Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801101
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 12 pengunjung online
Hari ini 3997 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Senin, 29 Mei 2006 06:44:42
Artikel Iptek - Bidang Biologi, Pangan, dan Kesehatan

Kondisi Perikanan Dunia

Ikan sebagai sumber makanan protein hewani tidak akan pernah terlepas dari seberapa besar tingkat konsumsi ikan dunia. Oleh karena itu seiring dengan pertumbuhan populasi dunia, konsumsi ikanpun semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data dari Badan Pangan Dunia (FAO), konsumsi ikan dunia telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1973 dan negara-negara berkembang mengambil peran penting dalam masalah ini. China dengan dominasi dalam faktor pendapatan dan kependudukan, telah mendominasi konsumsi ikan dunia dan menggeser posisi jepang, dimana konsumsi ikannya sebanyak 36% dalam tahun 1997 dan dibandingkan hanya sekitar 11% di tahun 1973. Sementara jepang ditahun yang sama menurun dari 24% menjadi tinggal 11%.


Gambar 1. Gambaran perbandingan konsumsi perikanan dunia tahun 1973 dan 1997 (Sumber,FAO 1997)

Saat ini lebih kurang seperempat bagian dari ikan yang dikonsumsi oleh penduduk dunia adalah berasal produk budidaya dan persentase ini akan terus meningkat, sementara produk hasil tangkapan dari laut dan danau akan terus menurun disebabkan overfishing dan kerusakan lingkungan. Penurunan ini terjadi selama 10 tahun (1970 sampai 1980 an), dimana penangkapan ikan dilakukan secara besar-besaran sebagai hasil dari perluasan area penangkapan, penerapan teknologi penangkapan terbaru dan meningkatnya inveastasi pada sektor ini. Akibatnya produk ikan dari hasil penangkapan melonjak tajam dari 44 juta ton di tahun 1973 menjadi 65 juta ton di tahun 1997.

Kondisi ini menyebabkan operasi penangkapan ikan telah menjadikan eksploitasi yang berlebih dilaut.Oleh karena itu harapan kedepan dari produksi perikanan dunia tertumpu pada aktivitas budidaya ikan yang pada dasarwarsa ini lebih diarahkan ke bidang budidaya laut.

Budidaya ikan saat ini menyumbang sekitar 30% dari total produksi ikan dunia dan negara-negara Asia mendomniasi sekitar 87% produksi ikan budidaya dunia. China sejauh ini memimpin produksi ikan hasil budidaya dengan menyumbang sekitar 60% produk budidaya ikan dunia. Kemudian diikuti oleh India 9%, Jepang (4%) dan Indonesia diurutan keempat dengan menyumbang sekitar 4% produksi perikanan budidaya ikan dunia (FAO, 1997)

Kecenderungan kegiatan budidaya terus meningkat sementara aktivitas penangkapan akan berjalan lambat sampai tahun 2020 (Gambar 2).

Aquaculture Production as a Share of Total Marine and Freshwater Fish Harvest, 1984-95


Gambar 2. Secara umum, hampir 20% dari produksi perikanan di tahun 1995 berasal dari produk budidaya atau sekitar 21 juta ton dari 112 juta ton produk perikanan dunia (Keterangan : Data ini hanya meliputi ikan dan kerang, tidak termasuk rumput laut)
Sumber : Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), The State of World Fisheries and Aquaculture, 1996 (FAO, Rome, 1997),

Kondisi Perikanan Indonesia


Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia (81.000 km) setelah Kanada dan kekayaan alam laut yang besar dan beranekaragam telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi besar dalam bidang perikanan.

Namun, seperti halnya kondisi perikanan dunia, kondisi perikanan tangkap Indonesia juga semakin menurun dari tahun ke tahun sehingga hal ini mendorong upaya peningkatan aktivitas di bidang budidaya ikan.



Gambar 3. Rata-rata tahunan hasil perikanan tangkap dan produksi total perikanan budidaya di Indonesia tahun 1984-1999.

Peningkatan rata-rata produksi budidaya ikan tahunan lebih tinggi dibanding dengan peningkatan aktivitas penangkapan. Sebagai contoh, dari tahun 1986-1991, produksi ikan dari perikanan tangkap meningkat sebesar 5%, sementara pertumbuhan tahunan dalam produksi budidaya adalah 8.5%.

Peranan peningkatan budidaya dalam produksi perikanan dapat dibuktikan melalui meningkatnya kontribusi perikanan budidaya terhadap total produksi perikanan, meskipun kegiatan budidaya ikna ini hanya menyumbang sebesar 30% dati total produksi perikanan nasional. Sebagai contoh, pada tahun 1980, total ekspor perikanan Indonesia hanya sekitar 200 juta US dolar, tetapi pada tahun 2000, telah meningkat menjadi 1600 juta US dolar.


Gambar 4. Kondisi perdagangan perikanan dan produksi perikanan di Indonesia tahun 1980-2000

Berdasarkan hal ini, kontribusi budidaya terhadap produksi nasional perikanan diharapkan meningkat agar kedepan diharapkan perikanan budidaya menjadi salah satu andalan sumber devisa non-migas.

Sebenarnya situasi ini pernah terjadi ditahun 80-an dimana animo masyarakat untuk kegiatan budidaya sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan tambak udang dan bandeng yang saat itu udang menjadi salah satu andalan ekspor non migas dan menjadi primadona perikanan Indonesia.

Aktivitas budidaya udang yang tinggi tetapi tidak dibarengi dengan usaha penyelamatan lingkungan perairan mengakibatkan usaha tambak udang menjadi hancur akibat serangan hama dan penyakit yang melanda hampir seluruh kawasan tambak di Indonesia. Tidak hanya itu, kerusakan lingkungan akibat kegiatan tambak udang (salah satunya adalah hancurnya ekosistem hutan mangrove dan habitat organisme) menjadi tantangan yang sangat berat untuk pengembangan budidaya ikan ke depan.

Olehnya itu kedepan harus dimunculkan konsep bagaimana mengembangkan 'budidaya ikan ramah lingkungan' yang tidak hanya meningkat dalam produksi tetapi juga aman dan ramah terhadap lingkungan perairan dimana organisme itu dibudidayakan.

Agus Kurnia, E-mail: fatmi_70@yahoo.com, Staf Pengajar Jurusan Perikanan Universitas Haluoleo Kendari, Kandidat Doktor pada Tokyo University of Marine Science and Technology.Tokyo, Anggota ISTECS Chapter Japan


  Diskusi (percobaan)
dibaca 6975 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy