Mulai tahun 2007 Toyota akan memasok teknologi hibrida kepada Fuji Heavy Industri (FHI). FHI ini adalah produsen mobil Subaru Legacy. Sementara teknologi hibrida yang akan dipasok ke FHI adalah gabungan dari engine dan motor listrik. Semula FHI melakukan
R&D sendiri untuk membangun sistem hibrida. Akan tetapi dengan keterlambatan
R&D diputuskan untuk memakai sistem hibrida Toyota. Sebelumnya Toyota telah menjalin kerja sama serupa dengan Nissan dan Ford.
R&D mobil hibrida memerlukan beaya sangat besar. Toyota yang terdepan di teknologi ini memiliki kunci sehingga tidak hanya memproduksi dan menjual produk mobil hibrida, tetapi juga menjual sistem hibrida termasuk juga konsultasi dan pelatihan untuk desain teknologinya. Design mobil hibrida berbeda dengan desain mobil konvensional (
engine), karena sistem elektrik (
electric & electronic unit) dan sistem kendali (
control unit) lebih rumit.
Gambar 1. Power modul mobil hibrida (Tokyo Motor Show 2003)
Gambar 2. Power Control Unit mobil Prius (Tokyo Motor Show 2003)
Kerja sama sharing teknologi antara Toyota dan FHI diawali dengan pemberian lisensi untuk melakukan produksi mobil Toyota terbaru di pabrik FHI Amerika. Kerja sama ini bertambah kuat setelah Toyota berhasil membeli saham FHI yang dimiliki oleh General Motor. Dengan kepemilikan saham ini, Toyota turut ambil bagian dalam menentukan arah kebijakan FHI.
Peta Teknologi Hibrida
Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan tiga sistem hibrida yaitu sistem hibrida seri, sistem hibrida paralel dan gabungan sistem hibrid seri dan paralel. Ketiga sistem tersebut dikembangkan oleh perusahaan mobil yang berbeda-beda.
Pada Gambar 1 diperlihatkan pemetaan teknologi mobil hibrida dewasa ini.
R&D teknologi mobil hibrida bisa dibagi dua, yaitu kubu Jepang dan kubu Eropa-Amerika. Kubu Jepang dibedakan menjadi dua: grup teknologi Toyota meliputi Toyota, Nissan dan FHI, dan grup teknologi Honda dengan R&D tunggal. Sementara kubu Eropa-Amerika, dibedakan menjadi tiga yaitu kubu GM, BWM dan Daymler-Crisler; kubu VW dan Porche; dan kubu Ford. Ford sendiri bekerja sama teknologi hibrida dengan Toyota.
Gambar 3. Peta teknologi hibrida dunia
Memproduksi Prius di ChinaSelama ini, mobil Toyota Prius masih diproduksi di dalam negeri Jepang dan dipasarkan di Amerika dan Eropa. Mulai Desember 2005 lalu, Toyota mulai memproduksi Prius di pabrik barunya di China. Langkah produksi di China diambil karena untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi terutama pasar Amerika dan sekaligus upaya cost down. Memproduksi di China ini merupakan langkah terobosan yang berani tetapi beresiko yang ditempuh oleh Toyota karena selama ini masih merupakan teknologi khusus yang dirahasiakan.
Pada tutup buku tahun 2005, Toyota menjual 145 ribu unit mobil Prius. Penjualannya di tahun 2006 akan diperkirakan menurun, karena kemungkinan karena adanya rilis mobil hibrida lainnya. Seperti ditunjukkan di Gambar 4, pasar Amerika utara masih menjadi konsumen terbesar. Dan sampai tahun 2010 diperkirakan pasar Amerika akan sanggup menjual sampai 500 ribu unit per tahun.
Gambar 4. Penjualan Toyota Prius
Peluang R&D Hibrida di Indonesia
Sekiranya pemerintah serius memberikan perhatian kepada dampak lingkungan akibat pengaruh pembakaran BBM di jalanan, maka harus segera digesa teknologi mobil hibrida yang pas dengan kondisi ke-Indonesia-an.
Seperti halnya mobil Prius, dan juga tipe mobil hibrida lainnya, baik ketika ujicoba maupun on road, target produk adalah untuk wilayah subtropis ke atas. Hal ini karena suhu lingkungan diharapkan tidak memberikan dampak penambahan beban panas kepada sistem elektrik dan elektronik mobil terutama pada bagian
power system-nya (IGBT, FET atau Dioda). Sementara di daerah tropis dengan suhu rata-rata harian di atas 28℃ akan menambah beban panas sekitar 10℃ sehingga menyebabkan penurunan liability sistem mobil hibrida secara umum.
Sumbangan mobil hibrida dari Honda Motor kepada Puspitek Serpong beberapa waktu lalu bisa ditengarai sebagai tantangan kepada kalangan peneliti Indonesia. Sekiranya Toyota tertarik ke China, ada kemungkinan Honda justru melirik untuk produksi di Indonesia. Ini karena adanya beberapa perusahaan yang mendukung teknologi hibrida Honda telah mendahului memiliki pabrik produksi di Indonesia. Sehingga diharapkan akan muncul gagasan-gagasan baru untuk menyelesaikan problema 'ketahanan panas' mobil hibrida yang mendukung rencana tersebut.
Sebagai penutup seri tulisan ini, penulis menyampaikan beberapa agenda dasar terkait R&D mobil hibrida, antara lain;
1. Terkait elektrik/elektronik : teknologi analog/digital, teknologi desain sirkuit, elektrik/elektronik material, teknologi
electric/electronic assembly,
noise, dll.
2. Terkait thermal/suhu : teknologi fisika panas, transpor fenomena, struktur panas, material tahan panas, teknologi pengujian mutu atau QC, dll.
3. Terkait
asembly atau perakiitan : teknologi fisika bahan, kekuatan bahan, teknik asembli kompak, teknologi chip/modul (IGBT), imajinasi struktur, teknologi korosi, teknologi vibrasi, teknologi fluida dinamik, dll
4. Terkait penghubung : teknologi
plating, teknologi las (TIG, YAG), teknologi solder, teknologi perekat, teknologi soket, dll. (Selesai).
Dr. Marsudi Budi Utomo, Senior Staf Shindengen Electric Japan MFG pada proyek 'Roda 4' untuk converter dan inverter mobil FC dan HEV, Peneliti ISTECS Jepang, dan Ketua PIP PKS Jepang.