Perkembangan teknologi mobil mendorong terbentuknya sebuah masyarakat bermobil (
sustainable mobility). Akibat pemenuhan kebutuhan
sustainable mobility ini muncullah masalah baru bagi manusia antara lain kenaikan suhu global, permasalahan bahan bakar minyak tak terbarukan dan juga pencemaran lingkungan. Ini merupakan tantangan yang harus dipecahkan oleh industri mobil. Dan jawaban yang diberikan adalah teknologi hibrida.
Skenario Synergy DriveKehadiran teknologi hibrida agar sukses diterapkan bersamaan dengan keberhasilan teknologi mobil, memberikan persyaratan dua fungsi, yaitu kenyamanan dalam mengemudi (
fun to drive) dan ramah lingkungan. Kenyamanan dalam mengemudi menuntut pemenuhan kemampuan running mobil yang lembut dan nyaman. Kenyamanan ini tidak hanya keunggulan seat atau jok mobil saja, tetapi lebih diutamakan pada kelembutan engine dan sistem transmisinya. Dari sisi ramah lingkungan dibutuhkan pemakaian sumber energi yang super hemat dengan teknologi hibrida.
Gambar 1 Skenario hybrid synergy drive
Konsep yang memuat fungsi
fun to drive dan ramah lingkungan, disebut dengan
Hybrid Synergy Drive (HSD). HSD ini adalah merupakan konsep mobil masa datang (Gambar 1) yang digesa oleh Toyota. Beberapa agenda yang diusung untuk menggulirkan konsep ini antara lain:
- Menghibridakan mobil bermesin unggul
- Meminimalisasi konsumsi BBM mobil hibrida
- Meminimalisasi waktu akselerasi kecepatan 0-100 km/jam (di bawah 8 detik)
- Menurunkan berat motor elektrik dan mobil secara keseluruhan (weight down)
- Menggesakan Life Cycle Assessment
- Menurunkan kadar emisi gas buangan dengan teknologi green engine
Terkait dengan HSD ini, Toyota mengusung
hybrid vehicle dynamic integrated management (H-VDIM) dengan peningkatan fungsi NVH (
Noise,
Vibration and Harshness),
electric power steering 42 V (EPS),
anti-lock braking system (ABS),
tracking control (TRC),
vehicle stability control (VSC) dan lainnya.
Dalam perkembangannya, beberapa standar untuk mobil emisi rendah telah dibuat. Seperti di Amerika, telah membuat standar SULEV (
Super Ultra Low Emission Vehicle) untuk membatasi emisi dan menargetkan adanya engine yang mendukung kegiatan
eco-green. Lebih khusus lagi, negara bagian California telah menerapkan regulasi
zero emisi (
California Zero-Emission Vehicle Regulation) pada tahun 2003 yang menargetkan sharing 4% kendaraan ZEH di pasar. Sementara di Eropa digalakkan perbaikan konsumsi BBM sampai 25% dengan menerapkan kebijakan NEDC (
New European Driving Cycle).
Tantangan ke depanMobil hibrida masih termasuk teknologi baru, sehingga diperlukan usaha ekstra agar diminati oleh masyarakat. Untuk itu berbagai pihak terkait baik kalangan industri, pemerintah maupun pengusaha harus bersama-sama memikirkannya. Pertama, industri harus mampu membuat mobil hibrida ini menjadi produksi massa, menggunakan material-material umum tetapi berfungsi sama, melakukan kegiatan
cost down, dan pembukaan ladang produksi di negara-negara berkembang sehingga beaya produksi bisa ditekan.
Usaha pihak industri di atas akan memberi dampak kepada pihak pengusaha sehingga bisa menjualnya ke pasar dengan harga terjangkau masyarakat. Sementara dari pihak pemerintah, perlu adanya regulasi yang membatasi penggunaan mobil berbahan bakar minyak dan juga memberikan insentif kepada para pamakai mobil hibrida seperti pengurangan pajak kendaraan, perpanjangan surat ijin kendaraan sesuai umur LCA mobil hibrida, dan beberapa langkah lain yang mendorong memasyarakatnya mobil hibrida.
Sekarang ini, target pemasaran mobil hibrida
selain Jepang adalah negara-negara Eropa dan Amerika Utara dan Canada. Selanjutnya tidak menutup kemungkinan target pasar Asia akan lebih besar. Dari penelitian pasar, sampai tahun 2010 diperkirakan pasar Amerika akan sanggup menjual sampai 500 ribu unit per tahun. Sementara prosentase pasar mobil hibrida di tahun 2008 diperkiraan 21% di daratan Eropa, 42% di Amerika dan Canada, sisanya 37% di wilayah Asia Pasifik.
Bagi Indonesia, keberadaan mobil hibrida ini memerlukan tantangan dan harapan. Tantangannya adalah bagaimana bisa mentransfer teknologi hibrida ini menjadi teknologi nasional yang kemampuannya disesuaikan dengan kondisi medan dan iklim di Indonesia. (Ini disebabkan karena beberapa komponen mobil hibrida tidak tahan dengan suhu yang tinggi.) Sebagai harapannya, dalam jangka menengah panjang akan membantu pemerintah dalam gerakan hemat BBM dan gerakan ramah lingkungan. (Bersambung)
Dr. Marsudi Budi Utomo, Senior Staf Shindengen Electric Japan, Peneliti ISTECS Jepang, dan Ketua PIP PKS Jepang.