hanya angka dan statistik kosong belaka.

Cina, India, dan Indonesia saat ini memiliki keuntungan dengan banyaknya penduduk yang berusia muda. Jepang dan Korea Selatan sudah mencium masalah karena kebanyakan penduduknya berusia lanjut (aging population) dan mulai bertanya-tanya apakah generasi selanjutnya mampu mendukung penduduk lanjut usia bila masanya tiba.

Di negara maju saja aging population menjadi masalah besar, bagaimana sekiranya itu terjadi di Indonesia? Masa depan sungguh tampak suram seandainya generasi muda saat ini tidak mampu menjadi daya dorong ekonomi. Tidak akan ada sumberdaya yang cukup untuk menopang standard of living (yang sebenarnya sudah rendah) dan tidak cukup uang untuk membayar hutang. Pendeknya kita membicarakan kemungkinan bangsa yang runtuh.

Namun kita dapat mencegah tragedi ini terjadi dengan kemauan untuk belajar dari yang lain. Sering kita dengar dalih misalnya bahwa Singapura terlalu kecil untuk ditiru. Yang lain sebaliknya mengatakan Cina atau India terlalu besar untuk diikuti. Atau Amerika Serikat sudah terlalu maju untuk dibandingkan. Tersedia ratusan dalih yang mengijinkan kita untuk tidak belajar dari yang lain, tapi apa gunanya? Hanya dengan mengkritik bangsa lain tidaklah membuat kita menjadi bangsa yang lebih baik. Tanpa bekerja sekeras seperti bangsa lain maka nasib bangsa Indonesia akan selalu terpuruk seperti ini.

Berkaitan dengan pendidikan dwi-bahasa di Indonesia, beberapa ahli telah memperdebatkan kelebihan dari metode tersebut, dan juga kekurangannya, sebagaimana diikhtisarkan oleh Pieter Van Der Vienhart (The myth of national plus schools in RI, The Jakarta Post , Sept. 3, 2005). Ada yang mengatakan kualitasnya tidak terjaga, ada yang mengomentari akan merusak kemampuan berbahasa Indonesia. Terhadap perdebatan seperti ini mungkin ada baiknya kita merenungkan kalimat berikut: "Jika engkau selalu menunggu sampai segala sesuatunya sempurna terlebih dahulu, tak ada pekerjaan yang dapat engkau selesaikan".

Aziz, Mahasiswa pascasarjana di Technical University of Munich. Tulisan ini merupakan saduran dari artikel "What can Indonesia learn from India" di koran the Jakarta Post edisi 12 September 2005. Email: aziz9672@yahoo.com

  Diskusi (percobaan)
dibaca 2719 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy