Minggu, 20 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2783273
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 43 pengunjung online
Hari ini 1691 pengunjung
Kemarin 2650 pengunjung

Rabu, 27 Juni 2007 00:51:59
Catatan Perjalanan

Pada Oktober 2006 penulis berkesempatan menghadiri sebuah simposium dan pameran yang cukup besar bidang Rekayasa Kelautan. Kesan mendasar yang penulis dapatkan adalah keseriusan Jepang dalam menggarap potensi laut mereka. Ada beberapa informasi inovasi teknologi penting yang ingin penulis bagikan di sini karena cukup relevan dengan kondisi kekinian Indonesia.

Perhelatan ini bernama Techno-Ocean 2006/19th JASNAOE Ocean Engineering Symposium Exhibition yang diselenggarakan di Kobe International Exhibition Hall pada tanggal 18-20 Oktober 2006. Topik yang diambil kali ini adalah "Our future and Ocean". Terkait dengan topik ini, dalam kata sambutannya, ketua panitia yang terdiri dari Takeo KONDO (Nihon University), Hidehiro KATSUI (TAISEI Corporation) dan Shoichiro KONASHI (ALEC Electronics CO., LTD) menyatakan, masa depan manusia tidak akan terlepas dari lautan sebagai "ibu" dari bumi ini. Barangkali mereka ingin menekankan bahwa ini adalah suatu keniscayaan bagi sebuah negara kepulauan seperti Jepang.

Gambar 1. Berpose di depan salah satu stan pameran, bermoto "Exploring the wonder in the Oceans"

Event yang di antaranya dimotori oleh beberapa asosiasi ternama di bidangnya yaitu Techno-Ocean Network (TON), Japan Society of Naval Architects and Ocean Engineers (JASNAOE), Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) dan Advanced Earth Science & Technology Organization (AESTO) ini menampilkan hasil-hasil riset dan teknologi terkini dalam bidang teknologi kelautan. Beberapa diantaranya yang menjadi perhatian penulis adalah sebagai berikut.
 
Sailing Type Large Floating Wind Farm
Penelitian dan pengembangan struktur ini sedang digarap oleh Asosiasi Bangunan Apung Jepang. Asosiasi ini, The Floating Structures Association of Japan, kini berada di bawah koordinasi dan supervisi dari Dr. Takeshi Kinoshita (Tokyo University), Dr. Ken Takagi (Osaka University) dan Dr.Yutaka Terao (Tokai University).

Struktur ini menggunakan konsep struktur semi-apung yang biasanya digunakan dalam industri penambanganan migas bernama Semi-submersible. Kali ini diaplikasikan sebagai bangunan penopang sistim kincir angin pembangkit energi. Struktur ini dapat dioperasikan meski berpindah-pindah lokasi (mobile) karena dilengkapi dengan wahana pendorong (thruster) sehingga sangat cocok untuk sebuah wilayah kepulauan seperti Jepang atau Indonesia.


Gambar 2. Ilustrasi bangunan Ladang Kincir Angin Terapung dalam kondisi sedang berlayar di lautan.

Proyek yang disponsori oleh NIES (National Institute for Environmental Studies) ini akan menghasilkan sebuah struktur apung raksasa dengan feature utama berikut:- Penghasil hydrogen dari air laut dengan cara elektrolisis.
- Tanpa sistim tali-tambat, dapat dioperasikan berpindah-pindah dengan menggunakan sistim layar sehingga pada saat cuaca buruk dapat berlayar menuju perairan yang lebih aman.
- Pemanfaatan gaya angkat yang bekerja pada elemen struktur apungnya sehingga dapat menghemat energi.
- Struktur berbentuk ramping dengan kategori struktur lambung ringan (light weight hull).
- Didisain berkapasitas jangka panjang (long life design).

Spesifikasi struktur apung ini secara singkat adalah sebagai berikut:
- Dimensi (panjang x lebar x sarat): 2.060m x 70,2m x 30m.
Displacement: +/-200.000 ton.
- Kecepatan maks.: 8 knot.
- Fasilitas: wind power generator (5 MW x 11 unit), hydrogen plant (1 unit), layar (4.500m2 x 4 unit), thruster (4.200 kW x 6 unit).

Floating LNG Terminal

Proyek kedua yang sedang digagas oleh Asosiasi Bangunan Apung ini adalah sebuah Terminal LNG Lepas-pantai (Offshore LNG Terminal) yang menggunakan struktur apung skala besar (MEGA-FLOAT floating structure), seperti halnya konsep struktur yang dipakai dalam pembangunan bandara terapung Internasional Kansai Osaka-Jepang.

Rancangan struktur ini diharapkan akan memiliki kemampuan antara lain:
- Tingkat keamanan tinggi karena menggunakan konsep penyimpanan LNG di area lepas-pantai.
- Kapasitas areal penyimpanan multiguna yang besar, penyimpanan LNG dan bahan (makanan) awetan.
- Pembangkit energi untuk keperluan menjaga rentang temperatur penyimpanan bahan awetan.
 Struktur pengapung ini disain mampu beroperasi hingga tinggi gelombang 4,5m dan kecepatan angin mencapai 23 m/s. Untuk menjaga kestabilan posisinya selama operasi, digunakan sistem tambat rantai berjumlah 16 buah yang ditambatkan di dasar perairan.

Dengan berukuran panjang 600m, lebar 500m, tinggi 38m dengan draft (tinggi tercelup air) 8-10m, struktur mega float ini mampu menyimpan hingga 1.000.000 ton LNG. Sementara kapasitas simpan untuk bahan awetan dingin mencapai 500.000 ton (=500.000 m2) dengan kondisi temperature antara -40oC hingga 60oC dan mampu menghasilkan energi listrik sebesar 1.000 kW.


Gambar 3. Ilustrasi bangunan Terminal LNG Terapung tertambat di tengah lautan.

Kapal tanpa Water Ballast

Inovasi teknologi lain yang ditawarkan adalah konsep kapal tanpa air peyeimbang (water ballast). Konsep kapal ini lahir menyusul adanya peraturan terkait dengan impak limbah air ballast kapal terhadap ekosistim laut (The International Convention for Control and Management of Ship's Ballast Water and Sediments) yang diadopsi IMO (International Maritime Organization) sejak Februari 2004.

Sebagai informasi, selama operasinya di lautan, sebuah kapal tanker atau kapal muatan curah (bulk carriers) memerlukan ballast water (yaitu air laut yang dihisap dan dikeluarkan dari lambung kapal guna menjaga stabilitas kapal) untuk menjaga draft yang cukup demi keselamatan operasinya.

Dalam kondisi tak bermuatan, air laut dipompa ke dalam tangki-tangki khusus dalam lambung kapal. Selain untuk menjaga ketinggian draft, hal ini juga penting bagi integritas struktur kapal itu sendiri terhadap beban-beban hidrodinamik yang bekerja. Jika kapal bermuatan penuh, maka air penyeimbang ini dibuang ke laut. Selama proses bongkar-muat air ballast ini ternyata didapati pengaruhnya yang cukup signifikan terhadap perubahan dan kerusakan ekosistim di perairan dimana proses itu berlangsung, akibat adanya reproduksi mikroorganisme laut dalam air ballast tersebut.

Untuk itu Shipbuilding Research Center of Japan (SRC) segera menjawab tantangan ini dengan mengembangkan konsep baru bernama "Non Ballast Water Ship (NOBS)". Sebelum melahirkan konsep ini, SRC telah melakukan banyak riset dan pengembangan untuk kapal jenis tanker dan muatan curah sejak 2001.

Secara singkat konsep NOBS ini adalah upaya disain lambung kapal sedemikian rupa sehingga dapat dicapai draft yang cukup pada saat kapal sedang beroperasi. Tujuannya adalah menghindari beban impak gelombang (slamming) berlebih yang bekerja pada struktur lambung bawah bagian depan dan menjaga agar baling-baling kapal tetap berada di bawah permukaan air pada saat kapal kosong (tak bermuatan). Prinsip ini pada dasarnya menyangkut 3 hal pokok seperti dirangkum dalam gambar berikut ini.


Gambar 4. Tiga faktor pokok yang dikembangkan dalam konsep NOBS.

Indikator performansi yang didapat dari pengembangan NOBS ini salah satunya dapat dilihat dari hasil pengujian model untuk gerakan rolling-nya. Dari dua kondisi yang diuji, kondisi muatan penuh dan kosong, terlihat terjadi pengurangan sudut gerak rolling yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kapal sejenis yang konvensional (NOBS grafik warna merah, kapal konvensional grafik warna putih).

 Gambar 5. Perbandingan respon gerak rolling antara kapal konvensional dan kapal NOBS, kondisi muatan penuh.

Indikator kinerja lainnya yang berhasil diperbaiki adalah besar daya yang diperlukan kapal. Untuk mencapai kecepatan yang sama, kapal NOBS memerlukan daya lebih kecil dibandingkan dengan kapal konvensional. Hal ini berlaku baik untuk kondisi muatan penuh maupun muatan kosong.
 

Gambar 6. Perbandingan respon gerak rolling antara kapal konvensional dan kapal NOBS, kondisi muatan kosong.

Penutup

Dari event yang diikuti oleh sekitar 60 partisipan ini, baik dari institusi pendidikan, pemerintah maupun perusahaan swasta (sebagian besar dari perusahaan seperti Kawasaki Kisen Kaisha, LTD., Mitsubishi Heavy Industries, LTD., Mitsui Engineering & Shipbuilding Co., Ltd., dll.), dari kaca mata penulis terlihat jelas akan kesadaran masyarakat Jepang (pemerintah maupun swasta) terhadap potensi terbesarnya sebagai negara kapulauan. Mereka yakin akan menjadi lebih baik dalam menapaki masa depannya melalui pengelolaan potensi laut dengan pengembangan teknologi-teknologi yang berbasis kelautan secara serius dan berkelanjutan.

Dalam perjalanan pulang di dalam kereta, sambil menikmati pemandangan panorama laut dan pelabuhan di bawahnya (karena kereta melintas di atasnya), saya sempat berpikir, sudah saatnya (bahkan mungkin agak telat) kita rubah paradigma kita dalam memandang lautan, sebagai sebuah potensi yang bukan sekedar potensi sampingan setelah potensi daratan kita, guna merubah nasib bangsa besar bernama Indonesia.

Minimal mulai belajar dari Jepang tentang bagaimana mereka memaknai dan memperlakukan lautnya sebagai sumber kemakmuran mereka di masa depan. Rasanya tidak terlalu berlebihan bila kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan segala potensi kelautannya yang sangat besar (jauh lebih besar dari yang dimiliki Jepang), sudah saatnya untuk berpikir kembali dengan sungguh-sungguh tentang potensi semua ini. Kemudian disusul dengan langkah-langkah konkrit yang bertahap dan berkesinambungan dalam spirit kerangka jangka panjang yang jelas, bukan lagi bergaya "angin-anginan" jangka pendek asal-asalan. Semoga!

Rudi Walujo Prastianto, Staf Pengajar Jurusan Teknik Kelautan EITS ESurabaya
Mahasiswa S3, Osaka Prefecture University, Japan


  Diskusi (percobaan)
dibaca 3267 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy