Kamis, 28 Agustus 2008 .


ISTECS
Buku Serba Serbi Energi
pmc
The Best Intenet Tools
Jumlah pengunjung : 2937444
sejak 27 Mei 2005
Saat ini ada 18 pengunjung online
Hari ini 2669 pengunjung
Kemarin 5548 pengunjung

Selasa, 15 Juli 2008 06:00:52
Iptek Indonesia

Anda kenal bukan, dengan nama-nama "cantik" seperti La Nina dan El Nino? Namun kita tidak sedang membicarakan dua nama artis cantik, tapi dua nama fenomena alam yang sering terjadi di muka bumi ini. Lalu, adakah pengaruhnya terhadap pola kemarau di Indonesia? Mari kita ikuti pembahasannya di bagian kedua ini.

5. Dipole Mode

Seperti diterangkan sebelumnya, Dipole Mode merupakan perilaku suhu permulaaan laut yang terjadi di Samudra Hindia. Besarnya Dipole Mode dinyatakan dengan Dipole Mode Index (DMI). Indeks ini dihitung dengan membandingkan suhu permukaan laut (SST) yang terjadi di Samudra Hindia sebelah timur dan barat. DMI positif bila Samudra Hindia barat suhunya menaik, sementara suhu di bagian timur (dekat Sumatra) justru menurun. Sedangkan DMI negatif menunjukkan keadaan sebaliknya.

Dari Gambar 7 dapat diketahui bahwa DMI positif selama Bulan Juni (nilainya antara 0.4-0.8). Artinya, di bagian timur Samudra Hindia (dekat Sumatra) terjadi pendinginan suhu permukaan laut dan sebaliknya pemanasan terjadi di Samudra Hindia barat. Akibatnya, uap air yang dibawa oleh monsun timur di wilayah Indonesia akan tersedot ke barat Samudra Hindia. Karena itu, sebagian Sumatra dan Jawa Barat akan lebih kering dibandingkan wilayah lain di Indonesia.      

 
Gambar 7 Indeks Dipole Mode di Lautan India dari pengamatan menggunakan Reynold OLV2 (www.jamstec.go.jp)

Kemarau Basah Karena La Nina

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai El Nino dan La Nina, kita perlu memahami pembagian kawasan Nino di Samudra Pasifik. Pembagian kawasan Nino tampak pada Gambar 8.

 
Gambar 8 Pembagian kawasan Nino 4, Nino 3.4, Nino 3, Nino 1+2.
(http://www.cpc.ncep.noaa.gov)

Pembagian kawasan Nino ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian jangka panjang para ilmuwan mengenai kondisi El Nino dan SST di Samudra Pasifik. Menurut penelitian tersebut pula, disimpulkan bahwa Nino 3.4 merupakan kawasan yang paling dominan berperan membangkitkan El Nino. Sehingga, nilai anomali SST dan indeks El Nino di kawasan Nino 3.4 sangat penting untuk diketahui.  

Nilai anomali SST di kawasan Nino 3.4 terlihat pada Gambar 8. Tampak bahwa nilai anomali SST di kawasan Nino 3.4 pada Bulan Juni masih negatif, sekitar -0.5. Anomali SST negatif ini menunjukkan bahwa SST di kawasan itu tidak mengalami kenaikan. Dengan kata lain, suhu permukaan laut di sana lebih dingin dari suhu normal (data jangka panjang 30 tahun).

Lantas apa kaitannya dengan kekeringan di Indonesia? Jelas, jika suhu laut di kawasan Nino 3.4 mengalami kenaikan maka Indonesia akan mengalami kekeringan yang cukup parah. Sebaliknya, jika suhu laut di kawasan tersebut berada di bawah normal, maka angin yang terjadi di Indonesia masih bersifat basah. Sehingga, kemungkinan hujan masih akan turun di Indonesia pada musim kemarau. 

 
Gambar 9 Anomali SST di Nino 4, Nino 3.4, Nino 3, Nino 1+2.
(http://www.cpc.ncep.noaa.gov)
   
Agar lebih jelas, mari kita amati data anomali SST yang lebih panjang di kawasan Nino 3.4 seperti pada Gambar 9. Tampak anomali SST sejak tahun 1950 hingga tahun 2008 di gambar tersebut. Jika anomali bernilai positif di atas 1, maka terjadilah El Nino. Sementara itu, anomali yang bernilai kurang dari negatif 1, menunjukkan terjadinya La Nina.

 
Gambar 10 Indeks El Nino dan La Nina dari tahun 1950-2008  (http://www.cpc.ncep.noaa.gov).
   
Terlihat bahwa pada tahun 2007 hingga 2008 (Juni), anomali SST mengalami penurunan dari 0 hingga -1.5. Penurunan nilai anomali SST ini menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2007 hingga 2008, terjadi La Nina yang cukup kuat. La Nina ini di Bulan Juni 2008 masih berlangsung meski makin mengecil dan bergerak mendekati kondisi netral (lihat Gambar 10). Disebut pula sebagai La Nina lemah.

Data mengenai La Nina yang melemah ini juga diperkuat oleh data pada Gambar 11 yang menunjukkan indeks El Nino dan indeks La Nina. Indeks El Nino diwakili oleh grafik merah, indeks La Nina diperlihatkan oleh grafik berwarna biru. Pada tahun 2008, nilai indeks La Nina positif 1 menuju nol, sementara indeks El Nino negatif 1 dan menurun.


Gambar 11 Indeks El Nino, La Nina, ESPI dari tahun 1979-2008.
(http://trmm.gsfc.nasa.gov)

Simpulan

Musim kemarau di Indonesia tahun ini bersifat basah karena terjadinya La Nina di Samudra Pasifik khatulistiwa (Equatorial Pacific Ocean) meskipun di wilayah barat cenderung lebih kering dibandingkan wilayah tengah dan timur.

La Nina adalah istilah yang menunjukkan terjadinya penurunan suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature) yang tidak biasa (di bawah normal) di Samudra Pasifik. Sejak Februari 2008, La Nina cenderung melemah mendekati kondisi netral. Selama Juni, nilai indeks La Nina sekitar -1 (nilai normal adalah -0.5 sampai 0). Menurut prediksi model, La Nina menuju normal ini akan terus berlangsung hingga Agustus. Sementara kemarau di Indonesia kemungkinan akan mencapai puncak di Bulan September.

La Nina yang terjadi di Pasifik Timur ini tentu saja mempengaruhi negara-negara di khatulistiwa yang terletak di sebelah barat Pasifik, termasuk Indonesia. Secara umum, La Nina akan mempengaruhi kondisi angin yang terbentuk di atas Pasifik. Angin tersebut bersifat basah karena membawa serta banyak uap air, akibat dari mendinginnya suhu permukaan laut di bawahnya.

Artinya, pembentukan awan di daerah tropis sekitar khatulistiwa masih akan sering terjadi. Dengan demikian, di Indonesia, hujan kemungkinan masih akan terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini.

Musim kemarau juga akan dipengaruhi oleh Dipole Mode yang positif. Dipole Mode Positif menunjukkan bahwa di Samudra Hindia bagian timur terjadi pendinginan sementara di bagian barat mengalami pemanasan. Dipole Mode positif ini telah berlangsung sejak Bulan Mei.

Kombinasi antara monsun, La Nina, Dipole Mode, akan membentuk pola musim kemarau tahun ini. Terjadinya Dipole Mode yang positif di Samudra Hindia mengakibatkan Indonesia di bagian barat lebih kering daripada wilayah lainnya. Indonesia bagian timur akan sedikit lebih basah karena pengaruh La Nina. Sedangkan Indonesia bagian tengah akan mengalami musim kering yang normal.

Bacaan

1. ENSO Cycle: Recent Evolution, Current Status and Predictions, Climate Prediction Center  NCEP, 23 Juni 2008.
2. Impact of the Indian Ocean Dipole on the Southern Oscillation, Swadhin K. Behera1 and Toshio Yamagata1,2, 27 Juni 2001.
3. Muncul Gejala Awal Terjadi Dipole Mode, Kompas, 2 Juli 2008.

*) Penulis adalah (Pembantu) Peneliti Bidang Pemodelan Iklim
Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung
 

  Diskusi (percobaan)
dibaca 840 kali


BERITA SEBELUMNYA
PERSPEKTIF
Senin, 26 Mei 2008
Jalan Licin Paradigma Keamanan Alternatif: Keamanan Manusia dan Pembajakan Wacana
oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Dalam kolom perspektif di situs ini (April 2008), Heru Susetyo mengajukan gagasannya mengenai perlunya paradigma keamanan yang tidak hanya berpusat pada keamanan militer dan teritorial saja. Ia merujuk pada paradigma keamanan komprehensif yang bertumpu pada keamanan manusia (human security). Menurutnya, keamanan manusia (human security) menjadi pilihan karena konsep ini secara komprehensif mampu menjembatani kepentingan keamanan antara kepentingan keamanan militer dengan keamanan ekonomi, pangan, energi, pribadi, politik, komunitas, dan keamanan lingkungan. Fakta bahwa berbagai ancaman yang menganggu stabilitas dan integrasi nasional kini lebih banyak berasal dari dalam negeri dengan sebab-sebab yang tak melulu kemiliteran membuat argumentasi ini terasa kuat. ...selengkapnya

Pegiat Komunitas Aset Bangsa. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Kyoto-Shiga. Bersama dengan para peneliti Jepang yang peduli Indonesia di Kyoto dan sekitarnya, saat ini tengah merintis FOSBIK (Forum Studi Berita Indonesia di Kyoto) yang diharapkan akan menjadi embrio bagi pusat kajian Indonesia di Jepang. Alumni Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI ini kini sedang melanjutkan studi di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Kyoto. Bidang yang didalami adalah isu-isu strategis dan keamanan kontemporer, terorisme, hubungan Utara-Selatan, hubungan Islam-Barat, sejarah poskolonial, ekonomi politik, hak asasi manusia, dan global governance.
Arsip lalu
       
Copyright © 2005 beritaiptek.com All text, graphics and pictures contained in the pages of the BeritaIptek.com are copyright 2004 by ISTECS.
Any reprinting, reuse or rebroadcast by any person without the express written permission of ISTECS is prohibited. © Copyright Policy