Minggu, 20 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2783277
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 41 pengunjung online
Hari ini 1695 pengunjung
Kemarin 2650 pengunjung

Kamis, 23 Februari 2006 08:01:04
Artikel Iptek - Bidang Tata Kota, Perumahan dan Permukiman

Jepang adalah negara yang sangat mementingkan kebersihan. Kota-kotanya sudah tentu sangat bersih. Penduduknya pun memiliki kesadaran yang tinggi terhadap masalah kebersihan ini. Tulisan berikut ini tidak hendak membahas dari sisi teknologi pengelolaan sampah di Jepang, tetapi difokuskan hanya pada bagaimana orang Jepang memisahkan sampah dan manajemen pengumpulannya di kota. Karena dari sinilah titik awal yang dapat memudahkan pengelolaan dan pengolahan selanjutnya.

Dari pengalaman dan pengamatan beberapa kota di Jepang, pemisahan ini secara umum sama namun tidak sedikit pula adanya beberapa perbedaan disebabkan kebijakan pemerintah kotanya masing-masing. Bahasan dalam tulisan ini secara khusus mengambil kasus kota Toyohashi, kota di mana penulis tinggal. Kota ini berpenduduk kurang lebih 350 ribu jiwa dan terletak di wilayah Prefecture Aichi yang beribukota Nagoya.

Lebih dari itu, bahasan ini hanya untuk sampah rumah tangga, sementara untuk sampah pabrik maupun aktifitas bisnis/komersial lainnya seperti dari toko, kantor dan restoran tidak dibahas di sini. Karena pengelolaan mereka berbeda dan tidak boleh digabungkan di sini.

Sedikitnya terdapat tujuh kategori sampah rumah tangga yang mesti dipisahkan sendiri-sendiri oleh warga kota sebelum diletakkan/dibuang ke tempat yang ditentukan pada hari yang dijadwalkan. Ketujuh itu yakni: 1) Moyasu Gomi (もやすごみ) atau Sampah yang dapat dibakar (Burnable Waste), 2) Umeru Gomi (うめるごみ) atau Sampah urug (Land-fill Waste), 3) Purasutikku Gomi (プラスチックごみ) atau Sampah plastik (Plastic Waste), 4) Kowasu Gomi (こわすごみ) atau Sampah yang dapat dihancurkan/diremukkan (Crushable Waste), 5) Yuugai Gomi (有害ごみ) atau Sampah yang beresiko/berbahaya (Hazardous Waste), 6) Shigen Gomi (資源ごみ)atau Sampah yang dapat didaur ulang (Recyclable Waste) dan 7) Okina Gomi (大きなごみ) atau Sampah besar (Bulky Waste). Masing-masing akan dijelaskan berikut ini.

1. Moyasu Gomi (もやすごみ) atau Sampah yang dapat dibakar (Burnable Waste)

Yang dimaksud dengan Moyasu Gomi (もやすごみ) atau sampah yang dapat dibakar (Burnable Waste) ini adalah utamanya sampah dapur seperti bahan/bekas sisa makanan (raw garbage), lalu sampah-sampah kayu/ranting pohon (wood waste), daun, atau rumput dan sampah kertas yang tidak dapat didaur ulang (non recyclable waste paper) seperti kertas tisu, kertas foto, serta pampers bayi/anak. Selain itu yang juga dimasukkan dalam kategori ini adalah film polaroid, puntung rokok, kaus tangan, kembang api, sumpit, pinsil, dan alat rumah tangga atau mainan-mainan dari kayu (setelah dipotong kecil-kecil jika ukurannya besar). Inilah kategori sampah yang jumlah volumenya terbesar dibanding dengan sampah-sampah kategori lainnya.

Secara umum, aturan pembuangannya adalah dua kali selama seminggu dengan jadwal hari sendiri-sendiri yang telah ditetapkan oleh pemerintah kota untuk masing-masing distrik/perumahan. Umumnya pada hari senin dan kamis sejak matahari terbit hingga pukul 8.30 pagi. Tempat meletakkan sampahnya juga sudah ditentukan oleh pemerintah kota yang disepakati oleh warga setempat. Tempat itu biasanya di pinggir jalan, sebuah pojokan, di bawah pohon, atau tempat terbuka, yang semuanya mudah diakses oleh mobil pengangkut sampah.

Sebelum dibuang, aturannya adalah semua bekas makanan di dalam kotak sampah wastafel dapur perlu hilangkan air lebih dulu dari bekas makanan tersebut (bisa juga diserap dengan kertas). Untuk pampers, sudah tentu harus dibersihkan dulu dari kotoran bayi atau anak. Untuk kayu-kayu atau ranting-ranting, perlu diikat agar tidak menyebar kemana-mana. Contoh jenis dan awal penyiapan pembuangannya dapat dilihat pada Gambar 1.

Untuk selanjutnya, Moyasu Gomi ini mesti dimasukkan ke dalam plastik yang transparan atau semi transparan yang tidak bocor dan diikat erat dengan tali, lalu diletakkan di tempat yang ditentukan sesuai hari dan waktu yang dijadwalkannya. Penulis cenderung menyebut "meletakkan" daripada "membuang" sampah, karena pada kenyataannya dalam hitungan jam bahkan menit, sampah-sampah dalam plastik yang diletakkan di tempat tadi sudah hilang dari pandangan karena telah diangkut petugas sesuai jadwalnya sendiri pada pagi atau siang hari itu juga.

Meski demikian, tampaknya untuk pengumpulan Moyasu Gomi ini ada beberapa perbedaan teknis pada daerah perumahan/distrik tertentu. Sebagai misal, untuk di kompleks perumahan penulis, setelah Moyasu Gomi ini dimasukkan ke dalam plastik yang diikat, lalu dibawa dan dimasukkan ke dalam sebuah bangunan sederhana sebagai tempat pengolahan sementara (Lihat Gambar 2). Karena mungkin ada fasilitas ini (hanya beberapa kompleks yang punya bangunan ini), pada kenyataannya, banyak juga warga yang membuangnya setiap hari. Meski mungkin hal ini tidak dibenarkan karena tidak sesuai dengan jadwalnya.


Gambar 1. Contoh jenis-jenis sampah yang dikategorikan sebagai Moyasu Gomi beserta aturan singkat penyiapan sebelum pembuangannya. (sumber: Waste Guide Book, Toyohashi City Environmental Services Department)


Gambar 2. Bangunan tempat buang dan pengolahan sementara Moyasu Gomi di kompleks Shiroyama shiei Juutaku (perumahan), Kota Toyohashi. Perhatikan lubang kecil untuk memasukkan sampah di bawah kanopi, ia di didesain selalu bisa menutup sendiri secara otomatis (Foto: Bambang Setia Budi)

2. Umeru Gomi (うめるごみ) atau Sampah urug (Land-fill Waste)

Sesuai dengan namanya, yang dimaksud Umeru Gomi (うめるごみ) atau sampah urug (Land-fill Waste) ini adalah sampah yang dipakai untuk mengurug tanah. Jenis-jenis barang yang bisa dimasukkan di sini biasanya barang yang terbuat dari tanah liat atau keramik, seperti barang-barang rumah tangga dari keramik (mangkuk, piring, gelas, teko, pot bunga, dll). Selain itu adalah batu-bata, batako dan juga barang-barang yang terbuat dari kaca (glassware) seperti gelas, meja, jendela, dll. (Lihat Gambar 3).


Gambar 3. Contoh jenis-jenis sampah yang dikategorikan sebagai Umeru Gomi. (sumber: Waste Guide Book, Toyohashi City Environmental Services Department)

Aturan pembuangannya adalah sebulan sekali dengan hari yang sudah ditentukan oleh pemerintah kota untuk setiap bulannya. Biasanya pada hari Jum`at, hanya kadang pada pekan kesatu, kedua, ketiga atau keempat. Semuanya bisa dilihat dalam jadwal yang telah disusun dalam bentuk kalender yang dibagikan kepada warga. Untuk tempat meletakkannya, umumnya sama persis dengan tempat meletakkan Moyasu Gomi. Karena jadwal harinya berbeda jadi untuk tempat ini tidak ada masalah. Jumlah volume sampahnya pun biasanya tidak banyak. (Bersambung)

Bambang Setia Budi, Pengkaji Tata Kota pada Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) Chapter Jepang dan Dosen pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung (ITB).

  Diskusi (percobaan)
dibaca 4536 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy