Pada tahun 2008, hubungan diplomatik Indonesia-Jepang genap 50 Tahun. Dalam rangka menyongsong momen besar ini, Institute of Science and Technology Studies (ISTECS) Chapter Jepang menyelenggarakan sarasehan pada 30 April 2007 di Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Acara ini dihadiri para pejabat KBRI Tokyo, direktur BUMN, serta pekerja dan pelajar yang tinggal di Jepang.
Di hadapan para peserta, keynote speaker Dr. Jusuf Anwar, Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, menjelaskan bahwa Jepang menduduki rangking pertama dalam besarnya investasi negara-negara asing ke Indonesia. Akan tetapi dilihat dari total investasi Jepang ke luar negeri Jepang, Indonesia menempati urutan ke-9. Untuk meningkatkan hubungan bilateral yang lebih erat, Duta Besar menggarisbawahi pentingnya people to people relation selain usaha-usaha yang selama ini dilakukan.
Sebagai panelis dalam diskusi hadir Prof. Dr. Yoshinori Murai dari Sophia University Tokyo dan Rofi' Munawar dari lembaga manajemen Trustco Indonesia. Prof. Murai banyak menyampaikan pendapat-pendapat kritis terhadap kebijakan ODA (Official Development Assisstance) oleh pemerintah Jepang terhadap Indonesia.
Profesor dalam bidang Asian Culture ini juga mengutarakan lima alasan mengapa Indonesia menempati rangking pertama sebagai penerima ODA, yaitu adanya hubungan sejarah antara kedua negara, perang dingin Timur-Barat memperebutkan pengaruh di Asia, perlunya menjaga stabilitas Selat Malaka yang 80 persen kebutuhan energi Jepang diangkut melalui selat ini, kekayaan alam Indonesia dan terakhir adanya lobi-lobi politik di parlemen Jepang.
Rofi' Munawar memaparkan dinamika politik Indonesia dan kaitannya dengan hubungan Indonesia-Jepang. Terhadap pertanyaan peserta tentang bagaimana sebaiknya hubungan Indonesia-Jepang ke depan, Rofi' menilai bahwa hubungan yang ada selama ini lebih menguntungkan Jepang. Karenanya perlu peningkatan hubungan yang lebih simetris.
Sarasehan ini ditutup oleh ketua ISTECS Jepang Dr. Ratno Nuryadi dengan menegaskan bahwa sarasehan ini bertujuan untuk menggali lebih jauh pentingnya hubungan Indonesia-Jepang dan mengumpulkan ide-ide baru guna mempererat hubungan di masa mendatang.
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya
Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance. Arsip lalu