Minggu, 20 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2783287
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 40 pengunjung online
Hari ini 1705 pengunjung
Kemarin 2650 pengunjung

Senin, 6 Maret 2006 03:10:22
Artikel Iptek - Bidang Teknologi Transportasi

Mulai tahun 2007 Toyota akan memasok teknologi hibrida kepada Fuji Heavy Industri (FHI). FHI ini adalah produsen mobil Subaru Legacy. Sementara teknologi hibrida yang akan dipasok ke FHI adalah gabungan dari engine dan motor listrik. Semula FHI melakukan R&D sendiri untuk membangun sistem hibrida. Akan tetapi dengan keterlambatan R&D diputuskan untuk memakai sistem hibrida Toyota. Sebelumnya Toyota telah menjalin kerja sama serupa dengan Nissan dan Ford.

R&D mobil hibrida memerlukan beaya sangat besar. Toyota yang terdepan di teknologi ini memiliki kunci sehingga tidak hanya memproduksi dan menjual produk mobil hibrida, tetapi juga menjual sistem hibrida termasuk juga konsultasi dan pelatihan untuk desain teknologinya. Design mobil hibrida berbeda dengan desain mobil konvensional (engine), karena sistem elektrik (electric & electronic unit) dan sistem kendali (control unit) lebih rumit.




Gambar 1. Power modul mobil hibrida (Tokyo Motor Show 2003)




Gambar 2. Power Control Unit mobil Prius (Tokyo Motor Show 2003)

Kerja sama sharing teknologi antara Toyota dan FHI diawali dengan pemberian lisensi untuk melakukan produksi mobil Toyota terbaru di pabrik FHI Amerika. Kerja sama ini bertambah kuat setelah Toyota berhasil membeli saham FHI yang dimiliki oleh General Motor. Dengan kepemilikan saham ini, Toyota turut ambil bagian dalam menentukan arah kebijakan FHI.

Peta Teknologi Hibrida

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan tiga sistem hibrida yaitu sistem hibrida seri, sistem hibrida paralel dan gabungan sistem hibrid seri dan paralel. Ketiga sistem tersebut dikembangkan oleh perusahaan mobil yang berbeda-beda.

Pada Gambar 1 diperlihatkan pemetaan teknologi mobil hibrida dewasa ini. R&D teknologi mobil hibrida bisa dibagi dua, yaitu kubu Jepang dan kubu Eropa-Amerika. Kubu Jepang dibedakan menjadi dua: grup teknologi Toyota meliputi Toyota, Nissan dan FHI, dan grup teknologi Honda dengan R&D tunggal. Sementara kubu Eropa-Amerika, dibedakan menjadi tiga yaitu kubu GM, BWM dan Daymler-Crisler; kubu VW dan Porche; dan kubu Ford. Ford sendiri bekerja sama teknologi hibrida dengan Toyota.




Gambar 3. Peta teknologi hibrida dunia

Memproduksi Prius di China

Selama ini, mobil Toyota Prius masih diproduksi di dalam negeri Jepang dan dipasarkan di Amerika dan Eropa. Mulai Desember 2005 lalu, Toyota mulai memproduksi Prius di pabrik barunya di China. Langkah produksi di China diambil karena untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi terutama pasar Amerika dan sekaligus upaya cost down. Memproduksi di China ini merupakan langkah terobosan yang berani tetapi beresiko yang ditempuh oleh Toyota karena selama ini masih merupakan teknologi khusus yang dirahasiakan.

Pada tutup buku tahun 2005, Toyota menjual 145 ribu unit mobil Prius. Penjualannya di tahun 2006 akan diperkirakan menurun, karena kemungkinan karena adanya rilis mobil hibrida lainnya. Seperti ditunjukkan di Gambar 4, pasar Amerika utara masih menjadi konsumen terbesar. Dan sampai tahun 2010 diperkirakan pasar Amerika akan sanggup menjual sampai 500 ribu unit per tahun.




Gambar 4. Penjualan Toyota Prius

Peluang R&D Hibrida di Indonesia

Sekiranya pemerintah serius memberikan perhatian kepada dampak lingkungan akibat pengaruh pembakaran BBM di jalanan, maka harus segera digesa teknologi mobil hibrida yang pas dengan kondisi ke-Indonesia-an.

Seperti halnya mobil Prius, dan juga tipe mobil hibrida lainnya, baik ketika ujicoba maupun on road, target produk adalah untuk wilayah subtropis ke atas. Hal ini karena suhu lingkungan diharapkan tidak memberikan dampak penambahan beban panas kepada sistem elektrik dan elektronik mobil terutama pada bagian power system-nya (IGBT, FET atau Dioda). Sementara di daerah tropis dengan suhu rata-rata harian di atas 28℃ akan menambah beban panas sekitar 10℃ sehingga menyebabkan penurunan liability sistem mobil hibrida secara umum.

Sumbangan mobil hibrida dari Honda Motor kepada Puspitek Serpong beberapa waktu lalu bisa ditengarai sebagai tantangan kepada kalangan peneliti Indonesia. Sekiranya Toyota tertarik ke China, ada kemungkinan Honda justru melirik untuk produksi di Indonesia. Ini karena adanya beberapa perusahaan yang mendukung teknologi hibrida Honda telah mendahului memiliki pabrik produksi di Indonesia. Sehingga diharapkan akan muncul gagasan-gagasan baru untuk menyelesaikan problema 'ketahanan panas' mobil hibrida yang mendukung rencana tersebut.

Sebagai penutup seri tulisan ini, penulis menyampaikan beberapa agenda dasar terkait R&D mobil hibrida, antara lain;
1. Terkait elektrik/elektronik : teknologi analog/digital, teknologi desain sirkuit, elektrik/elektronik material, teknologi electric/electronic assembly, noise, dll.
2. Terkait thermal/suhu : teknologi fisika panas, transpor fenomena, struktur panas, material tahan panas, teknologi pengujian mutu atau QC, dll.
3. Terkait asembly atau perakiitan : teknologi fisika bahan, kekuatan bahan, teknik asembli kompak, teknologi chip/modul (IGBT), imajinasi struktur, teknologi korosi, teknologi vibrasi, teknologi fluida dinamik, dll
4. Terkait penghubung : teknologi plating, teknologi las (TIG, YAG), teknologi solder, teknologi perekat, teknologi soket, dll. (Selesai).

Dr. Marsudi Budi Utomo, Senior Staf Shindengen Electric Japan MFG pada proyek 'Roda 4' untuk converter dan inverter mobil FC dan HEV, Peneliti ISTECS Jepang, dan Ketua PIP PKS Jepang.

  Diskusi (percobaan)
dibaca 6075 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy