Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801063
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 12 pengunjung online
Hari ini 3959 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Selasa, 7 November 2006 06:24:13
Artikel Iptek

Berbicara tentang bahan pewarna ikan janganlah dibayangkan sebagaimana penambahan formalin atau borax pada kasus daging ayam atau ikan asin. Hanya untuk keuntungan sesaat bahan-bahan tersebut dioleskan ke bahan pangan dan akibatnya sangat membahayakan bagi konsumen. Pewarnaan ikan dilakukan dengan memasukan bahan pewarna kedalam pakan ikan budidaya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas warna ikan yang bila tidak dilakukan akan menjadikan warna pudar pada ikan budidaya.Tulisan ini lebih mengarah kepada informasi bagi para produsen pakan ikan atau para petani budidaya ikan agar mempunyai pengetahuan yang mendalam akan sumber-sumber bahan pewarna baik pada ikan budidaya maupun pada ikan hias.

Seperti kita ketahui bersama bahwa penambahan pewarna pada pakan ikan budidaya akan mengakibatkan adanya peningkatan pigmen warna, minimal ikan mampu mempertahankan pigmen warna pada tubuhnya selama masa pemeliharaan di kolam,tambak atau jaring apung. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam budidaya, ikan yang pakannya mengandung pigmen warna akan nampak seperti ikan hasil tangkapan di alam, sementara ikan yang diberi pakan komersil dan tidak mengandung pigmen warna dalam pakannya, warna ikan akan memudar dan bahkan akan menjadi lebih gelap. Selain karena ketiadaan pigmen warna dalam pakannya, kondisi ini disebabkan oleh dominasi pigmen melanin akibat radiasi sinar matahari saat ikan dipelihara dikolam terbuka atau jaring apung laut.

Perbedaan warna yang sangat mencolok ini berimbas pada harga jual ikan tersebut. Hasil beberapa survey penelitian menunjukkan bahwa konsumen menilai warna ikan yang baik terkait dengan harga, kesegaran dan kualitas daging yang bagus pula.

Oleh karena itu kebutuhan mendasar dalam pembuatan pakan ikan selain keseimbangan nutrisi, maka perlu dipertimbangkan pula untuk menambahkan bahan pewarna dalam pakan ikan budidaya. Bahan pewarna itu lebih dikenal dengan karoten. Ada beberapa jenis karoten dialam, namun jenis karoten yang paling efektif dan dominan untuk pewarna pada ikan adalah karoten dari jenis astaxanthin. Dibanding jenis karoten lain seperti beta-caroten atau cantaxanthin, astaxanthin menunjukkan pengaruh yang dominan dalam pewarnaan ikan budidaya. Berdasarkan sumbernya, astaxanthin dibagi atas 2 bagian yakni : astaxanthin alami (natural astaxanthin) dan astaxanthin buatan (synthetic astaxanthin).

1. Astaxanthin alami.

Astaxanthin alami adalah jenis astaxanthin yang didapatkan dari produsen primer seperti tanaman, phytoplankton atau mikroorganisme seperti bakteri atau ragi. Atau hewan seperti jenis udang rebon, udang krill atau sisa buangan kepala udang. Sumber astaxanthin alami yang umum digunakan dalam dunia budidaya ikan diantaranya adalah : Haematococcus pluvialis, Chlorella vulgaris, Phaffia rhodozyma, Paracoccus dan udang krill.

1.a. Haematococcus pluvialis

Mikroorganisme ini adalah yang paling banyak digunakan sebagai bahan pewarna pada pakan ikan budidaya. Haematococcus pluvialis adalah alga sel tunggal dari spesies Chlorophyta yang penyebarannya sangat luas terutama pada daerah bermusim empat. Pada kondisi pertumbuhan yang normal, Haematococcus adalah berwarna hijau dan organisme ini melayang di air (Gbr.2a). Namun saat hidup dilingkungan yang rendah nutrien, cahaya terang atau kondisi lingkungan buruk lainnya, mereka akan membentuk spora dan secara cepat memproduksi astaxanthin (Gbr 2b). Diduga bahwa Haematococcus memproduksi astaxanthin sebagai perlindungan serangan sinar ultraviolet saat lingkungan buruk. Selanjutnya spora dapat pecah dan kembali menjadi alga hijau saat lingkungan sudah kondusif untuk tumbuh.

Pada dasarnya produksi tepung alga Haematococcus sebagai sumber astaxanthin alami relatif mudah sebab alga ini tumbuh dengan cepat pada media dengan nutrien yang sederhana. Akan tetapi karena Haematococcus tumbuh pada media kultur yang netral, kontaminasi oleh mikroalga lain dan protozoa dapat menimbulkan masalah. Hambatan-hambatan ini harus dihilangkan dan karenanya memerlukan teknologi yang lebih canggih untuk mengontrolnya. Masalah lain yang juga jadi kendala dan akibatnya terkadang pengaruhnya sebagai bahan pewarna kurang efektif adalah adanya ketebalan dinding sel yang tinggi pada alga ini sehingga perlu usaha untuk sedapat mungkin menghancurukan dinding sel tersebut sehingga mudah langsung diserap oleh sistem metabolisme tubuh ikan.
Perusahaan yang sudah memproduksi Haematococcus secara massal adalah Cyanotech Corporation di Hawaii yang menggunakan kombinasi dari fotobioreaktor tertutup dan terbuka dan mempunyai teknologi penggilingan untuk mengancurkan dinding sel. Produk tersebut (tepung Haematococcus) kemudian disemprot kering dan diawetkan dengan memakai ethoxyquin atau antioksidan lainnya untuk mencegah kerusakannya. Kapasitas produksi Cyanotech dalam setahun lebih dari 70 metrik tons tepung alga haematococcus (minimal kandungan 1.5% astaxanthin).Merek dagang dari Haematococcus yang diproduksi oleh Cyanotech adalah NatuRose.

komposisi dari tepung alga Haematococcus terdiri dari carotenoids, asam lemak, protein, karbohidrat, dan mineral. Astaxanthin dalam Haematococcus mengandung sekitar 70% monoester (berkaitan dengan 16:0, 18:1 dan 18:2 asam lemak), 25% diester dan 5% pigmen lain. Komposisi ester ini mirip dengan yang ada di jenis crustacea. Dengan kandungan astaxanthin 1.5%, kita hanya memerlukan 5.33 kg tepung alga Haematococcus untuk ditambahkan ke dalam 1 ton pakan untuk mencapai konsentrasi 80 ppm astaxanthin dalam pakan.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa NatuRose ditemukan seefektif astaxanthin buatan pada pewarnaan ikan rainbow trout. Bahkan pada penelitian yang lainnya menunjukkan bahwa NatuRose lebih efektif dalam pewarnaan ikan kakap merah dibanding ikan yang diberi pakan yang mengandung astaxanthin buatan. Namun hasil penelitian pada ikan mas koki menunjukkan bahwa akibat adanya dinding sel yang tebal, pewarnaan dengan Haematococcus tidak efektif.

1.b Phaffia Yeast.

Phaffia yeast adalah bentuk asexual dari ragi, Xanthophyllomyces dendrorhous (Golubevm 1995), Nama -nama komersial yang beredar dipasaran atas produk ini adalah Red Star Phaffia Natural color, Red Star Phaffia Yeast, dan belakangan dikenal sebagai Ecotone Phaffia Natural Color. Ecotone ini umumnya terdiri atas Phaffia rhodozyma (80%), dan kurang dari 20% ragi Phaffia cerevisiae, dan mengandung 2000mg ethoxyquin/kg. produk. Penambahan Saccarhomyces cerevisiae dimaksudkan untuk untuk mencukupi standarisasi kandungan astaxanthinnya, sedangkan penambahan ethoxyquin dimaksudkan untuk menghindari terjadinya oksidasi. Namun bahan bahan dasar ini memungkin diganti dengan bahan yang mirip dengan bahan dasar seperti ethoxyquin yang bisa juga diganti dengan bahan antioksidan lainnya.
Kandungan astaxanthin Phaffia rhodozyma adalah lebih dari 90% dan didominasi oleh free astaxanthin, non-ester, 3R,3'R (dari 3 bentuk molekul enansiomer astaxanthin : 3S,3'S; 3S,3R; 3R,3'R). Red Star Phaffia natural color mengandung lebih dari 4000 mg astaxanthin/kg ragi, sedangkan Ecotone Phaffia natural colour mengandung 4000 – 6000 mg/kg ragi. Menurut Andrews, Paff and Star (1973) menyatakan bahwa Phaffia rhodozyma mengandung 87-89% astaxanthin dalam karotenoid. Meskipun pada dasarnya astaxanthin yang diisolasi dari P.rhodozyma adalah E-isomer, namun tiap kultur Phaffia rhodozyma mngandung Z-isomer, beta-isomer (2-2.5% dari total karoten), echinenone (2-4% dari total karoten),3-hidroxyechinenone (3-4.5% dari total koraten), dan phoenicoxanthin (5-7% dari total karoten).gamma-karoten, neurosporene dan lycopene ada dalam jumlah kecil (trace elements).
Red star Phaffia yeast natural color mengandung sekitar 29-31% protein, 21-29% lemak, 2.9-3.6% abu dan 39-41% karbohidrat.

Gbr.3 Phaffia yeast. Pada kondisi normal, Phaffia yeast berkembang biak dengan tunas (a). Pada kondisi stress lingkungan, mereka lebih banyak lagi memproduksi tunas (b, c, d)

Sifat-sifat mikrobial dijelaskan dengan melalui jumlah total bakteri < 15.000/g ragi, jamur < 60 g, jumlah bakteri E.coli < 3/g dan salmonela negatif dan Phaffia rhodozyma < 1/g.
Ecotone Phaffia natural color yang diproduksi pada padasarnya sama dengan Red star Phaffia Natural Color, namun pada proses tahapan selanjutnya, ecotone digiling sehalus mungkin untuk meningkatkan bioavailability astaxanthinnya.

Kestabilan Ecotone Phaffia natural color, menurut hasil penelitian, menunjukan adanya perununan kandungan astaxanthin selama penyimpanan. Penyimpanan ecotone pada suhu 30oC, kandungan astaxanthinnya hilang sekitar 7% setelah 42 hari, pada hari ke-83 astaxanthinnya hilang sekitar 33% dan setelah 149 dan 180 hari, astaxanthin yang hilang adalah 50%.
Setelah 42 hari penyimpanan pada suhu 6oC, kandungan astaxanthin menurun menjadi tinggal 97%, setelah 82 hari menjadi 95%, 112 hari menjadi 99%, setelah 149 hari menjadi 97% dan setelah 180 hari menjadi 96%. Ini berarti penyimpanan pada suhu 6oC adalah yang terbaik.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ecotone Corporation menunjukkan bahwa sumber astaxanthin Phaffia memberikan hasil yang lebih tinggi pada pigmentasi daging ikan rainbow trout setelah 12 minggu pemberian pakan dibanding dengan pemberian astaxanthin buatan. Pada pemberian pakan dengan kandungan 61 mg milled yeast/kg pakan menghasilkan deposit astaxanthin pada kulit sebanyak 8.2-0.1 mg astaxanthin/kg daging trout, sedang pada pakan yang tidak diberi ragi dengan kandungan astaxanthin 56 mg/kg pakan hanya mampu mendepositkan astaxanthin dalam daging trout sejumlah 3.7-0.2 mg/kg daging trout dan pembrian pakan yang mengandung astaxanthin buatan dengan kandungan 58 mg astaxanthin buatan/kg pakan mampu nedepositkan astaxnthin pada daging rainbow trout sebesar 8.6-0.9 mg/kg.

Agus Kurnia, mahasiswa doktoral Tokyo University of Marine Science and Technology

  Diskusi (percobaan)
dibaca 5057 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy