Kamis, 24 Juli 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2801030
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 9 pengunjung online
Hari ini 3926 pengunjung
Kemarin 4433 pengunjung

Rabu, 22 Agustus 2007 10:03:06
Catatan Perjalanan

Mengunjungi kota Rotterdam, Belanda, membawa saya untuk melihat dari dekat Erasmusbrug atau Jembatan Erasmus si tengaran kota di Sungai Nieuw Maas. Setibanya di lokasi, saya dan tiga orang rekan Indonesia menemukan sebuah rute perjalanan yang luar biasa, berpesiar di Sungai Nieuw Maas dengan kapal pesiar Spido. Perjalanan kali ini tampaknya cukup nyaman dengan mulai menghangatnya udara serta cerahnya cuaca di akhir musim semi.

Jembatan Erasmus adalah jembatan terakhir yang menyeberangi di Sungai Niew Maas sebelum akhirnya sungai ini bermuara di Laut Utara. Jembatan kabel tarik (cable stayed) sepanjang 808 meter ini terlihat seksi namun juga kokoh dengan lekuk pilonnya yang menyerupai leher angsa. Salah satu segmen jembatan bisa diangkat untuk memberi jalan ketika ada perahu layar tinggi yang melewatinya. Di atas jembatan ini terdapat jalur dua arah bagi pejalan kaki, sepeda, kendaraan bermotor, dan trem. Dari jembatan ini kita dapat melihat beragam aktivitas sungai dan juga bentuk-bentuk  bangunan pencakar langit, permukiman, serta promenade yang semuanya didesain dan ditata dengan apik. Lingkungan sekitar jembatan ini sungguh tempat yang cocok untuk hunting foto sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal pesiar. 

Puas mengabadikan Jembatan Erasmus, kami meneruskan perjalanan sungai dengan menaiki kapal pesiar Spido yang bernama Marcopolo. Paket perjalanan yang kami tempuh adalah tur pelabuhan yang durasinya sekitar satu setengah jam. Ada juga paket perjalanan lain dengan durasi dua setengah dan tujuh jam pada jadwal yang berbeda. Setiba di kapal kami langsung memilih posisi di geladak demi memuaskan hasrat menikmati dan mengabadikan pemandangan yang ada. Ternyata disini angin bertiup cukup kencang dan dingin, sehingga kami pun harus rela menahan dingin dalam balutan jaket tebal. Kapal ini menyediakan peta jalur pesiar di setiap meja juga headphone yang memperdengarkan pejelasan dari objek-objek yang dilihat di sepanjang perjalanan.

Tidak jauh dari Jembatan Erasmus, objek pertama yang terlihat adalah deretan restoran terapung di tepi sungai dan juga menara Euromast. Di sebelah Euromast terdapat bangunan menyerupai potongan benteng pertahanan perang. Di bawah bangunan ini ternyata terdapat terowongan untuk kendaraan bermotor yang menyeberangi Sungai Nieuw Maas di bawah tanah. Pemandangan yang tampak selanjutnya adalah daerah hijau diselingi fasilitas industri dan pergudangan di sepanjang tepi sungai.

Mendekati daerah pelabuhan, mulai tampak dok tempat pembuatan dan perbaikan kapal. Memasuki kawasan Pelabuhan Rotterdam, aktivitas bongkar muat peti kemas tidak terlihat ramai. Rupanya kami mengunjungi pelabuhan ini di hari libur sehingga suasana pun tampak lengang. Pelabuhan Rotterdam merupakan pelabuhan terbesar di Eropa. Dari sini, distribusi barang ke negara eropa lainnya diteruskan melalui kanal-kanal yang tersebar melintasi Belanda ke arah timur.

Dari pelabuhan, kapal Marcopolo kembali ke pusat kota, menyusuri daerah tepian air di sekitar hotel New York tidak jauh dari Jembatan Erasmus. Hotel New York merupakan salah satu bangunan antik dari abad 19. Keberadaannya memperkaya khasanah arsitektur klasik disini sekaligus juga menunjukkan bahwa Rotterdam telah ratusan tahun menjadi kota pelabuhan internasional. Tanpa terasa satu setengah jam berlalu dan perjalanan pesiar sungai pun berakhir.

Setelah berlabuh, kami menyantap makan siang di bangku taman promenade sambil mengamati lalu-lintas sungai ditemani semilir angin dingin segar dan burung-burung yang beterbangan kesana-kemari. Di sepanjang promenade ini disediakan jalur pejalan kaki yang aman dan juga taman-taman tempat melepas lelah yang nyaman. Di sini juga terdapat beberapa restoran terapung yang menyajikan hidangan khas berkelas dengan menu eropa dan oriental. Usai santap siang dan mengumpulkan tenaga, kami lanjutkan langkah kaki menyusuri tepian sungai menuju menara Euromast yang jaraknya sekitar satu kilometer dari Jembatan Erasmus. Dalam perjalanan ini kami menemukan sebuah hkomplek perumahan terapungh, yakni tempat berlabuhnya perahu layar bermesin yang merupakan rumah tinggal bagi sebagian kecil orang Belanda.

Puncak menara Euromast yang tingginya 185 meter menjadi orientasi tujuan penyusuran kami. Menara ini dikelilingi taman kota yang asri dengan hamparan rumput hijau dan pohon-pohon besar yang rindang. Di hari yang cerah ini banyak warga kota yang berjemur, bermain bola, duduk-duduk, atau sekedar berkeliling dengan binatang peliharaannya di taman ini. Sesampainya di menara Euromast, kami naik menuju lobby panorama, dan terus naik lagi ke dek pengamatan menggunakan lift kaca yang berputar. Pemandangan kota Rotterdam di berbagai penjuru terlihat jelas disini. Decak kagum yang diikuti bidikan kamera menjadi aktivitas utama kami melihat beragam suasana kota, mulai dari padatnya bangunan bertingkat menjejali kota hingga aktivitas kapal barang di kanal transfer yang akan melewati kanal berikutnya dengan ketinggian air yang berbeda.

Yang menarik dari puncak menara Euromast adalah terlihatnya keteraturan dalam penataan dan pembangunan kota. Di satu sisi terlihat pengelompokan bangunan bertingkat untuk kegiatan komersial, perkantoran, dan perumahan. Di sisi lain, juga terdapat pelataran publik, jalur sepeda dan pejalan kaki, taman lingkungan, serta taman kota menyatu diantara bangunan-bangunan tersebut.

Sungguh suatu perjalanan yang menyenangkan sekaligus juga melelahkan yang akan selalu terekam dalam ingatan dan juga dalam kartu memori kamera digital.

AMIN BUDIARJO
GIS Specialist and Urban Planner- PT. Lippo Karawaci Tbk.

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo (semua foto)

Pemandangan daerah tepian sungai Nieuw Maas di sekitar Jembatan Erasmus dilihat dari Menara Euromast.



Pemandangan Jembatan Erasmus dan bangunan pencakar langit di sekitarnya dilihat dari kapal pesiar Spido Marco Polo.



Suasana Pelabuhan Rotterdam yang tampak lengang di hari libur. Pelabuhan di mulut sungai Nieuw Maas ini merupakan pelabuhan terbesar di Eropa dan terbesar kedua di dunia.



Salah satu sudut tepian air yang dimanfaatkan sebagai pelabuhan perahu layar bermesin milik pribadi. Sebagian besar perahu ini merupakan rumah tinggal pemiiknya.



Pemandangan tepian sungai Nieuw Maas dilihat dari Jembatan Erasmus. Di sebelah kiri tampak kanal menuju ke tengah kota. Di sebelah kanan adalah pulau yang terdapat di tengah sungai yang dimanfaatkan untuk permukiman. Pada latar belakang tampak Jembatan Willems.



Salah satu dok untuk pembuatan dan perawatan kapal di dekat pelabuhan Rotterdam.



Dermaga Spido yang letaknya di sebelah Jembatan Erasmus. Dermaga ini dapat dicapai dengan menggunakan bus ataupun trem dari stasiun dan terminal pusat Roterdam. Di sebelah dermaga ini terdapat taman promenade yang merupakan tempat yang nyaman untuk menikmati suasana kota dan sungai.


  Diskusi (percobaan)
dibaca 3009 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy