Mendengar nama bulu babi bagi sebagian masyarakat Indonesia apalagi yang tinggal di perkotaan dan jauh dari pantai, masih terdengar asing. Penampakan hewan ini memang juga kurang menarik karena pada seluruh tubuhnya dipenuhi duri-duri dan sedikit berbisa bila terkena durinya. Bahkan bagi sebagian masyarakat nelayan menganggap bahwa bulu babi inilah yang menyebabkan hama pengganggu pada tanaman rumput laut yang mereka pelihara. Organisme ini juga sangat menggangu bagi penyelam apabila tidak menggunakan alas kaki karena mudah sekali tertusuk durinya sehingga akan sedikit merasakan demam karena bisa pada duri tersebut. Contoh bulu babi dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2.
Gambar 1. Tripneustes gratilla
Namun di balik wajah dan namanya yang seram, bagi masyarakat Jepang sebagai masyarakat penggemar hasil-hasil laut, produk bulu babi berupa telur (
gonad) sangat digemari. Bila kita masuk ke warung-warung
sushi, produk bulu babi berupa telur, yang dikenal dengan "uni" dan harganya sangat mahal. Untuk satu kilogram uni di Jepang harganya berkisar antara 50 sampai $ 500 US, tergantung warna dan teksturnya.
Meskipun demikian, kegilaan masyarakat Jepang untuk mengkonsumsi uni ini sangat tinggi. Terbukti dengan 90% produk bulu babi dunia, dikonsumsi oleh masyarakat Jepang. Disebabkan karena adanya penangkapan bulu babi yang berlebihan di Jepang, yang telah berlangsung dari sekitar 100 tahun lalu, kini mereka harus mengimpornya dari Amerika Serikat, Chile, Russia, Kanada dan Korea Selatan.
Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia sebenarnya berpotensi besar untuk membudidayakan jenis ini. Menurut Laode M Aslan, ada 3 jenis bulu babi yang dapat dikembangkan di Indonesia yakni dari jenis
Echinometra spp.,
Tripneustes gratilla, dan
Diadema setosum. Ketiga jenis bulu babi ini selain pertumbuhannya cepat juga mampu menghasilkan
gonad yang lebih besar dibandingkan jenis bulu babi lainnya. Namun karena keterbatasan pengetahuan dan perhatian dari masyarakat nelayan, menyebabkan bulu babi belum banyak dilirik untuk menjadi salah satu komoditi unggulan. Selama ini pemanfaatan telur babi oleh nelayan berasal dari hasil pengumpulan dan penangkapan di alam dan masih dijual untuk komoditi pasar lokal (non ekspor).
Gambar 2. Diadema setosum
Kualitas warna gonad Perburuan telur bulu babi yang terus menggila telah mengakibatkan sedikit kekhawatiran akan punahnya hewan komoditas ekonomi penting ini. Oleh karena itu pada sebagian besar negara-negara di Amerika dan Eropa telah mulai mengembangkan budidaya jenis ini. Meskipun dalam perkembangannya, terlihat jelas adanya perbedaan mencolok antara produk tangkapan di laut dan telur dari hasil budidaya.
Perbedaan itu utamanya terletak pada warna dan tekstur telur yang dihasilkan. Warna dan tekstur adalah dua faktor penentu dalam kualitas dan harga bulu babi. Menurut Pearce dkk (2004) bahwa bulu babi yang diberi pakan buatan dapat menghasilkan telur yang besar namun warna telur yang dihasilkan pucat (
pale), sementara warna telur bulu babi tangkapan alam jauh lebih kuning kemerahan. Hal ini berpengaruh terhadap harga jual.
Memudarnya warna dan tekstur dari
gonad bulu babi ini lebih disebabkan oleh sedikitnya pasokan karoten yang ada dalam pakannya. Karoten sebagai bahan yang paling bertanggung jawab dalam pewarnaan hewan, hanya dapat diproduksi oleh tumbuhan (produsen primer) termasuk alga dan plankton. Hewan hanya dapat merubah molekul-molekul ini melalui proses oksidasi. Selama hidup di laut bebas, duri babi banyak memanfaatkan rumput laut atau plankton lainnya sebagai makanan.
Pewarnaan pada gonad bulu babi utamanya berasal dari pigmen karoten, khususnya jaringan
echinone yang disintesa dari
beta-caroten oleh tubuh bulu babi (Matsuno dan Tsushima, 2001). Warna
gonad yang pucat pada hasil budidaya bulu babi dapat ditingkatkan dengan cara memasukkan bahan yang kaya pewarna pada pakannya.
Bahan pewarna ini terbagi atas pewarna sintetik (buatan) dan alami. Bahan pewarna sintetik yang biasa digunakan adalah dari jenis
carophyll pink dan
carophyll red. Namun karena harganya yang mahal, kedua bahan ini jarang digunakan. Sedangkan bahan pewarna alami yang umum digunakan adalah berasal dari rumput laut jenis
Nereocystis luetkeana,
Dunaliella tertiolecta atau
Dunaliella salina.
Dalam pembuatan pelet (pakan ikan), bahan-bahan ini dibuat tepung dan dicampurkan dengan bahan pakan lainnya. Hasil penelitian McBridge dkk (1997) menunjukan bahwa pemberian
D. salina dalam pakan dapat meningkatkan warna kuning pada telur bulu babi jenis
Strongylocentrus franciscanus. Sementara penambahan
beta-caroten maupun
astaxanthin sintetik kurang efektif dalam meningkatkan pigmen kuning pada jenis ini.
Selain pemberian zat pewarna pada pakan, usaha untuk mendapatkan telur bulu babi berkualitas adalah dengan mengatur waktu pemanenan bulu babi di lokasi budidaya laut. Biasanya waktu yang tepat untuk pengambilan telur bulu babi adalah pada akhir musim hujan. Selama musim penghujan, komposisi makanan di laut meningkat dan mendorong organisme laut meningkatkan laju konsumsi. Selain itu kejutan suhu yang berubah-ubah selama musim penghujan akan juga merubah aktivitas metabolisme pada organisme laut, termasuk bulu babi. Pada akhir musim penghujan, kantung telur bulu babi sudah dipenuhi telur dan saat yang bersamaan organisme ini memasuki masa reproduksi.
Melihat potensi dan manfaat ekonomi yang besar ke depan, sudah saatnya untuk memberikan pengetahuan kepada para nelayan untuk tidak hanya menangkap bulu babi, namun ada usaha yang serius ke arah membudidayakan bulu babi. Selain menjaga kelestariannya, kegiatan ini setidaknya akan membantu nelayan dalam mencari alternatif sumber ekonomi bagi penghidupannya.
Agus Kurnia, Mahasiswa Program Doktor pada Tokyo University of Marine Science and Technology. Anggota ISTECS Chapter Jepang.