Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) Chapter Jepang menyelenggarakan Diskusi Spring Round tentang menejemen/pengelolaan aset negara, Sabtu siang (5 Mei 2007) di Tokyo. Diskusi ini menghadirkan 2 panelis, Rofi' Munawar dari lembaga manajemen Trustco Indonesia dan Tatang Arudji, Kepala Pertamina Perwakilan Wilayah Asia Timur.
Di hadapan para peserta, Rofi' Munawar memaparkan filosofi pengelolaan aset negara bahwa pengelolaan aset negara harus berorientasi pada usaha mengatasi persoalan pokok pembangunan, khususnya kemiskinan. Rofi', yang juga politisi ini, meneropong adanya usaha-usaha -dari pihak yang tidak bertanggung jawab- membuat proyek kemiskinan di Indonesia sehingga masalah kemiskinan tidak pernah tuntas.
Kondisi ini memunculkan fenomena di tengah masyarakat yang dikenal dengan segitiga kemiskinan yang saling terkait satu dengan yang lain, yaitu kemiskinan itu sendiri, tekanan karena ledakan jumlah penduduk yang sulit dibendung dan tekanan lingkungan yang belum juga membaik dari waktu ke waktu. Pengelolaan aset negara diharapkan bisa mengatasi persoalan dasar ekonomi rakyat ini.
Menjawab pertanyaan peserta diskusi tentang adanya fakta BUMN menjadi sapi perah parpol, Rofi' mengusulkan agar pemerintah membuat aturan yang jelas dan tegas karena dalam aturan-aturan yang ada sekarang banyak dijumpai lubang untuk dipermainkan.
Tatang Arudji mengutarakan usaha PT. Pertamina dalam peningkatan sistem informasi dan peningkatan kualitas SDM sebagai langkah strategis di era globalisasi sekarang.
Pertamina, yang pada tahun 2007 asetnya mencapai lebih dari Rp. 170 Triliun ini, mempunyai proyek di berbagai bidang baik pendidikan, kesehatan, penerbangan, perhotelan dan lain-lain, selain kor utamanya bidang energi yaitu bisnis minyak-gas. Karena perannya yang besar bagi negara ini, Pertamina mendapat pengawasan yang ketat dari banyak pihak baik eksekutif, legislatif maupun konsumer, terutama sejak era reformasi.
Meski mempunyai banyak jenis proyek bisnis, ke depan Pertamina bermaksud lebih berkonsentrasi ke minyak dan gas sebagai kor utamanya, dan secara lambat laun akan mengurangi proyek yang lain, ujar Tatang.
Diskusi Spring Round ini diakhiri dengan pemberian cindera mata buku "Serba-Serbi Energi, bunga rampai energi dari negeri Sakurah dari Ketua Istecs Jepang, Ratno Nuryadi, kepada kedua panelis. Buku yang dikeluarkan ISTECS Jepang ini memberikan wawasan yang cukup luas dan dalam tentang berbagai aspek energi alternatif dan sumbang saran bagi pembangunan energi bangsa.
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya
Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance. Arsip lalu