Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801105
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 12 pengunjung online
Hari ini 4001 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Selasa, 10 Juli 2007 02:55:20
Artikel Iptek

Tuna bagi hampir semua masyarakat Jepang dan bahkan dunia bukan lagi hal yang baru. Ikan ini sangat terkenal dan menjadi idola bagi si pemburu dollar. Tuna juga sangat digemari karena kelezatan rasa dan aromanya. Ikan tuna termasuk dalam family scrombidae, jenis ikan berbentuk torpedo, perenang cepat dan bisa mencapai berat 500 kg.

Ikan ini juga mempunyai wilayah migrasi yang cukup luas yakni tersebar hampir di 100 negara. Salah satunya adalah Southern Bluefin Tuna yang memijah pada musim panas bulan September sampai Maret di perairan barat selatan Jawa dan kemudian bergerak dan ditemukan di daerah selatan antara 30 - 50o Lintang Selatan. Anak-anak ikan ini kemudian bergerak dan menyebar ke laut Selatan, laut Atlantik Selatan dan kembali ke laut Hindia untuk memijah.


Gambar 1. Tuna (a) Southern bluefin tuna (Thunnus maccoyii), jenis tuna yang paling dicari; (b) "Toro" sashimi, bagian daging tuna yang paling enak dan mahal.

Namun suatu laporan yang mencengangkan ditulis oleh Worm dkk dalam majalah Science (2006) menyebutkan bahwa persediaan ikan dunia (perikanan tangkap) akan musnah pada tahun 2048 bila perburuan ikan, utamanya ikan tuna, masih terus menggila seperti saat ini dan tidak adanya upaya pembatasan dalam pengelolaan perikanan tangkap. Hal ini dibuktikan pula dengan produksi tangkapan ikan tuna dunia yang terus menurun dari tahun ke tahun.

Jepang sebagai negara pemakan ikan terbesar di dunia mengalamai fluktuasi dalam produk tuna Jepang dari hasil penangkapan dalam kurun waktu 40 tahun (tahun 1950 ・2000). Produk hasil tangkapan bluefin tuna Jepang (telah) mencapai puncaknya pada tahun 60-an yang hampir mendekati 80.000 ton dan kemudian menurun sampai tahun 1990 yang hanya mencapai 10.000 ton dan tidak pernah bangkit lagi hingga tahun 2000.

Gambar. 2.   Produksi hasil tangkapan ikan bluefin tuna dalam kurun waktu
                     40 tahun : (a). Jepang (b). Australia.      

Demikian pula halnya dengan Australia yang hanya mencapai puncak produksi tuna sekitar 20.000 ton di tahun 1982 dan kemudian menurun drastis menjadi 6000 ton di tahun 1990 sampai tahun 2000. Laporan Japan Fisheries Agency 2005 menegaskan bahwa umumnya jumlah populasi ikan tuna semisal tuna sirip biru (bluefin tuna), West atlantic bluefin, tuna albacore, tuna pasifik, dan tuna mata besar mengalami penurunan stok akibat penangkapan berlebih. Hal ini dapat pula dibuktikan dengan nilai volume impor ikan tuna ke Jepang sebesar 269.63 juta yen di tahun 2002 menjadi 248.92 juta yen atau menurun 3.7% di tahun 2005.

Kenyataan ini membuat khawatir akan musnahnya ikan tuna dunia dan pada akhirnya dibuatlah berbagai kebijakan untuk menyelamatkan keberlangsungan sumberdaya tuna yang meliputi pengumpulan data-data statistik sumber daya tuna setiap negara untuk memonitor sistem perdagangannya, pelarangan ekspor tuna ilegal dan pelarangan perdagangan alat tangkap yang tidak direkomendasikan untuk dipakai seperti pukat harimau. Selain itu pengaturan penangkapan tuna perlu dilakukan di setiap negara semisal pembatasan ukuran mata jaring, lisensi, dan pembatasan kuota penangkapan. 

Jepang sebagai negara importir and konsumen tuna terbesar di dunia telah memulai usaha untuk ini dengan membentuk lembaga hukum guna memproteksi dan mengelola tuna pada tahun 1996. Kemudian pada tahun 1998, Food and Agriculture Organizaton of the United Nations (FAO) membentuk  lembaga internasional yang bernama International Plan of Action for management of Fishing Capacity. Ini dimaksudkan agar sumber daya ikan tuna dunia tidak punah dan untuk menepis kehawatiran tersebut.

Selain itu budidaya ikan sebagai usaha yang salah satunya bertujuan memelihara sumberdaya hayati laut termasuk ikan tuna menjadi suatu keniscayaan untuk mengatasi masalah ini. Beberapa negara di antaranya Australia dan Mexico telah memulai usaha budidaya ikan tuna dan bahkan lebih jauh Jepang berhasil mengembangkan riset ikan tuna mulai dari tahap pemijahan hingga pemeliharaan tuna ukuran konsumsi.

Dua tipe Budidaya Tuna

Secara umum ada dua tipe budidaya  yang dikembangkan dalam budidaya tuna adalah :

1. Penggemukan anak tuna.

Metode ini umumnya dilakukan oleh Australia, tepatnya di Port Lincoln yang dimulai sekitar tahun 1991 dengan cara menangkap anak-anak tuna berukuran panjang 120 cm dengan berat sekitar 30-50 kg. Anak-anak tuna ini ditangkap di perairan selatan Australia dan kemudian dibesarkan (digemukkan) dalam jaring apung laut (ponton laut) selama 3-5 bulan sampai mencapai ukuran konsumsi untuk dipasarkan sebagian besar ke Jepang.

Sebelum adanya kegiatan budidaya tuna di tahun 1996, nilai ekspor tuna Australia hanya sebesar 6 juta US $, namun semenjak digalakkaannya usaha budidaya, Australia berhasil mendongkrak nilai ekspor tunanya sebesar 202 juta US $ di tahun 1999/2000 dan meningkat lagi di tahun 2002/2003 menjadi 320 juta US $.

Anak-anak tuna ditangkap dengan mengunakan purse seine dan setelah terjaring ikannya tetap berada di air laut (dalam jarring) dan ditarik dengan kapal berkecepatan kecepatan 1 ・2 knot. Setelah tiba di lokasi budidaya langsung dipindah ke dalam pontoon (karamba jarring apung).

Gambar 3. Jaring apung ( Ponton) pemeliharaan tuna

Bentuk pontoon (karamba jaring apung tuna) sebaiknya adalah lingkaran berdiameter 30 ・40 meter terbuat dan dari plastik polietilene hitam. Ring-ringnya terapung dipermukaan air dan ditopang dengan tiang penyangga. Tiap 2 jaring dihubungkan dengan pelampung. Adapun jaring bagian dalam yang berisi tuna, mempunyai ukuran mata jaring  60 mm ・90 mm dan kedalaman jaring 12 ・20 meter. Dasar jaring diletakkan berada paling sedikit 5 meter dari permukaan dasar laut. Sementara jaring bagian luar dipakai untuk mencegahnya dari pemangsaan ikan hiu atau untuk mencegah adanya tuna yang terlepas. Ukuran mata jaring luar ini sebesar 150 mm ・200 mm. Namun studi terbaru menyimpulkan bahwa jaring luar tidak diperlukan untuk menghemat ongkos produksi.

Harga satu jaring sebesar 80.000 ・200.000 US$. Satu unit jaring apung standar mampu menampung 2000 ekor anak tuna dan itu tergantung berapa diameter jaring dan daya tampung maksimum yang diizinkan, idealnya 4 kg per meter kubik air. Jaring apung dengan diameter 40 m menyediakan volume sebesar 80% lebih besar dari jaring dengan diameter 30 m, dan seterusnya bila jaring apung tersebut berdiameter 50 m maka akan mempunyai 60% volume lebih besar lagi dalam jumlah ikan yang bisa dipelihara.

                            Gambar 4.  Suasana dalam jaring apung ikan tuna.

Ikan tuna yang tertangkap diberi pakan 2 kali sehari dengan menu ikan sarden atau ikan mackerel. Namun saat ini sudah dikembangkan dengan pembuatan dan pemberian makanan buatan (pellet) yang lebih tinggi tingkat efisiensi konsumsi pakannya dan dapat menghemat biaya.

Gambar 5.  Jenis ikan sarden dan mackerel menjadi santapan tuna 2 kali sehari

Namun perlu dicatat bahwa industri budidaya tuna bukanlah perkara yang mudah karena harus didukung dengan tenaga-tenaga ahli yang berpengalaman dan mempunyai latar belakang dalam perikanan tuna. Kemudian setiap industri harus mengikuti quota aturan lembaga perlindungan tuna FAO yang harus melaporkan jumlah ikan tuna yang dijual ke pasar internasional.

Selain itu biaya pembuatan pontoon (jaring apung), penyediaan kapal penangkap benih ikan tuna, tersedianya tenaga ahli penangkapan ikan tuna dan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana mengoperasikan suatu kegiatan budidaya tuna di laut lepas.

Agus Kurnia, Doktor pada Tokyo University of Marine Science and Technology. Staf Pengajar pada Universitas Haluoleo, Kendari.  E-mail : fatmi_70 at yahoo.com


  Diskusi (percobaan)
dibaca 4019 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy