Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801090
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 13 pengunjung online
Hari ini 3986 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Kamis, 26 April 2007 09:42:06
Artikel Iptek

Berwisata ke taman hiburan seperti Disneyland atau Dunia Fantasi tentulah menyenangkan. Wisata ini menjadi lebih mengasyikkan jika ternyata lokasi yang dikunjungi adalah pulau hasil reklamasi di muara sungai yang sekaligus juga berfungsi sebagai infrastruktur penahan banjir dari badai dan gelombang pasang laut.

Taman hiburan yang unik ini adalah kawasan Waterland Neeltje Jaans yang letaknya di muara sungai Oosterschelde, Provinsi Zeeland, Belanda. Waterland Neeltje Jaans pada awalnya adalah gundukan pasir di muara sungai yang direklamasi untuk dijadikan pangkalan bagi konstruksi infrastruktur penahan gelombang laut sekaligus tempat pembuatan komponen pra-cetak. Setelah proses pembangunan selesai, pulau seluas 1,5 kilometer persegi ini dijadikan fasilitas wisata keluarga dengan komodifikasi wahana-wahana bertemakan laut. Wahana yang terdapat disini adalah: Perosotan Air, Mesin Badai, Pelataran Air, Singa Laut, Dunia Paus, Moby Dick, Makanan dari Laut, Pantai Bermain, Pantai Marina, dan Patung Pasir.

Peresmian infrastruktur penahan gelombang Oosterschelde di tahun 1986 menandai puncak pencapaian sains dan teknologi manusia dalam 'menaklukkan' ancaman bencana banjir dari laut. Konstruksi ini merupakan rangkaian dari Proyek Delta yang bertujuan melindungi dataran rendah dari ancaman banjir yang datang dari laut, khususnya pada daerah yang terletak di bawah muka Laut Utara di sepanjang pesisir timur dan wilayah muara sungai di selatan Belanda.

Terobosan pada konstruksi penahan gelombang Oosterschelde adalah upaya mempertahankan kualitas ekologis muara sungai dengan penggunaan gerbang yang dapat dibuka-tutup. Pada kondisi normal, gerbang baja dibuka sehingga memungkinkan percampuran arus laut dan sungai. Pada situasi bahaya, ketika muka air laut naik melebihi ambang batas, gerbang ini secara otomatis ditutup dengan sistem hidrolik sehingga berfungsi seperti dam penahan air laut. Pada saat ini beda ketinggian antara muka air laut dan sungai bisa mencapai 3 meter.

Konstruksi penahan gelombang Oosterschelde terdiri dari 62 gerbang baja dengan bentang terbesar adalah 12 meter dan berat sekitar 480 ton. Seluruh gerbang baja tersebut disangga oleh 63 struktur beton penyangga (pier) raksasa. Setiap pier memiliki ketinggian bevariasi antara 30-38 meter dan berat sekitar 18.000 ton. Selain menyangga gerbang baja, pier-pier ini juga dirancang sebagai penyangga jalan (jembatan) yang melintas di atasnya yang menghubungkan daratan di kedua ujung konstruksi ini. Uniknya juga, desain struktur beton dari tiap segmen jalan dibuat berongga, dan bagian rongga yang menerus ini dimanfaatkan sebagai lorong pameran.

Pembangunan penahan gelombang ini memakan biaya tak kurang dari 2,5 milyar euro dalam rentang tahun 1979 - 1986. Proses pembangunannya menjadi jejak sejarah perkembangan dunia konstruksi infrastruktur air dengan banyaknya inovasi dan aplikasi teknik baru di dalamnya. Bahkan empat buah kapal, yakni Mytilus, Cardium, Ostrea, dan Macome dibuat khusus dalam proses pembangunan ini untuk memadatkan dasar laut, menggelar lapisan karpet pondasi, serta membawa dan meletakkan seluruh pier raksasa dari daratan tempat konstruksi menuju posisinya di dasar laut dengan tingkat akurasi yang tinggi. Kesuksesan ini didokumentasikan dalam suatu sasana pameran tetap Delta Expo di tengah taman hiburan Neeltje Jaans.

Di dalam sasana Delta Expo, ditampilkan dengan menarik perjalanan panjang pembuatan infrastruktur penahan gelombang ini pada aspek politis, sosial, dan teknis. Berkait dengan proses pembangunannya, dijelaskan dengan detil metode konstruksi, miniatur komponen dan peralatan konstruksi, serta contoh nyatanya seperti potongan ragka beton dan karpet yang mengalasi dasar laut. Sasana ini juga menjadi pusat dokumentasi terlengkap mega proyek Delta yang merupakan momen penting dari perjuangan Belanda dalam menangkal dan mengantisipasi bahaya banjir. Selain itu, sasana ini juga menampilkan dokumentasi keragaman hayati lingkungan tepi air yang dimiliki negara ini. Semua materi pameran ditampilkan dalam format dan media yang ringkas, menarik dan mudah dicerna, bahkan dalam bentuk permainan yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga. Diintegrasikannya sasana pameran di tengah taman hiburan keluarga menjadikan proses pembelajaran masyarakat suatu kegiatan wisata yang mengasyikkan.

Upaya struktural mitigasi bencana biasanya memakan biaya yang sangat besar serta menerapkan teknologi yang canggih. Belajar dari Neeltje Jaans, fasilitas dan infrastruktur yang telah dibangun pada upaya ini tentunya harus dirancang untuk bisa dimanfaatkan lebih jauh bagi aktivitas-aktivitas lain yang berdaya-guna seperti transportasi, pariwisata, dan pendidikan masyarakat tentang perkembangan iptek, kesadaran ekologi, dan kesadaran bencana. Secara tidak langsung, yang terakhir juga merupakan upaya non-struktural dalam memitigasi bencana. Integrasi fungsi ini selain menghasilkan pendapatan tersendiri bagi pengelolanya, juga bisa membantu pengendalian guna lahan di daerah rawan bencana dan pengendalian konsentrasi penduduk di saat bencana datang. 

Keterangan Foto dan Illustrasi

  Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Komponen penahan gelombang laut Oosteschelde terdiri dari gerbang baja yang bisa dibuka-tutup, pier penyangga, pondasi pier, struktursegmen jalan dan rongganya yang dimanfaatkan sebagai lorong pameran. 

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Suasana di atas pier yang menyangga gerbang baja (tengah) yang memisahkan muara sungai Oosterschelde (sebelah kanan) dengan Laut Utara (sebelah kiri). Konstruksi ini juga dimanfaatkan sebagai penyangga jalan antar pulau.


Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Penahan gelombang Oosterschelde juga berfungsi sebagai penyangga jalan yang menghubungkan Waterland Neetje Jaans dengan daerah Burgh-Haamstede di utaranya.

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Peta yang menujukkan beragam fasilitas di dalam kawasan Waterland Neeltje Jaans.


Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Ruang interior sasana pameran Delta Expo yang menampilkan fosil gajah purba. Fosil ini ditemukan di dasar laut ketika konstruksi penahan gelombang berlangsung.

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Bangunan sasana pameran Delta Expo yang dirancang oleh dua biro arsitek yang berbeda yakni Oosterhuis associates dan NOX Architekten Rotterdam. Bangunan dibagi menjadi dua zona, yakni zona  "air tawar" dan zona "air asin".

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Instalasi pameran yang menunjukkan perjuangan negara Belanda dalam mengatasi bencana banjir dari tahun ke tahun.

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Instalasi pameran yang menunjukkan mekanisme buka-tutup gerbang penahan gelombang dan juga tahapan pembangunan infrastruktur ini.

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Instalasi pameran yang menunjukkan contoh komponen struktural dan miniatur peralatan yang digunakan dalam proses pembangunan.

Sumber: Google Earth
Posisi kawasan Neeltje Jaans di tengah muara sungai Oosterschelde.

Amin Budiarjo, Praktisi Perencanaan dan Pembangunan Perkotaan
Telepon: +62 (0) 81 1234 306
http://abudiarjo.blogs.friendster.com 

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Instalasi pameran yang menunjukkan mekanisme buka-tutup gerbang penahan gelombang dan juga tahapan pembangunan infrastruktur ini.

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Instalasi pameran yang menunjukkan contoh komponen struktural dan miniatur peralatan yang digunakan dalam proses pembangunan.

Sumber: Google Earth
Posisi kawasan Neeltje Jaans di tengah muara sungai Oosterschelde.

Amin Budiarjo, Praktisi Perencanaan dan Pembangunan Perkotaan
Telepon: +62 (0) 81 1234 306
http://abudiarjo.blogs.friendster.com 


  Diskusi (percobaan)
dibaca 3432 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy