Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801103
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 12 pengunjung online
Hari ini 3999 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Sabtu, 6 Januari 2007 20:50:39
Artikel Iptek

Pada bagian pertama telah dijelaskan secara panjang lebar tentang bahan pewarna yang umum digunakan dalam budidaya ikan. Asal bahan pewarna yang dimasukkan ke dalam pakan ikan biasanya berasal dari tumbuhan (produsen primer) baik tumbuhan tingkat tinggi (buah merah Irian, daun alfalfa, kulit buah tomat, wortel dan lain-lain) maupun tumbuhan tingkat rendah (chlorella, rumput laut, bakteri, cendawan, dan lain-lain). Oleh karena itu Indonesia sebagai negara yang beriklim tropis dengan keanekaragaman tumbuhannya, menjadi sumber yang sangat potensial untuk mendapatkan sumber-sumber pewarna alami. Selain itu, telah ditemukan pula bahan pewarna hasil rekayasa mikrobiologi, yang dengannya bisa dihasilkan bahan pewarna yang murah dan mudah untuk dikembangbiakkan. Salah satu di antara pewarna rekayasa ini adalah bacteria gene modified (BGM).

Selain membahas tentang bahan pewarna yang umum digunakan dalam kegiatan budidaya ikan atau budidaya ikan hias, pada akhir tulisan ini kami ingin menyajikan tiga bahan baru pewarna ikan yang meliputi (1) marine bacteria, (2) bacteria gen termodifikasi dan (3) astaxanthin buatan. Ketiga bahan ini masih berada dalam pengujian skala laboratorium tapi tidak menutup kemungkinan untuk segera dapat digunakan dalam kegiatan budidaya ikan.  

1. Marine bacteria (Paracoccus sp)

Bahan pewarna dari bakteri ini relatif baru ditemukan dan belum banyak dilakukan penelitian tentang efektifitas pigmentasinya pada ikan budidaya. Bakteri Paracoccus sp adalah bakteri air laut yang berbentuk kokkus (bulat) dari genus Paracoccus. Bakteri ini mampu memproduksi dan secara aktif menghasilkan ketokarotenoids, seperti adonixanthin dan astaxanthin. Karotenoid disimpan dalam sel-sel bakterinya dalam partikel halus. Fenomena ini adalah khas dan belum pernah diamati sebelumnya pada bakteri lain. Hal ini mengakibatkan Paracoccus sp mudah untuk dipisahkan dari suatu spesies karotenoid khusus dari media melalui pemanenan partikel karotenoid dan kemudian dilanjutkan dengan proses-proses fermentasi. Selain adonirubin dan astaxanthin, Paracoccus sp juga menghasilkan lycopene, ƒÒ- carotene, echinenone, ƒÒ- cryptoxanthin, cantaxanthin, adonixanthin, cis-adonixanthin dan zeaxanthin.


Gambar 1.  Marine bacteria (Paracoccus sp)

Hasil penelitian yang dilakukan Agus (2005) pada skala laboratorium bahwa pemberian Paracoccus dalam pakan ikan kakap merah meningkatkan kandungan carotenoid pada kulit sebesar 7.73 dan 2 kali lipat dibanding ikan yang diberi pakan komersil dan pakan yang mengandung astaxanthin buatan. Sedang kandungan astaxanthin pada kulit ikan Kakap merah yang diberi pakan Paracoccus lebih tinggi 6.2 dan 1.6 kali dibanding ikan yang pakan tidak mengandung astaxanthin dan yang ikan yang diberi astaxanthin buatan dalam pakannya.


 Gambar 2. Perbedaan warna ikan kakap yang tidak diberi astaxanthin (control) dan yang
         diberi astaxanthin dalam pakannya (treatment).

Pada penelitian skala lapangan yang dilakukan pada jaring apung di laut dimana dibandingkan pemberian Paracoccus dan Haematococcus sebagai pewarna dalam pakan, terlihat bahwa ikan kakap merah yang diberi Paracoccus dalam pakannya terlihat sedikit lebih tinggi kandungan total carotenoid maupun astaxanthin dibanding dengan pemberian haematococcus.

Hal ini menunjukkan bahwa paracoccus sebagai bahan pigmen baru dapat dijadikan sebagai bahan pewarna dalam pakan ikan baik dalam skala budidaya maupun untuk pemeliharaan ikan hias. Namun sebagai bahan temuan baru, kendala harga masih jadi pertimbangan untuk pemasaran dalam skala besar. Sebagai perbandingan 1 kg astaxanthin buatan (Carophyll Pink) bisa seharga 2.300 yen, sementara pada berat yang sama, harga 1 kg marine bacteria (Paracoccus) mencapai sekitar 6.000 yen.
 
2.  Bakteri gen termodifikasi

Perkembangan terbaru teknik mikrobiologi menggagas adanya usaha membuat bakteri yang bisa menghasilkan pigment pewarna yang murah dan dalam jumlah yang banyak. Usaha ini berhasil diwujudkan dengan membuat bakteri gen termodifikasi (Bacteria gene modification) atau lebih dikenal sebagai bakteri astaxanthin. Bakteri ini dihasilkan dengan menyuntikkan gen pewarna ke bakteri Escherichia coli dan selanjutnya dalam waktu singkat berkembangbiak dan menghasilkan bakteri penghasil astaxanthin. Kemudian seperti pada bahan pewarna lainnya, bakteri ini dibuat tepung dan dicampurkan kedalam pakan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Agus (2005) berupa pemberian bakteri astaxanthin dalam pakan ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada kulit ikan kakap merah dibanding dengan ikan control. Nilai perbandingan total carotenoid dan astaxanthin pada kulit ikan kakap yang diberi pakan bakteri astaxanthin masing-masing sebesar 3.4 kali dan 2.9 kali lebih besar dibandingkan dengan ikan control. Nilai ini masih lebih besar 1.4 kali dan 1.5 kali dibanding ikan kakap yang diberi pakan astaxanthin buatan, namun lebih kecil 1.3 kali dan 1.0 kali total carotene dan astaxanthin dibanding ikan kakap yang dalam pakannya mengandung Paracoccus sp.

Secara produksi dan nilai jual dari bakteri astaxanthin sudah lebih mudah dan murah (dapat teratasi), namun masyarakat masih ragu untuk mengkonsumsi segala jenis produk pertanian yang berasal dari gen termodifikasi.

3.  Astaxanthin Buatan (synthetic astaxanthin)

Berbeda dengan kedua sumber astaxanthin sebelumnya, astaxanthin buatan berasal dari CAROPHYLL PINK sebagai nama atau merek dagang yang diberikan. CAROPHYLL PINK adalah suatu produk inovatif dengan suatu struktur beadlet (menyerupai butiran manik-manik) tanaman. Bahan ini sangat praktis, mudah larut dalam air dan sangat tahan terhadap proses-proses fisik atau kimia. Ia adalah suatu produk yang berbentuk sangat fleksibel. Bahan pewarna ini dibungkus dengan starch (tepung kanji) sehingga tidak berdebu dan tidak berdampak pada pencemaran lingkungan perairan. Bentuk partikel, ukuran dan jumlah partikel bahan ini dirancang sedemikian rupa agar dapat terdistribusi secara merata pada saat pembuatan pakan ikan. Molekul-molekul carophyll pink ini distabilkan dengan bantuan antioksidan dan dibungkus dengan karbohidrat dan gelatin. Dilihat dari komposisi utama bahan pewarna sintetik, bahan ini didominasi oleh astaxanthin bebas (free astaxanthin) yang sangat berbeda dengan pewarna alami yang didomnasi oleh astaxanthin ester (baik mono maupun diester).  

Dalam proses pembuatan pakan, astaxanthin ini pecah dan keluar dari carophyll pink. Ini penting untuk meningkatkan biovaialabilitynya (pemanfaatan) dari yang sebelumnya terbungkus dalam lapisan kapsulnya. Mungkin ada sedikit astaxanthin yang hilang selama proses pembuatan pakan ikan atau selama dalam penyimpanan pakan di gudang pakan.

Gambar di bawah ini menunjukkan struktur pelapisan astaxanthin yang sempurna dalam lapisan karbohidrat dan gelatin serta dilindungi pula oleh antioksidan yang merupakan keunggulan bahan pewarna ini.


Dinilai dari tingkat biovailabilitynya, Carophyll pink memiliki bioavialabilty yang lebih tinggi dibandingkan dengan astaxanthin alami (Haematococcus sp dan Phaffia yeast). 


Berdasarkan pada kandungan astaxanthinnya, Carophyll Pink terbagi atas 2 jenis yaitu Carophyll Pink 8% yang mengandung minimal 8% astaxanthin dan Carophyll Pink 10% -astaxanthin sintetik terbaru- dengan kandungan astaxanthin minimal 10%. Kedua produk ini dibuat oleh dua perusahaan yang berbeda. Carophyll pink 10% diproduksi oleh DSM limited corporation Basil ¡VSwitzerland, sementara Carophyll Pink 8% diproduksi oleh Hoffman-La Roche Corporation, USA. Meskipun relatif baru digunakan di lingkungan budidaya ikan, hasil penelitian menunjukkan bahwa carophyll pink 10% ini pengaruhnya sama baiknya dengan carophyll pink 8% baik pada ingkat bioavailabilitas maupun pada tingkat flesibilitasnya.


Gambar 4. Tingkat fleksibilitas dan bioavailabilitas Carophyll Pink 8% dan 10%.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pigmentasi pada ikan yang diberikan astaxanthin buatan, pengaruh pewarnaannya menjadi lebih baik dibandingkan dengan pakan alami. Hal ini kemungkinan disebabkan karena bahan ini mudah diserap oleh tubuh ikan, sedangkan pada pewarna alami terkadang sulit diserap karena ketebalan dinding selnya.

Melihat banyaknya sumber-sumber bahan pewarna baik alami, buatan, maupun hasil rekayasa genetika, maka sebaiknya pemberian warna dalam pakan ikan mutlak diperhatikan. Potensi kekayaan aneka ragam hayati dan tumbuhan negara kita memungkinkan kita mampu memproduksi bahan pewarna ikan yang lebih murah dan jika memungkinan kita bisa mengekspornya ke luar negeri. Untuk ke depannya, diharapkan dengan peningkatan harga ikan budidaya sebagai hasil dari pewarnaan yang baik akan menjadikan kualitas ikan kita meningkat dan bisa menjadi andalan produk perikanan dunia.

Agus Kurnia. Mahasiswa program Doktor pada Tokyo University of Marine Science and Technology. Staf Pengajar pada Universitas Haluoleo, Kendari.  E-mail : fatmi_70@yahoo.com


  Diskusi (percobaan)
dibaca 5943 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy